Headlines News :
Home » » ''Pathol Sarang Yang Semakin Merana''

''Pathol Sarang Yang Semakin Merana''

Written By Batik Doodle on Senin, 02 Mei 2011 | 21.05


Ketika kendang, bonang dan gong kecil itu dibunyikan bertalu-talu, ratusan orang yang sebagian besar nelayan itu mulai melingkar memadati arena yang beralaskan pasir putih tebal. Beberapa saat kemudian, dari arah pemusik itu muncul dua orang pelandang (wasit) yang mulai menari dan berjalan ke tengah arena. Mata pelandang itu berkeliaran diantara tubuh-tubuh penonton laki-laki.
Setelah sekitar lima menit menari, seorang pelandang menarik seorang penonton masuk arena berukuran 10x10 meter itu. Ratusan penonton lainnya yang dipinggir bersorak-sorai mengalahkan suara musik yang ditabuh cukup keras itu. Penonton yang di tarik ketengah arena hanya bisa kikuk sembari sedikit menggerakkan badan mengikuti tarian pelandang yang membawanya. Semenit kemudian, pelandang lain juga menarik seorang penonton yang memiliki badan nyaris setara dengan penonton pertama yang dimasukkan ke arena. Suasana semakin riuh rendah. ''Imbang! Imbang,'' begitu teriak ratusan penonton yang memadati pinggir arena.
Dua penonton itu kemudian dibawa pelandang tepat ke tengah arena. Baju dua penonton itu dilepaskan. Sebagai gantinya pelandang memasangkan selendang kepinggang kepinggang dua penonton yang siap diadu itu. Keduanya juga memasangkan tangan dua orang itu agar memegangi erat selendang lawannya. Setelah dirasa siap, dua pelandang menjalankan aba-aba agar dua pemain yang ditengah arena memulai permainan.
Pathol Sarang
Pathol sarang, begitulah nama permainan yang populer dikalangan nelayan itu. Permainan yang beberapa kali disebut dalam kitab babad Lasem ''Badrasanti'' itu memiliki aturan sederhana, pemain harus bisa menjatuhkan lawannya dengan cara digulat atau di banting. Namun untuk menjatuhkan lawan, pemain hanya diperkenankan berpegangan pada selendang yang dililitkan dipinggang lawannya. Jika menjatuhkan lawan tidak melalui selendang, maka permainan diulang.
''Aturannya hampir sama dengan gulat sumo jepang. Hanya saja dalam gulat sumo, pemain berbadan besar. Kalau di pathol pemain bisa berbadan kurus atau besar. Asalkan badan kedua pemain itu dinilai imbang oleh pelandang ataupun penonton,'' kata H Mundir, sesepuh warga Desa Bajingjowo Kecamatan Sarang yang juga menjadi panitia permainan Sarang yang digelar Jumat sore kemarin.
Melihat permainan pathol itu memang mengasyikkan. Selain ada unsur seni tarian, dalam permainan itu juga terdapat unsur olahraga yang menghibur. Namun sayangnya, permainan tradisional ini justru kurang mendapatkan perhatian dari Pemkab.
Terbukti, Pemkab nyaris tidak pernah menggelar event ataupun memasyarakatkan permainan tradisional yang diciptakan oleh nelayan Sarang ratusan tahun yang lalu. Sebaliknya, permainan ini pada beberapa tahun belakangan diadopsi dan sering dipertunjukkan dalam event-event promosi Kabupaten Tuban. ''Pathol dimainkan setahun sekali dalam event sedekah laut. Itupun atas swadaya masyarakat. Sangat jarang pathol dimainkan dikesempatan lain.Nelayan tentu sangat berharap pathol bisa dimasyarakatkan lagi ke seluruh warga Rembang,'' tegas A Rofiq Maghfudz, tokoh nelayan setempat. (Mulyanto Ari Wibowo)

dokumentasi Mulyanto Ari Wibowo pernah dimuat di Harian Suara Merdeka Suara Muria5 November 2007
Share this article :

0 comments:

Posting Komentar

 
Powered by : Day Milovich | SuaraRembang.net
Copyright © 2012. Omah Rembang - All Rights Reserved
Modified by Day Milovich
Proudly powered by Blogger