Sabtu malam kemarin kandang sapi milik Juri (50) warga Desa Kaliombo Kecamatan Sulang Rembang mendadak terang benderang oleh lampu dari genset. Kandang berjarak sekitar 1 km dari pusat desa yang biasanya gelap gulita dan sepi yang mencekam itu juga ramai dikunjungi ratusan warga. Tarian barongan diiringi alunan bebunyian kendang, gong dan bonang digelar di halaman kandang. Makanan tak henti mengalir dihidangkan bagi ratusan warga yang berkunjung ke kandang. Ya malam itu, Juri tengah menggelar tradisi meleki sapi.Tradisi meleki sapi itu sendiri merupakan upacara yang dilakukan si empunya sapi sebagai ungkapan syukur menyambut kelahiran sapi baru. Tradisi itu dimulai sebelum maghrib dengan diawali memandikan induk sapi dan anaknya yang baru lahir dengan air kembang. Setelah dimandikan, selepas Isya, pemilik menggelar doa dan bancaan yang dipimpin oleh pemuka agama setempat. Seusai bancaan, si empunya sapi menggelar tasyakuran dengan nanggap hiburan bagi warga sekitar. ''Kebetulan, saya dulu punya nadzar nanggap barongan kalau sapi saya punya anak. Orang lain ada yang hanya nanggap video (menyetel VCD di sekitar kandang) untuk tradisi meleki sapi ini,'' kata Juri yang terlihat sumringah.
Kades Kaliombo Wasiman menuturkan sapi bagi desa yang memiliki penduduk sekitar 3.600-an jiwa itu bukan hanya sekedar rajakaya. Sapi bagi warga desa yang 80 persen-nya hidup dari beternak merupakan bagian dari kehidupan masyarakat. Layaknya manusia, katanya, sejak lahir hingga besar sapi di desa itu harus menjalani serangkaian upacara. Selain meleki sapi, seperti yang dijalani Juri Sabtu malam lalu, warga juga memiliki tradisi preinan sapi serta ngalungi sapi
Sapi Libur
Preinan sapi adalah mengistirahatkan sapi dari segala pekerjaan setiap Selasa Kliwon dan Rabu Pahing. Sedangkan ngalungi sapi adalah tradisi memandikan sapi untuk dibawa ke punden Mbah Podhang (bagi warga di sebelah barat desa), Mbah Sutho (bagi warga di sebelah timur desa) dan Mbah Jonah (bagi warga di sebelah utara desa).
''Semua tradisi itu dimaksudkan sebagai ungkapan syukur kepada Sang Pencipta karena sapi yang telah membantu kerja warga diberi kesehatan. Selama menjalankan tradisi itu, warga juga berharap kepada Sang Pencipta agar sapi-nya diberikan keturunan yang banyak sehingga bisa mendatangkan kekayaan bagi pemiliknya,'' katanya
Wasiman mengaku warga sangat mempercayai sapi mereka mendapatkan perlindungan setelah menjalani tradisi yang dilaksanakan selama ratusan tahun itu. Salah satu yang dipercayai warga, kata Kades Kaliombo, sapi yang ada di desa itu tidak pernah sekalipun ada yang hilang meskipun dipelihara jauh dari rumah. '' Seandainya hilang dicuri, sapi ataupun hewan ternak di desa kami selalu bisa ditemukan meskipun sudah beberapa bulan,'' tegasnya.
-----------------------------
dokumentasi Mulyanto Ari Wibowo pernah dimuat di Harian Suara Merdeka Suara Muria I Agustus 2008

0 comments:
Posting Komentar