Headlines News :

Latest Post

Day Milovich: Begini Caranya Agar Status Facebook Menjadi Postingan di Blog

Written By Day Milovich on Senin, 20 Agustus 2012 | 05.06

Day Milovich: Begini Caranya Agar Status Facebook Menjadi Postingan di Blog
Bisakah setiap menulis status Facebook langsung menjadi postingan di Blogspot? Bisa. Gunakan IFTTT. IFTTT bisa menjalankan secara otomatis proses backup setiap Anda menulis status Facebook ke email Gmail. Proses berikutnya, Anda hanya perlu membuat filter yang mem-forward email dengan subject yang telah ditentukan dari IFTTT ke email posting Blogger. Artikel ini menjelaskan IFTTT dan cara agar status Facebook menjadi postingan di Blog.

Beraksi

Written By Unknown on Jumat, 20 Juli 2012 | 05.14

Beraksi, mixed media, 190 x 145 cm, karya abdul chamim, 2012

Seni Untuk Membangun Kebersamaan Antar Komunitas

Written By Batik Doodle on Selasa, 26 Juni 2012 | 04.14


Pentas Kethek Ogleng #16

Dengan membawa kertas koran, tiga perempuan itu satu per satu meliuk-liuk ke seputaran pentas sekitar tiga menit. Kemudian ketiga perempuan itu berdiri mematung dengan posisi separuh tubuh tertutup kertas koran yang dibentangkan. Seorang perempuan lain masuk ke atas pentas. Mengambil selembar kertas koran dan membacanya ditengah pentas. Seorang lelaki dengan kaki sebelah diseret kemudian menyusul masuk ke pentas. Setelah melihat sekeliling, direbutnya kertas koran yang tengah dibaca oleh perempuan yang berada di tengah pentas. Terjadi perebutan kertas koran. Saat kertas koran tersobek, perempuan yang membaca koran dan lelaki itu sama-sama terjatuh. Seorang perempuan lain masuk ke pentas dengan menari. Tangannya mempermainkan lilin yang terus dipegangnya. Kemudian dihampirinya perempuan dan lelaki yang terkapar setelah berebut koran. Dibakarnya koran yang tengah dibawa oleh perempuan dan lelaki itu. Api membesar membakar koran yang ada di genggaman.
Begitulah pentas Republik Koran yang digeber Komunitas Garam Dapur Kaliori saat Kethek Ogleng#16 di Pendopo eks Kawedanan Sulang Sabtu malam. Komunitas yang beranggotkan Siti Mutmainah, Siti Kadarwati, Mustafiin, Nana Najiah, Singgih Purnomo, Nur Kartika dan Veri itu mengaku performance Republik Koran merupakan upaya untuk memotret betapa pemberitaan menjadi rebutan oleh sejumlah pihak. Sementara masyarakat menjadi kebingungan dengan berita demi berita yang berkembang sangat cepat. ''Butuh kedewasaan dan pemikiran yang jernih terkait setiap informasi yang beredar di masyarakat saat ini. Itu pesan yang ingin kami sampaikan melalui performance ini,'' kata Nana.
Perenungan
Pentas mini yang penuh dengan gerak tersebut tak urung membuat terpana sejumlah komunitas lain yang hadir. ''Kami tidak menyangka. Komunitas Garam Dapur yang baru berdiri sebulan terakhir sudah memiliki ide dan perfomance yang menarik untuk direnungkan,''kata Yon Suprayoga, pengiat Laesan Lasem.
Selain Komunitas Garam Dapur, pentas bulanan antar komunitas Rembang itu juga menampilkan pembacaan puisi oleh Yudhi Yarcho (Jepara), Mukhtarom Ahmad (Sulang), Beny Xp (Pamotan), Bodhi Pop dan Azis (Rembang), Galih Pandu Adi (Semarang) serta penyair cilik asal SD Jatisari Sluke Asa.
Mukhtarom sebelum membacakan puisi mengatakan semangat berkesenian secara independen yang tak kenal lelah digelar oleh antar komunitas di Rembang merupakan angin segar yang pantas diapresiasi. Dia juga mengibaratkan kegiatan bulanan yang digelar antar komunitas hingga memasuki bulan ke 16 berturut-turut seperti burung pipit yang tetap bahagia meski hanya berumah di sebuah dahan yang kecil. ''Kebersamaan yang dibangun antar komunitas ini saya yakin akan terus berkembang dan memberi warna bagi Rembang pada waktu mendatang,'' kata dia (Mulyanto Ari Wibowo)

pernah di muat di Suara Merdeka Suara Muria cetak 26 Juni 2012

'Mencuri' Wahyu Makutha Rama

Written By Zamroni Allief Billah on Minggu, 03 Juni 2012 | 20.12




Mendengar 'Dhalange Rembang' Ki Sigid akan pentas di Jatirogo membuat para 'punakawan' (fans) Dhalang Sigid yang di Sale umyeg. Pasalnya baru sore itu mendapatkan khabar bahwa malam nanti Dhalang Sigid akan membawakan lakon 'Wahyu Makutha Rama'. Terbetik dalam hati untuk ikut 'Mencuri' wahyu tersebut.

Tersiar khabar bahwa Arjuna pergi meninggalkan kerajaan. Berbagai penafsiran muncul atas kepergian Arjuna terlebih di pihak Kurawa. Terlebih dalam pisowanan tersebut Duryudana menyampaikan bahwa dia telah mendapatkan sasmita bahwa Dewata akan menurunkan Wahyu Makutha Rama. Tidak ingin kecolongan dengan Arjuna, maka atas saran Durna dipanggillah Narpati Awangga, Basusena untuk dikirim mencari wahyu suci yang kabarnya akan diturunkan di gunung Kutharunggu.

Durna menerangkan, Wahyu adalah kanugrahan dari Tuhan berupa harta benda, pangkat atau kemuliaan. Untuk mendapatkan wahyu tidak bisa tidak kecuali dengan jalan berungguh-sungguh. Mendekatkan diri pada sang Kuasa dengan tirakat dan tapa bhrata. Bila jalan itu ditempuhnya maka hilanglah nilai dirinya. Tidak lagi dia merasakan kecuali keagungan Tuhan. Sehingga tidak setiap orang mampu memperoleh wahyu kecuali dengan jalan dan kesungguhan. Tulus ihlas tanpa mengharapkan hingga bagi penerima wahyu dia sendiri acap kali tidak merasai. Kesempurnaan dalam pasrah serta luhurnya pekerti dalam menghargai sesama adalah wujud wahyu yang telah merasuk dalam lakunya.

Basukarna menghadapa Duryudana dan menyatakan siap dikirim sebagai utusan. Akan tetapi ada satu syarat yang diajukan kepada Raja Astina tersebut.
"Saya siap berangkat tapi tidak dengan pengawalan dari bala kurawa. Untuk mendapatkan wahyu bukan hal yang mudah dan daya juang kurawa sangat lemah. Saya hanya memerlukan pasukan yang kuat lahir dan bathin. Siap menghadapi tantangan dan tidak mudah menyerah," pintanya pada Duryudana.

Permintaan dikabulkan dan Basukarna segera berangkat menuju 'Wukir Kutharunggu' bersama sepasukan dari Awangga. Bagi Basukarna perjalanan mencari wahyu adalah pelajaran hidup yang tinggi. Tidak ada kata menolak untuk memperoleh kanugerahan perjalan penuh pelajaran tersebut. Dia tidak mau melewatkan perjalanan itu kecuali dengan para prajuritnya. Orang-orang terkasih yang akan bersamanya mencari pelajaran tertinggi sepanjang perjalanan nanti.

Secara pribadi, Narpati Awangga (Basukarna) tidak pernah peduli akan memperoleh wahyu tersebut atau tidak. Karena baginya Wahyu adalah hak dewata yang akan diberikan kepada mereka yang pantas mendapatkannya. Hanya demi kepantasan tersebutlah dia bersama orang-orang terkasihnya melakukan perjalanan suci. Bukan nilai akhir akan tetapi begitu menikmati tahapan demi tahapan proses perjalanan menuju wahyu tersebut. Dengan bersungguh dan tidak ada kata menyerah baginya. Sekali berjalan apapun rintangan akan dihadapinya biarpun nyawa taruhannya.

Sampai di Gunung Kutharunggu Basukarna dihadang Anoman. Anoman sebelumnya mendapat titah dari Begawan Kesawasidhi untuk tidak mebiarkan siapapun mengganggunya. Sang Begawan sedang bertapa di gunung tersebut. Namun Basukarna bersikukuh ingin bertemu Sang Begawan. Terjadilah peperangan di antara keduanya. Seluruh pasukan Karna mampu ditaklukkan Anoman.

Hingga akhirnya sebagai pamungkas dikeluarkanlah pusakan andalan milik Basukarna. Jemparing Kuntawijaya Danu dilesatkan ke dada Anoman. Kekuatan anoman tak tertandingi, Kuntawijaya Danu berhasil ditangkap oleh Anoman saat hendak dilesatkan ke dadanya. Anoman trah dewata dia sadar bahwa padang Kurusetra telah menanti para kusuma bangsa gugur di sana. Basukarna tidak boleh mati kini dan masih ada sejarah yang harus dia torehkan. Pusaka dibawanya dan membiarkan Karna tetap hidup.

"Kekalahan adalah manakala aku berpulang tersia. Aku bersumpah akan tetap meniti perjalanan ini hingga wahyu berhasil kugapai ," Basukarna tidak menyerah dengan kekalahan perang tanding dengan Anoman. Mencari seribu jalan lain yang masih membentang panjang. Bahwa sebelum wahyu datang dan sebelum ada titah maka haram baginya kembali dengan tangan hampa.

Arjuna masih dalam perjalan bersama punakawan. Semar memberi petunjuk kepada Arjuna perihal Wahyu yang dikejarnya. Wahyu Makutha Rama adalah wahyu ratu, pesan Semar pada Arjuna. Kearifan memimpin dan keadilan dalam menegakkan hukum lengkap terangkum. Maka sempurnalah mereka yang mampu mendapatkannya.Untuk mendapatkan wahyu tersebut, lanjut Semar harus dengan 'Tapa Ngrame'. Berada dalam keramaian dan membaur dengan masyarakt luas. Berilah mereka yang meminta dan bantulah mereka yang membutuhkan. Tanpa pandang bulu dan batasan usia. Kasihilah mereka sebagai saudaramu.

Keempat saudara Wibisana yang merupakan penggambaran dari keempat nafsunya masih berjalan kebingungan. Mencari tempat yang bisa menyempurnakan keempatnya. Sampailah perjalanan mereka berempat pada sebuah gunung. Dilihatnya sinar terang dari gunung tersebut. Setelah didekati ternyata Arjuna sedang bertapa.

Sebelum Wibisana muksa dalam perjalanan spiritualnya bertemu dengan Kumbakarna. Saudaranya itu masih belum sampai pada 'Alam kasuwargan'. Maka Wibisana memerintah saudaranya tersebut untuk mencari manusia yang bisa menyempurnakan perjalan ruhnya. Agar tidak mengawang di alam yang tidak jelas. Begitu juga kepada keempat saudara Wibisana. Diluruhnya Sufiyah, Lawwamah, Amarah, Muthmainnah sebelum menhadap sang pencipta. Terbukalah gerbang-gerbang langit, tabur bunga mengiring perjalanan Wibisana. Sang nata telah muksa.

Arjuna merasa terganggu dengan kehadiran empat sosok tersebut. Ketika hampir kalah maka datanglah dia pada Semar untuk meminta petunjuk. "Bagaimanapun juga itu adalah titah yang harus kau sempurnakan. Jangan pernah menyerah untuk terus melawannya. Tapa Bratamu akan menyempurnakan keempatnya menuju ruang hampa. Nanti akan datang cahaya terang yang menyempurnakan keempatnya menuju alamnya," pesan Semar pada Arjuna. Sempurnalah mereka dalam terang cahaya. Sempurna pula Arjuna dengan perlawananannya dalam Tapa Brata.

Atas kemenangannya melawan Basukarna, Anoman sowan Begawan. Mengahturkan pusaka Kuntawijaya Danu sebagai rampasan.
"Anoman, apa kau telah merasa hebat dengan mampu menguasai pusaka orang lain?. Tidakkah kau tahu kehinaan apa yang dia rasakan saat satu-satunya kehormatannya kau rampas. Pusaka andalan adalah nyawa baginya. Maka bagi satria kematian akan melunaskan kehinaan. Sebagai Begawan kau tak patut membuat orang lain terhina dan kecewa. Sebagai hukuman, pergilah kau untuk melakukan pengorbanan. 'Tapa Ngrame' berikan bantuan mereka yang membutuhkan," Perintah Begawan Kesawasidhi kepada Anoman.

Sampailah perjalanan Arjuna pada puncak gunung Kutharunggu. Arjuna sowan sang Begawan, pertanyakan tentang wahyu yang akan turun di sana. Ada satu syarat yang diajukan Sang Begawan kepada Arjuna. Harus percaya dan yakin pada apa yang akan disampaikan sang Begawan. Arjuna menerima persyaratan tersebut dan tunduk patuh sebagi Murid kepada sang guru bathin. Tak ada sehela nafaspun yang terlewatkan tanpa kepatuhan.

Lalu dibeberlah hasta Bhrata kepada Arjuna:

1. Kapisan bambege surya, tegese sareh ing karsa, derenging pangolah nora daya-daya kasembadan kang sinedya. Prabawane maweh uriping sagung dumadi, samubarang kang kena soroting Hyang Surya nora daya-daya garing. Lakune ngarah-arah, patrape ngirih-irih, pamrihe lamun sarwa sareh nora rekasa denira misesa, ananging uga dadya sarana karaharjaning sagung dumadi.
2. Kapindho hambege candra yaiku rembulan, tegese tansah amadhangi madyaning pepeteng, sunare hangengsemake, lakune bisa amet prana sumehing netya alusing budi anawuraken raras rum sumarambah marang saisining bawana.
3. Katelu hambeging kartika, tegese tansah dadya pepasrening ngantariksa madyaning ratri. Lakune dadya panengeraning mangsa kala, patrape santosa pengkuh nora kengguhan, puguh ing karsa pitaya tanpa samudana, wekasan dadya pandam pandom keblating sagung dumadi.
4. Kaping pate hambeging hima, tegese hanindakake dana wesi asat; adil tumuruningriris, kang akarya subur ngrembakaning tanem tuwuh. Wesi asat tegese lamun wus kurda midana ing guntur wasesa, gebyaring lidhah sayekti minangka pratandha; bilih lamun ala antuk pidana, yen becik antuk nugraha.
5. Kalima ambeging maruta, werdine tansah sumarambah nyrambahi sagung gumelar; lakune titi kang paniti priksa patrape hangrawuhi sakabehing kahanan, ala becik kabeh winengku ing maruta.
6. Kaping nem hambeging dahana, lire pakartine bisa ambrastha sagung dur angkara, nora mawas sanak kadang pawongmitra, anane muhung anjejegaken trusing kukuming nagara.
7. Kasapta hambeging samodra, tegese jembar momot myang kamot, ala becik kabeh kamoting samodra; parandene nora nana kang anabet. Sa-isene maneka warna, sayekti dadya pikukuh hamimbuhi santosa.
8. Kaping wolu hambeging bantala, werdine ila legawa ing driya; mulus agewang hambege para wadul. Danane hanggeganjar myang kawula kang labuh myang hanggulawenthah.

Delapan pitutur luhur dari sang Begawan kepada Arjuna. Harus mampu seperti bumi yang perkasa mengangkat beban yang diemban tanpa keluhan. Berwatak Surya (matahari) yang mampu menerangi jagat raya tanpa pandang bulu. Berwatak Rembulan yang berikan penerangan dalam gelap. Tuntun siapa saja mereka yang kebingungan mencari jalan. Selanjutnya harus mampu berwatak samirana (angin) yang mampu masuk dan membaur kemanapun bahkan hingga tempat tergelap sekalipun.

Sebagai Pemimpin juga harus memiliki watak Jaladri (Samudera) yang memiliki keluasan jiwa untuk menampung apa saja. Baik dan buruk mampu ditampungnya dengan kearifan. Watak air atau tirta yang memberi kehidupan kepada seluruh makhluk. Sebagai pemimpin yang mampu menuntun kehidupan lahir dan bathin dari seluruh bawahannya. Selanjutnya harus mampu berwatak Kartika (Bintang) yang selalu memberikan keindahan pada semesta. Seorang pemimpin harus mampu memberikan rasa nyaman pada bawahan. Yang terakhir sebagai pemimpin harus mampu berwatak Dahana (Api). Memberikan keadilan yang merata pada semuanya.

Terakhir, Begawan Kesawasidhi menitipkan pusaka Kuntawijaya Danu kepada Arjuna untuk diberikan kepada pemiliknya. Tidak samar pada pusaka tersebut, bahwa itu adalah milik saudara tuanya, Karna. Dalam perjalan mencari Basukarna, Arjuna bertemu dengan Bima yang telah mencari berhari-hari. Hendak memastikan keberadaan Arjuna apakah baik-baik saja.

Perjalanan Bima, Sebelumnya bertemu dengan Kumba Karna. Sesuai petunjuk Wibisana maka Kumba Karna berkelana mencari seorang satria yang mampu menyempurnakan kematiannya. Terjadilah peperangan antara Bima dan Kumbakarna. Bima tidak mau membunuh sedang Kumbakarna tetap bersikukuh. Baginya hanya Bima yang mampu menyempurnakannya. Akhirnya Bima berhasil menaklukkan Kumbakarna. Lalu Kumbakarna menyatu dalam tubuh Arjuna. Menjadi kekuatan bagi Bima sebagai bentuk pengabdian terakhirnya pada Dewata.

Bima dan Arjuna, Setelah bertemu keduanya lalu bersama-sama mencari dimanakah Basukarna berada. Hendak mengembalikan pusaka yang telah dititipkan sang Begawan. Setelah bertemu Narpati Awangga, Arjuna menunjukkan bahwa Wahyu yang secara fisik diterimanya adalah berupa jemparing pusaka Kuntawijaya Danu. Sebagaimana pesan sang Begawan maka dihaturkan pusaka tersebut kepada sang pemilik.

Keduanya berpelukan, menyatu sebagai saudara. Wahyu dan perjalanan telah memberinya pelajaran maha tinggi. Meniti masing-masing keyakinan dan kelak akan bertemu dalam perang Bharatayuda. Tugas Kresna sudah lunas, pelajaran telah diterima keduanya dan mereka yang telah meniti perjalanan. Kresna kembali kepada wujud asalnya yang sebelumnya menjadi Begawan Kesawasidhi.

(Disarikan dari Pementasan Dhalang Sigid di Sadang-Jatirogo Tuban. Sabtu malam 02 Juni 2012)

Jejak Misterius Di Bukit Sentana

Written By Zamroni Allief Billah on Rabu, 30 Mei 2012 | 20.12


Lima orang pemuda itu begitu bersemangat berjalan melintasi pematang sawah. Padi mulai menghijau di kaki bukit Sentana Desa Tanjungsari Kecamatan Kragan Kabupaten Rembang. Dulah, Utoro, Roni, Haryanto dan Narendra bergegas mendekati puing-puing bangunan dari bata kuno berukuran sekitar 20 X 40 cm. Menurut sebagian orang, bata tersebut menyerupai batu bata yang ada dalam bangunan candi.

Mbah Kasturi, seorang sesepuh setempat meyakinkan kepada kelima pemuda tersebut bahwa reruntuhan yang menyerupai bangunan belum jadi tersebut adalah makam. Tempat peristirahatan terakhir Layang Seta dan Layang Kumitir. Mereka kalah saat perang melawan Damar Wulan dan di semayamkan di bukit tersebut.

Tak ada yang tersisa kecuali tumpukan bata merah berukuran besar membentuk persegi panjang seukuran 2 X 4 meter. Tinggi tumpukan bata tersebut sekitar satu meter setengah. Di dalam kotak (bangunan) tersebut telah ditumbuhi rerumputan dan ilalang sehingga tidak nampak ada sesuatu apakah yang berada di dalam inti bangunan tersebut.

Mbah Kasturi, pria kelahiran 1934 ini pernah lama menjabat sebagai kepala desa sewaktu muda. Dulu, kata Kasturi bangunan keramat tersebut masih terjaga. Namun setelah dia pensiun, kepala desa berikutnya tak ada lagi yang memetri tempat tersebut.

"Dulu seringkali ada orang luar daerah melakukan ritual di bukit Sentana. Tak jarang mereka bertapa beberapa hari untuk ngalap berkah di tanah keramat tersebut. Satu hal yang tidak saya lupakan makam tersebut tidak mau dibangun dengan bagus. Selalu ada halangan ketika mau dibangun mewah. Semenjak dulu hingga saya memimpin paling banter atapnya memakai ilalang, selalu begitu," terangnya.

Sebuah pantangan yang tidak boleh dilakukan di Desa Tanjungsari adalah seni pertunjukan dengan lakon 'Damar Wulan'. Pernah pada suatu ketika seluruh warga Tanjungsari dibuat kelabakan saat ada pertunjukan wayang golek. Pementasan tersebut sebelum kethoprak mencapai titik keemasan pada puluhan tahun silam.

"Saat itu kethoprak hampir dikatakan belum ada. Maka sebagai wujud syukur dalam sedekah bumi saat itu nanggap wayang dengan lakon Damar Wulan. Saat warga bersuka cita menikmati hiburan pertunjukan tersebut tiba-tiba banjir besar datang dari arah bukit Sentana," kata kasturi mengisahkan.

Warga yang berkerumum buyar sebab banjir besar tersebut. Padahal tidak ada hujan di kawasan tersebut. Namun banjir litu menyerupai ombak laut yang hendak menggulung seluruh desa. Menenggelamkan desa di kaki bukit Sentana sekaligus mengahnyutkan seluruh penduduknya.

Saat penduduk berhamburan, demikian juga pementasan segera dihentikan. Panggung dan para nayaga penabuh gamelan semua sudah basah terendam air. Anehnya saat pertunjukan itu dihentikan, banjir yang seolah dari bukit Sentana itu berangsur surut. Semenjak saat itu lakon Damar Wulan tidak pernah dimainkan di wilayah tersebut.

Wahyu Putro, Grup Kethoprak Cilik Sale

Written By Zamroni Allief Billah on Selasa, 29 Mei 2012 | 17.32



Dinginnya malam musim kemarau tak menyurutkan 300-an warga Sale untuk menikmati seni pertunjukan kethoprak Cilik pada Selasa malam (29/5). Mereka berjejal memadati halaman rumah Juwadi, warga Desa Wonokerto Kecamatan Sale. Kethoprak cilik 'Wahu Putro' menyita perhatian warga saat pentas malam itu dalam acara sunatan Feri, salah satu anggota mereka.

"Feri tak dapat ikut pentas malam ini karena sedang melaksanakan kewajibannya sebagai pengikut rasul. Dia adalah anggota dari grup kethoprak cilik Wahyu Putro. Malam ini kita tidak sekedar tampil menghibur warga tetapi sebagai wujud penghormatan kita satu rombongan kepada Feri yang sedang disunat," ungkap Pujiyono, salah satu guru pembimbing anak-anak Wahyu Putro.

Wahyu Putro beranggotakan para pemain seni pementasan dari Sekolah Dasar (SD) Negeri 2 Wonokerto. Pujiyono mengatakan anak didiknya telah beberapa kali melakukan pementasan. Yang membuatnya bangga adalah antusiame warga dan khususnya dukungan orang tua dari anak-anak yang tergabung dalam grup ketoprak cilik Wahyu Putro.

"Salut sekali kepada orang tua mereka yang telah memberikan dukungan penuh kepada anak-anak. Bisa dibayangkan untuk melakukan satu kali pementasan saja anak-anak harus berlatih dalam waktu yang cukup lama. Untuk jadwal latihan kita pilih waktu siang hingga sore sepulang sekolah. Ke dua puluh tuju anak yang tampil malam ini adalah anak dari kelas satu hingga kelas enam," paparnya.

Dua minggu terakhir mereka berlatih di Sanggar Kethoprak Wahyu Budoyo. Mereka dibina oleh Kodri, pemilik Sanggar sekaligus pemimpin grup Kethoprak Wahyu Budoyo. Di rumah paling ujung Desa Wonokerto tersebut mereka dilatih peran dan pementasan.

"Sebenarnya Kaderisasi pelaku seni tradisi itu tidak ada dan kami tidak pernah lakukan itu. Tetapi kami hanya mewadahi hasrat besar anak-anak dalam memetri kebudayaan jawa ini. Satu kebanggaan bagi saya bisa berbagi sedikit ilmu yang saya punya soal seni peran." kata Kodri merendah.

Anak-anak tersebut lanjut Kodri memiliki potensi yang luar biasa besar. Sayang bila tidak kita beri wadah yang memadai agar hasrat dan bakat mereka berkembang dengan cepat. Anak-anak tidak membutuhkan waktu lama dalam latihan. Hanya perlu waktu bertemu secara rutin minimal seminggu sekali untuk menambah berbagai pengetahuan soal seni peran.

"Semangat mereka adalah semangat bermain. Oleh karenanya kita membuat latihan dan pelajaran seni peran adalah salah satu tempat bermain mereka. Sehingga anak-anak tidak pernah kehilangan waktu bermain namun mendapatkan tambahan pengetahuan perihal hasrat seni mereka," pungkasnya.

''Menyusur Jejak Sejarah Sembari Berkesenian''

Written By Batik Doodle on Rabu, 23 Mei 2012 | 04.00

LAUT di pantai Dusun Nyamplung Desa/Kecamatan Sluke Sabtu (19/5) sore tengah pasang. Ombak dan angin menghempas cukup keras. Cuaca yang kurang bersahabat tidak menghalangi 60-an anak-anak muda dari sejumlah komunitas di Rembang untuk menyusuri pantai berpasir putih itu.
Peserta susur pantai yang digelar dalam rangka event bulanan Kethek Ogleng Baca Puisi #15 itu tak hanya sekedar berjalan. Sesekali mereka berhenti, duduk dalam lingkaran dan saling berdiskusi tentang sejarah pantai itu yang mereka ketahui.
''Di pantai Sluke hingga Kragan, tak hanya menjadi tempat pendaratan Jepang pertama kali. Bahkan diduga di pantai ini menjadi tempat pendaratan pendeta Budha Cina Fa Hien tahun 400-an dan tentara Mongol yang menyerang Kertanegara di tahun 1290-an,'' kata Abdul Chamim, tuan rumah acara dan pemilik Galeri Gentong Miring Sluke.
Memang sulit untuk menemukan bukti-bukti sejarah yang mendukung mitos itu. Terlebih tentang pendeta Budha Fa Hien ataupun tentang Mongol. Hanya saja di sekitar pantai itu terdapat beberapa makam Majapahit yang dinamai makam Sarijati. Puas menyusuri pantai sejauh satu kilometer itu, peserta kembali ke Galeri Gentong Miring saat Maghrib menjelang.
Setelah istirahat sejenak, acara temu komunitas itu dilanjutkan dengan pementasan seni sekitar pukul 19:00. Anak-anak Teater Ataru SMA Negeri II Rembang membuka pentas dengan performance art berjudul ''Bangsaku hilang, Negaraku hilang'' arahan Meylani. Meylani mengaku performance itu terinspirasi dari diskusi bersama yang digelar selama susur pantai Sluke.
Selanjutnya mengalir pementas lain seperti Roni dan Imroatul Khasanah dari SMK Kehutanan Sale, Fathur dari Ambon, Ipank Baihaqi dari Semarang, Sanggar Gong Art Ngulahan Sedan, Tian May dari Pacing Sedan dan Nabila dari Tuban membawakan puisi maupun performance art.
Bedah Buku
Malam itu, pentas semakin gayeng ketika penyair asal Kupang Nusa Tenggara Timur Ragil Supriyanto yang pada Sabtu siang menggelar bedah buku puisi karyanya Avontur kepada siswa-siswa SMA Rembang di halaman Galeri Gentong Miring maju ke atas pentas.
Ragil yang akrab disapa Sukriwul itu sebelum membacakan beberapa puisinya mengatakan banyak catatan sejarah ataupun mitos dari Rembang yang menarik untuk dipotret oleh pengiat seni muda. '' Saat susur pantai dan mendengarkan begitu banyak informasi menarik yang diutarakan kawan-kawan Rembang, semestinya sudah mulai ada sebuah proses pendokumentasian baik itu melalui puisi, cerpen ataupun media lain. Pendokumentasian merupakan kerja bersama yang harus mulai dilakukan oleh pengiat seni muda,'' terang pria kelahiran 1978 ini.
Di ujung pentas yang berakhir pukul 22:00, Ragil mengajak siswa SMA Negeri II Linda untuk membawakan puisinya ''Kepada Ibu''. Simak saja baitnya aku pasti kembali, berjuta tombak dan panah, yang lebih cepat dari peluru, datang bersamaku. Seperti Ragil yang berjanji akan kembali, komunitas pengiat seni muda di Rembang juga berjanji bulan depan akan menggelar kembali pentas yang telah berlangsung 15 bulan berturut-turut itu. (Mulyanto Ari Wibowo)
seperti di muat di Suara Merdeka - Suara Muria Rembang Senin 21 Mei 2012
foto kegiatan secara utuh bisa disimak di : https://www.facebook.com/media/set/?set=a.254550641319263.56247.100002929865778&type=1

Sebuah Alam Rasa

Written By Zamroni Allief Billah on Selasa, 08 Mei 2012 | 07.32

Mungkin anda pernah bertemu dengan seseorang yang baru pertama kalinya berjumpa. Namun merasakan bahwa anda sangat dekat mengenalnya dan seperti sudah pernah mengenal sebelumnya. Hingga sekejap saja langsung bisa akrab dan indah dalam percakapan.

Bisa jadi itu sebagaimana 'jodoh' yang disampaikan kaum sepuh. Jodoh dalam persahabatan yang membuat dua orang yang baru saling kenal langsung bisa menjadi sangat akrab. Namun Ki Kesuma Narendra, seorang tokoh spiritual dari Sale juga memiliki gambaran berbeda mengenai hal ini. Secara spiritual dua orang yang saling akrab saat pertama kali melihat, secara bathin dipastikan telah memiliki ikatan.

Ikatan bathin tersebut, kata Ki Kesuma, bisa terjadi pada masa sebelumnya. Entah berapa puluh atau berapa ratus tahun sebelum kelahiran dua orang tersebut. Hingga pada zaman ketika dua orang itu kembali lahir di dunia dan suatu ketika bertemu mereka merasa sudah sangat akrab dan seperti sudah mengenal. Memang secara bathin mereka telah saling kenal dan sangat akrab sekali terlebih pada zaman sebelumnya. Hal itulah Kata Ki Kesuma yang menjadikan pertautan itu menjadi sangat nyata.

Namun ada hal lain yang menjadikan dua orang, dua jiwa menjadi begitu menyatu. Alam memiliki tempat tersendiri dalam dunia ini. Begitu juga 'rasa' atau rahsa sesungguhnya berada dalam satu alam. Maka bagi yang bertemu secara fisik namun menyertakan rasa dalam pertautan itu dia akan menyatu secara rasa. Hingga kekentalan pertemanan dan penyatuan rasa menjadi sangat nyata.

"Tidak ada jarak karena selalu mengedepankan kasih dan ketulusan rsa yang ada. Tak heran walau baru mengenal namun sangat akrab dan merasakan sebuah kenyamanan percakapan. Karena secara bathin mereka selalu nyambung," kata Ki Kesuma.

Jadi ketika dua orang atau beberapa orang bertemu dalam satu kesempatan dan begitu menyatu dalam kedamaian bathin, itu semua tidak lain disebabkan pertemuan mereka tidak hanya pertemuan lahir saja. Pertemuan bathin telah memegang peran penting di sana.

Hal yang demikian, kata Ki Kesuma hanya bisa terjadi bagi orang-orang yang sejiwa. Dan pada zaman sebelumnya biasanya memang mereka juga telah disatukan oleh semangat perjuangan yang sama. Entah dalam kepentingan dan tujuan apa saat itu, tetapi mereka telah menyatu dalam semangat dan tujuan hidup yang sama. (Zam)

image: 35photo

Pitik Cemani Kang Dadi Kunci


Wis sawatara wektu jasade Tata ora ditemokake. Sangka katrangane polisi ana sms kang ngandhakake yen prawan kencur kuwi dipateni pacare. Pancen wis ana seminggu dheweke ora bali mulih. Bengi pungkasan nana sing weruh yen Tata dipapag kancane ana ngomah. Nanging sakwuse kuwi kabeh padha ora ngerti ana ngendi papan dununge wadon kuwi.

Kabeh cara wis dicoba kanggo nggoleki Tata. Nanging tetep wae ora ana gambaran ana ngendi papan dununge bocah kuwi. Werna-werna dhawuhe wong tuwa kang diparani. Ana sing kandha yen Tata ijih urip, liyane maneh kandha yen wis mati naging ana sakiwa tengene dalan kampung.

Ana salah sawijine wong pinter sing paring syarat supaya wong tuwane Tata tuku pitik Cemani. kanggo sarat nemokake jasade Tata sing pancen muturut dheweke wis mati. Krana miturut wong sepuh iku mung pitik ireng mulus kang aran cemani kuwi sing bisa dadi sarana. Dalan nemokake wadage bocah kang wis dipulasara dening pacare.

Ing prapatan sing dadi patemon antarane Tata lan pacare, ritual nyembelih pitik cemani dileksanakake. Getih kang semu ireng kuwi nelesi lemah prapatan. Pangajabe kepriye jalma ghaib sing ana wilayah kono melu rerewang nuduhake ing ngendi parane bocah sing digoleki kuwi.

Getih kang isih kanthil ana gaman kang digunakake kanggo nyembelih cemani banjur diusap nganggo kraka. Godong jati garing kuwi sakwuse dienggo ngusapi getih banjur diulungake marang kang duwe kajat. "Turuten ana ngendi dalan sing dadi pangajake atimu. Ya kuwi bebisik kang bakal nggawa awakmu marang putrimu," ujare wong tuwa kuwi.

Banjur godhong garing kuwi diremet lan disebar sithik mbaka sithik nurut dalan kang kumrentek ana atine. Rasa ndhredheg lan kaya-kaya ana ngalam sing beda karong dedalan sing biyasane diliwati. Petenge wengi dadekake kahanan saya tintrim. Angin uga melu sepi ora ana kang obah usik babar blas.

Lakune bapake Tata mara ngidul tumuju kuburan. Sawuran godhong garing lembut kaya semut sing ngiring lakune wong setengah tuwa kuwi. Nanging nalika tekan pinggir kuburan wong lanang ii wis ora kuwat ngempet rasane. Banjur lumayu bali ana pinggir dalan maneh gabung kelawan kanca liyane kang ijih ngenteni ana kana. Ritual dipungkasi tekan semono. Krana nalika tekan pinggir kuburan dheweke krungu suwara-suwara aneh kang kaya padha paring bebisik ana ngendi papan dununge putrane.

Isuke sawatara jam sanga jasade Tata ketemu ana pinggir kali cedhak kuburan sing mau bengi diparani. Alam pancen tansah paring pratandha tumrape manungsa. Nanging manungsa kadhang kalane sing ndableg ora gelem ngrungokake apa kang kumrentek ana atine. Mula sing sapa bae gelem tirakat ngempet nepsune yekti bakal nduweni ati sing landhep. Krana bisa jupuk warta lan pratandha sangka alam iki.

Image: Deviantart

Kethek Ogleng

Semua tentang Kethek Ogleng »

Agenda Kethek Ogleng

Semua tentang Agenda »

Seni Tradisional Rembang

Semua tentang Seni Tradisional Rembang »
 
Powered by : Day Milovich | SuaraRembang.net
Copyright © 2012. Omah Rembang - All Rights Reserved
Modified by Day Milovich
Proudly powered by Blogger