Headlines News :
Home » » Mengusir Roh Jahat dengan Obor dan Parikan

Mengusir Roh Jahat dengan Obor dan Parikan

Written By Batik Doodle on Senin, 02 Mei 2011 | 20.52



Tradisi Lamporan Dukuh Sambiyan

Areal persawahan di sebelah utara Dukuh / Desa Sambiyan Kecamatan Kaliori Rabu kemarin sekitar pukul 21:00 kemarin terasa hinggar binggar. Puluhan anak muda dengan membawa obor di tangan, tiba-tiba muncul dari remangnya malam sembari meneriakkan parikan

secara sahut menyahut dan tak henti di sekeliling areal persawahan.
''Jaran ngidak arit, cah lamporan nolak penyakit! Surak hoo

!'' tutur salah satu pemuda yang langsung disambut koor ''Hooo!'' oleh pemuda lainnya. ''Mangan kupat jangan santen, menawi lepat nyuwun ngapunten! Surah hoo

! Hoo!'' timpal yang lain.
Disebuah tanah lapang dekat tanah pekuburan desa, rombongan anak muda yang membawa obor itu berhenti berteriak. Tanpa dikomando mereka secepatnya berkumpul dan menyatukan obor. Beberapa lainnya mengambil jerami kering. Setelah terkumpul cukup banyak, obor kemudian dilemparkan ke dalam jerami. Ketika nyala api menerangi areal lapangan, pemuda itu duduk bersila dalam lingkaran. Setelah menata sesaji, salah seorang pemuda itu kemudian membaca doa dalam bahasa Arab. Setelah doa selesai, sesaji kemudian menjadi rebutan para pemuda itu.
Lamporan, begitulah nama tradisi yang dilakukan oleh puluhan pemuda Dukuh / Desa Sambiyan Rabu malam kemarin. Lamporan sendiri berasal dari kata lampor yang dimaknai warga sekitar sebagai makhluk halus berujud anak balita berkuncung api. Lampor itu dipercaya warga bisa menyebarkan wabah penyakit dan malapetaka bagi penghuni dukuh. ''Mahluk itu dipercaya akan menjauh dari dusun apabila ada barisan obor yang dibawa anak muda yang meneriakkan parikan. Karenanya, setiap tahun sekali kami menggelar lamporan yang persertanya hanya anak muda saja,'' tutur Ahmad Obik (19) salah satu pemuda.
Tujuh Hari
Tidak ada yang tahu pasti sejak kapan lamporan dilakukan. Hanya saja, menurut kepercayaan warga, lamporan sudah dilakukan sejak dukuh Sambiyan berdiri. Lamporan biasanya dilakukan seusai panen dan menjelang kedatangan musim kemarau. Lamporan dilakukan selama tujuh hari berturut-turut. Hari Rabu kemarin merupakan hari terakhir mereka menggelar tradisi lamporan.
''Untuk lamporan mengitari desa ada tradisi tersendiri. Hari pertama hingga keenam, lamporan ditradisikan memutari desa dari kanan ke kiri. Sedangkan pada hari ketujuh atau terakhir, peserta harus mengitari desa dari kiri ke kanan,'' tutur Islahudin (18), salah satu tokoh pemuda Dukuh Sambiyan.
Selama memutari dukuh, peserta lamporan selalu berhenti dan tidak bersuara di tiga daerah yang dianggap keramat yaitu di sebuah jembatan kuno selatan desa, tanah Sekekeng timur desa dan oro-oro Sebangkang sebelah utara desa. ''Konon di tiga tempat itu lampor dikabarkan sering muncul,'' tutur Darmin (50) salah satu warga.
Selain tradisi tujuh hari dan berhenti ditiga tempat, lamporan juga memiliki tradisi sesaji yang dihidangkan harus dibuat oleh janda di desa. ''Kami kurang tahu alasannya. Namun dari sejak jaman dulu sampai sekarang, sesaji harus dibuat oleh janda. Kalau dulu ada tiga janda yang membuat sesaji. Namun sekarang hanya ada satu janda yang dipasrahi,'' tutur Sujono (55) sesepuh dukuh sembari menambahkan sesaji yang dibuat berasal dari hasil iuran seluruh warga pedukuhan.
Sujono menambahkan tradisi lamporan saat ini sudah mulai memudar. Saat dia kecil, tiga dukuh yaitu Sambiyan, Rumbut Malang dan Kalipang rutin menggelar lamporan. Namun dalam beberapa tahun ini lamporan tinggal dilaksanakan di Dukuh Sambiyan saja.
Selain itu durasi lamporan juga sudah menyusut. Dulu lamporan dilakukan dari selepas Maghrib hingga tengah malam. Sekarang lamporan hanya dilakukan dari Maghrib hingga maksimal pukul 22:00. ''Jaman modern yang menawarkan banyak kesenangan membuat anak-anak muda enggan lagi mengikuti lamporan,'' tegasnya. (Mulyanto Ari Wibowo)

dokumentasi Mulyanto Ari Wibowo pernah dimuat di Harian Suara Merdeka Suara Muria 27 Mei 2009


Share this article :

0 comments:

Posting Komentar

 
Powered by : Day Milovich | SuaraRembang.net
Copyright © 2012. Omah Rembang - All Rights Reserved
Modified by Day Milovich
Proudly powered by Blogger