Headlines News :
Home » , , » Ketika Puisi dan Karawitan Bertemu di Pinggir Hutan

Ketika Puisi dan Karawitan Bertemu di Pinggir Hutan

Written By Batik Doodle on Selasa, 29 November 2011 | 22.05


Pentas Komunitas Kethek Ogleng

Jumat (25/11) malam bangunan kayu berukuran sekitar 10 x 7 meter di pinggir hutan yang biasa dipakai untuk tempat berkumpul pegawai Perhutani itu terlihat ramai dari biasanya. Tua muda, pensiunan hingga siswa SMK Negeri Sale duduk bersila di hamparan terpal plastik. Setelah prakata selamat datang dari tuan rumah Asisten Perhutani KPH Mantingan Sale Suyanto, beberapa pria dan perempuan setengah baya mulai menabuh gamelan yang berada di salah satu sudut ruangan.
80-an orang dari sejumlah komunitas di Rembang, Lasem, Kaliori, Sumber bahkan Jatirogo Tuban dan Bojonegoro yang duduk bersila langsung hanyut oleh tembang pembuka Sinom Parijatha berlaraskan slendro yang dibawakan oleh perkumpulan karawitan Citro Nuswantoro yang dipimpin mantri BKPH Tuder Untoro dan Winardi.
Usai tembang pembuka usai, pentas bertajuk Kethek Ogleng Baca Puisi ke 9 kolaborasi puisi dan karawitan itu dimulai. Satu per satu pemuda dari sejumlah komunitas di Rembang dan siswa SMK Negeri Sale yang tergabung di Komunitas Kethek Ogleng unjuk diri di tengah ruangan untuk membacakan puisi di sela-sela tabuhan gamelan.
Tejo Bejo, pengiat Komunitas Warung Sosial membuka pentas dengan puisi gubahannya ''Kenapa Indonesia''. Puisi satir itu sendiri mempertanyakan begitu banyak kepalsuan yang terjadi di hidup negara Indonesia. '' Ternyata kejujuran tak lagi penting dan dipentingkan. Kasihan kau Indonesia,'' kata dia.
Begitu Tejo Bejo undur diri, Amien Prop maju ke tengah kalangan membacakan puisi ''Asthabratha'' karya Rini Tri Puspohardini. Puisi itu sendiri menceritakan tentang hilangnya delapan watak kepemimpinan yang dipercayai manusia Jawa dalam kehidupan saat ini.
Apresiasi
Setelah Komunitas Rembang, giliran dua penyair asal Sale Gambuh R Basedo dan Andi Lala dan dua siswi kelas XI jurusan multimedia SMK Negeri Sale Herlinda dan Lia secara spontan membawakan masing-masing satu puisi karya mereka. Seusai penyair perempuan asal Desa Pacing Kecamatan Sedan Titian ''Maya'' Memey membawakan puisinya yang berjudul Mimpi Bertemu Ular, gelaran sederhana antara pengiat seni Komunitas Kethek Ogleng dengan pengrawit Sale ditutup pukul 23:30 itu dengan gending ''Pamitan'' karya Gesang.
Selain baca puisi dan gending, di acara tersebut juga digelar diskusi kecil antara anggota Komunitas Kethek Ogleng dengan Kelompok Karawitan Citro Nuswantoro. Winardi, Ketua Perkumpulan Karawitan Citro Nuswantoro mengaku memberikan apresiasi untuk pentas sederhana di Aula Asperan Sale Jumat malam. Dia mengatakan pertemuan antara penyair dan pengrawit di Sale itu juga diharapkan bisa berkelanjutan untuk memperluas jejaring kesenian di Rembang dan sekitarnya. ''Kami berharap ke depan bisa berkolaborasi lagi dengan bentuk kesenian kontemporer entah itu puisi ataupun teater. Bila ingin berlatih, silahkan datang ke Asperan Sale. Kami sangat terbuka khusunya kepada para pemuda,'' terang dia.
Allief Zam Billah, pengiat Komunitas Kethek Ogleng mengatakan akan senantiasa menjalin silaturahmi dengan seniman-seniman desa. Dia mengaku banyak sekali seniman-seniman desa yang memiliki karya bagus namun jarang diketahui khusunya oleh generasi muda. ''Seperti mbah Pranoto yang memegang siter malam ini. Ternyata mbah Pran memiliki puluhan karya gending maupun syair yang dibukukan dengan rapi. Ini bisa menjadi penyemangat bagi anak muda seperti kami untuk terus berkarya,'' terang dia sembari menambahkan kolaborasi antara puisi dan gamelan Jumat malam akan semakin memperkaya wawasan kepada pengiat kesenian Rembang. (Mulyanto Ari Wibowo)
pernah dimuat di Suara Merdeka halaman Suara Muria 28 November 2011
Share this article :

0 comments:

Posting Komentar

 
Powered by : Day Milovich | SuaraRembang.net
Copyright © 2012. Omah Rembang - All Rights Reserved
Modified by Day Milovich
Proudly powered by Blogger