Headlines News :
Home » » '' Ketika Warga Berucap Syukur Untuk Sapi''

'' Ketika Warga Berucap Syukur Untuk Sapi''

Written By Batik Doodle on Senin, 02 Mei 2011 | 21.19


Ritual Ngalungi Sapi di Desa Megulung

Langit bertaburkan bintang gemintang yang bersinar temaram. Waktu menunjukkan pukul 04:30 ketika adzan subuh mulai menggema dari loudspeaker sebuah mushola di Desa Megulung Kecamatan Sumber. Seusai gema adzan, Hartini (50) yang menenteng keranjang dari anyaman plastik membuka pintu kandang sapi-nya. Tiga ekor sapi yang dimiliki perempuan setengah baya itu kemudian dikeluarkan dari kandang.
Sapi itu kemudian dituntun menyusuri jalan berbatu setapak yang masih gelap menuju ke sebuah tanah yang cukup lapang dan dinaungi tiga buah pohon asem. Warga Desa Megulung menyebut tanah lapang dengan tiga buah pohon asem itu sebagai tanah keramat punden Hyang Gajah.
Begitu Hartini dan sapinya terlihat memasuki tanah lapang, puluhan anak-anak, pemuda dan orang tua yang semenjak dini hari menunggu mulai gaduh dan mengerubutinya. ''Lek Har, tak dongake sapimu nggawa berkat lan rejeki se akeh,'' begitu kumpulan orang itu berteriak ke arah Hartini dan tiga ekor sapinya.
Yang membawa sapi hanya mesam-mesem. Kemudian disebuah sudut tanah keramat punden Hyang Gajah itu, Hartini menghentikan langkahnya. Dia kemudian mengeluarkan ketupat dan lepet dari keranjang anyaman plastiknya. Ketupat dan lepet itu dikalungkannya ke leher tiga sapi itu.
Dari kantung bajunya, Hartini kemudian menyebarkan uang recehan kepada khalayak ramai yang mengerubunginya. Tak urung, ketika uang recehan itu jatuh ke tanah langsung menjadi rebutan bagi anak-anak, pemuda dan orang tua. Adu sikut terjadi diantara mereka. Bahkan, mereka juga saling tindih untuk memperebutkan uang receh yang berhamburan di tanah berdebu itu. Suasana menjadi bertambah ramai. Seusai menaburkan uang receh, Hartini kembali menuntun sapinya pulang kerumahnya.
Ngalungi Sapi
Hari Jumat kemarin yang jatuh pada hari Pahing menurut penanggalan Jawa bisa dibilang sebagai hari yang membahagiakan bagi sekitar 500 ekor sapi yang ada di Desa Megulung. Ya, pada hari itu, sapi-sapi itu dibuatkan sebuah ritual khusus yang disebut warga desa sebagai ritual Ngalungi Sapi. Semua sapi yang ada didesa itu semenjak dini hari hingga menjelang siang dibawa oleh para pemiliknya untuk mengunjungi tanah punden Hyang Gajah.
Di tanah punden Hyang Gajah, sapi itu dituntun mengelilingi tiga pohon asem yang besar. Pemiliknya selama ritual mengalungkan ketupat dan lepet di leher sapinya. Pemilik sapi sebagai ucapan terimakasih kepada khalayak yang telah mendoakan agar sapi itu membawa rejeki bagi pemiliknya kemudian menyebarkan uang receh.
Sekretaris Desa Megulung Jamsir (38) menuturkan tradisi Ngalungi Sapi itu sudah dilaksanakan oleh warga yang memiliki sapi selama ratusan tahun. Dia mengatakan upacara Ngalungi Sapi rutin dilaksanakan setiap tahun menjelang panen padi. ''Dari semenjak nenek moyang kami, ritual Ngalungi Sapi itu dilaksanakan pada hari penanggalan Jawa Pahing. Waktunya hanya ditentukan menjelang panen sesuai kesepakatan warga,'' jelasnya.
Ditambahkannya, tradisi Ngalungi Sapi merupakan sebuah ungkapan rasa syukur dan terimakasih warga desa kepada hewan ternak khususnya sapi yang telah membantu warga selama musim tanam padi. ''Ini sudah menjadi sebuah ritual yang dipercayai oleh seluruh warga desa. Mereka yang tidak mengikuti Ngalungi Sapi bisa terkena pageblug,'' tuturnya sembari mengatakan uang receh yang disebarkan bervariasi antara Rp 10.000 hingga Rp 50.000.
''Uang yang disebarkan itu sukarela dan semampu dari pemilik sapi. Tidak ada syarat khusus mengenai uang yang disebarkan. Yang penting, pemilik sapi telah mengikuti ritual ini,'' tegasnya. (Mulyanto Ari Wibowo)
dokumentasi Mulyanto Ari Wibowo pernah dimuat di Harian Suara Merdeka Suara Muria 26 Mei 2007
Share this article :

0 comments:

Posting Komentar

 
Powered by : Day Milovich | SuaraRembang.net
Copyright © 2012. Omah Rembang - All Rights Reserved
Modified by Day Milovich
Proudly powered by Blogger