Pasar Gedhe Pasar Pandangan/Ndang Gage Selak Konangan/Temen Sigarane, Ndang Gage Mumpung Gak Ana Bojone
SYAIR (cakepan) jenaka para penari Orek-orek tersebut, memancing senyum dan tawa penonton. Ditingkahi gerakan penarinya, diiringi gendhing Geculan dengan laras slendro pathet sanga, atmosfer riang gembira pun membuncah di sekeliling panggung.Sejumlah penonton nampak ''panas'' untuk membalas cakepan tersebut.
Bagi masyarakat Rembang, terutama di kalangan masyakarat pedesaan, Orek-orek dianggap sebagai ''takaran garam yang pas di panci sayuran''. Sebuah hajatan, baik sunatan/khitanan, pernikahan maupun syukuran desa, serasa hambar bila tidak menampilkan Orek-orek.
Lebih indah lagi, masyarakat Rembang bisa dengan legawa menerima sentilan-sentilan itu dengan senyum dan tawa.
''Entah bagaimana, mungkin itu sifat blak-blakan masyarakat Rembang. Hal-hal yang berkonotasi negatif, bukanlah sebuah hal yang tabu untuk diangkat. Masyarakat Rembang menyadari, apa yang diucapkan oleh penari Orek-orek tersebut benar-benar nyata dan ada di semua kalangan masyarakat,'' papar Purwono, salah satu seniman tari Rembang, yang juga menjadi peneliti Orek-orek.
Nampaknya, setelah diimpit tuntutan hidup di laut yang begitu keras, suasana yang dibangun oleh tari itu seperti dirasakan sebagai sebuah pelepasan dari rutinitas hidup.
Orek-orek sebenarnya bukanlah kesenian asli dari Rembang. Tari itu merupakan ''pendatang'' yang dibawa dari daerah Ngawi (Jatim) dan sekitarnya oleh barangan (semacam pengamen) dari Blora pimpinan almarhum Mardjan pada 1960. Kelompok kesenian almarhum Mardjan itu, secara rutin berkeliling ke berbagai daerah di eks Karesidenan Pati.
''Rombongan itu akhirnya menetap dan menyebar di seluruh wilayah Rembang untuk mengajarkan Orek-orek kepada masyarakat,'' jelas guru tari di Sanggar Galuh Ajeng itu.
Setelah hampir setengah abad Orek-orek menyatu dengan kehidupan masyarakat, sejumlah seniman merasa perlu untuk melakukan deformasi dan rekonstruksi tarian tanpa mengubah esensi hiburannya. Sejumlah seniman mapan, perlahan-lahan mencoba mengubah Orek-orek dengan syair-syair yang lebih mendidik.
Mlaku dhisik rak ngenteni, digawe becik ra niteni/ Ja ngono-ja ngono/ rek orek montore mabur/ Piye-piye rek orek montore mabur/ Jo ngenyek wong lagi kojur
Usaha seniman Rembang untuk mengubah bagian syair dan gerak itu terbilang cukup berani dan spekulatif. Pasalnya, banyak bentuk-bentuk kesenian yang diubah malahan menjadi monoton dan kemudian ditinggalkan oleh masyarakat.
Untungnya, hingga saat ini kesenian tersebut tidak bernasib seperti itu. Apapun perubahannya, masyarakat Rembang masih memiliki antusiasme terhadap kersenian itu. Paling tidak, setiap diadakan lomba Orek-orek antarwarga dari tingkatan RT hingga kabupaten, antusiasme itu terlihat jelas.
Nampaknya, kehadiran Orek-orek cukup untuk menggantikan materi dan sarana hiburan, seperti bioskop dan bentuk hiburan lain. (Mulyanto Ari Wibowo-52a)
sumber Suara Merdeka, 31 Mei 2005


0 comments:
Posting Komentar