Bos Citro, Tambang Kopi Yu Marti
Di hamparan tegalan yang kini berdiri sebuah besi bising ini,
aku dulu biasa menggembalakan sapi. Sesekali ngarit dan bersama kawan
sepermainan nyolong nangka, pisang juga pepaya. Kini tinggal hamparan tandus
yang telah dibeli oleh bos besar dari Surabaya. Paling tidak inilah yang aku
dengar dan tersebar di desaku.
Perusahaan memang hebat. Memilih Mbah Citro adalah pilihan
hebat karena beliau adalah orang yang cukup disegani di desa ini. Seorang
sesepuh desa yang memiliki cukup pengaruh hampir seluruh anak muda. Karena dia
seorang yang loman. Suka membelikan rokok makanan dan yang sering minum bersama
di rumahnya. Benar-benar orang yang royal.
“Minum hanya sebagai caraku mempererat persahabatan. Biar tidak
ada jarak antara yang muda dan tua,” kata Mbah Citro. Memang benar. Hal itu dibuktikan
Mbah Citro sebagai seorang dermawan yang membantu sebagian besar pembangunan
masjid di desanya. Pembangunan yang lama mangkrak itu menjadi begitu cepat
selesai atas prakarsanya. Molen milik perusahaan dibawanya ke masjid untuk
mempermudah dan mempercepat pekerja masjid dalam mengaduk bahan bangunan.
Benar-benar orang tua sempurna. Bisa ngumpuli peminum dan bisa ngombyongi kaum
santri. Kanan dan kiri semuanya dia tundukkan.
Saat Mbah Citro semakin banyak uang, dia semakin menjadi
orang yang begitu disukai banyak orang. Bahkan Yu Marti pemilik warung kopi ini
sangat merasa berhutang budi padanya.
Sasi, anak yu Marti yang telah lama tidak mendapatkan kasih sayang
seorang bapak, seolah kini miliki bapak baru. Seluruh biaya sekolah juga uang
saku semua ditanggung mbah Citro.
Bahkan lelaki ini akhirnya menyekolahkan Sasi ke AKPER di luar kota. “Membayangkan saja tak
berani bagi orang sini. Namun apa yang tidak bisa bagi bos Citro,” begitu ucap
yu Marti kepada setiap penikmat kopinya.
Akhirnya Sasi menjadi anak tiri bos Citro. Istrinya yang
telah memberi anak dan beberapa cucu terpaksa dia tinggalkan demi mbelani janda
yang menyekolahkan anak ini. Seorang janda yang patut disayangi dan dikasihani.
Janda cantik yang perlu diselamatkan dari godaan penikmat kopi.
Setelah menikahi yu Marti dan menceraikan istrinya, Bos
Citro mulai kehilangan pamor khususnya dari kaum masjid. Namun pengaruhnya bagi
pemuda lain yang biasa minum dengannya tak pernah surut. Sebab mereka tahu isi
dapur bos Citro. Lelaki ini masih perlu dilayani oleh seorang perempuan. Sedang
Mbah Citro putri sudah tak mampu lagi memberikan pelayanan yang memadai. Perempuan
yang beranjak tua itu sering sakit-sakitan entah memikirkan apa. Segerombolan remaja
itu tak perlu tahu. Mereka hanya tahu bahwa mbah putri sudah tidak layak
mendampingi lelaki perkasa dan berkuasa macam Bos Citro.
Pada suatu malam bos Citro dan sekumpulan pemuda itu punya
rencana. Tidak ada yang tahu apa maksud dan tujuan Bos Citro semua manut pada
intruksi. “Beres semuanya, sekarang sebagai hadiah keberhasilan kalian mari
malam ini kutraktir kalian ke Cafe Mama,” tanpa menunggu lama mereka semua
lantas berpesta di Mama Cafe yang berada tak jauh dari desa Tegaldowo.
Desa Timbangan, dulu terkenal sebagai desa santri. Banyak tokoh
agama di sana. Kini desa itu telah merdeka. Santri dan kafe hidup bersama
berdampingan tanpa sebuah konflik. Kalau terkadang ada yang kehilangan ayam,
bebek adalah hal yang wajar. Karena barangkali yang sudah ketagihan di Mama
sedang tidak punya uang dan kepepet. Sebuah resiko yang harus diterima dan
wajar adanya. Namun desanya menjadi terkenal dan banyak dikunjungi pejabat juga
terkadang aparat entah untuk apa.
Keesokan harinya masjid gempar. Para pekerja yang hendaka
melanjutkan pekerjaan di masjid kebingungan mencari mesin diesel pinjaman dari
bos Citro. Seperti biasa setiap menjelang siang bos Citro memantau pengerjaan
masjid yang dia bantu danai. Tak lupa membawa beberap bungkus rokok dan makanan
ringan.
“Aku sudah dengar dari warga, katanya mesin diesel untuk
molen hilang. Tidak usah difikirkan nanti aku yang menggantinya. Namun lain
kali harus berhati-hati menjaganya agar kejadian semacam ini tak terulang,” Bos
Citro kembali menjadi pahlawan. Jamaah tidak ada lagi yang berani ngrasani
bahwa lelaki ini telah serong. Meninggalkan istrinya dan menikahi janda penjual
kopi, yu Marti. Semua sesuai rencana Bos Citro lelaki hebat yang mencuri
dieselnya sendiri. “Ini pulitik,” bisiknya malam itu padaku
Desa Tegaldowo yang dulu hanya satu dua yang memiliki motor
kini telah merata yang punya truk. Mereka menjual tegalan lahan pertanian untuk
membeli truk dengan membayar cicilan di bank tiap bulan. Mereka berharap bisa
menjadi kaya dengan miliki armada untuk mengangkut batu nantinya.
Untuk saat ini hanya beberapa saja truknya yang kebagian
order untuk mengangkut bebatuan dari tegalan yang dulunya milik mereka.
Selebihnya menjadikan truk tersebut sebagai angkutan dan sebagian lainnya
disita kembali oleh bank karena tidak mampu membayar cicilan. Mereka yang dekat
dengan Mbah Citro akan mendapatkan kemudahan dan DO dari perusahaan.
Namaku Bambang Gunawan, lahir dan dibesarkan di desa ini.
Keponakan Mbah Citro dan sedikit kecipratan kopi sesekali di warung yu Marti
yang kini telah menjadi rumah makan yang luas dan nyaman.
(Nanti bersambung... akn kuceritakan secara datar sembari
menahan debar)


0 comments:
Posting Komentar