
Malam beranjak lirih. Jarum jam bergerak meninggalkan pukul 22:00. Suara kentongan membahana dari balik sebuah tobong berwarna dasar hijau lumut yang sedari sore berdiri tegak diantara sesaknya rumah-rumah kayu yang berhimpitan. Layar berwarna kelabu itu pelan-pelan terangkat. Namun baru separuh jalan, laju layar itu tersendat karena tali pengaitnya tersangkut kayu atap rumah. Seorang penonton langsung naik ke tobong menyingkapkan tali agar layar bisa terangkat dengan mulus.
Saat layar sudah terangkat penuh, lampu warna-warni yang dihasilkan dari kertas minyak menyala terang. Kemudian dari sisi kanan dan kiri tobong muncul enam laki-laki yang menarikan Tari Tani. Setelah itu, enam perempuan gantian menarikan Tari Tani yang mirip seperti tari Gambyong. Ratusan penonton yang mulanya hanya berdiri mulai merapat mendekati tobong, duduk ditanah pelataran dan emper-emper rumah penduduk. Tak berapa lama Tari Tani usai, dan lampu kembali dimatikan. Sebuah narasi parau melantun melalui speaker TOA,'' Emprak Wahyu Suko Budaya Kuwangsan Ngaturaken Carios Panji Sering''.
Dan seisi tobong-pun kembali terang menyala. Pertunjukan Emprak malam itu menghadirkan dagelan sebagai suguhan awalnya. Cerita dagelan itu berawal dari rumah Juragan Sarko yang memiliki dua pembantu perempuan Tesiana dan Yayuk, yang keduanya diperankan oleh laki-laki. Dua orang itu mendapatkan tugas untuk menjaga rumah. Saat Juragan Sarko pergi, datanglah Juragan Menying. Dari ketiganya ini kemudian muncul adegan-adegan slapstick (komedi kasar ala Srimulat) yang memancing tawa.
Kendang Terbang
Pertunjukan Emprak Kuwangsan sebenarnya tak jauh berbeda dengan ketoprak pada umumnya. Yang membedakan adalah peralatan musik yang digunakan. Sarkowi (38), pemimpin Emprak Wahyu Suko Budaya mengatakan dalam emprak tidak ada perangkat gamelan yang digunakan. Sebagai penganti, katanya dipergunakan kendang terbang atau kentongan. ''Selain itu, dulu emprak dipentaskan diemperan-emperan rumah tanpa panggung. Dari kata itu akhirnya muncul kata empere ketoprak atau yang disingkat emprak,'' katanya disela-sela pertunjukkan.
Seiring perkembangan jaman, tambahnya, emprak mengalami modifikasi peralatan musik. ''Penonton atau yang nanggap emprak kadang meminta disisipkan lagu campursari terbaru. Kami tentu saja harus bisa menyediakan sesuai permintaan penonton,'' ujarnya.
Seusai dagelan, cerita utama Emprak Panji Sering-pun digelar. Panji Sering adalah sebuah cerita rakyat yang melekat erat dengan sejarah daerah Kecamatan Sumber Rembang yang menitik beratkan pada kenaifan dan kesalahpahaman. Adalah Bongkrek abdi Panji Sering sedang menggembalakan kerbau. Kerbau jantan itu kemudian bertemu dan kawin dengan kerbau betina milik sesepuh desa Sering Ki Mada Mantub. Setelah kerbau betina itu beranak, Panji Sering menagih bagian kepada Ki Mada Mantub. Panji Sering merasa kerbau betina itu tidak akan beranak jika tidak dikawini kerbau-nya. Tapi permintaan Panji Sering ditolak keras oleh Ki Mada Mantub. Ki Mada bersikukuh tidak memberi bagian kepada Panji Sering karena tidak ada perjanjian sebelumnya. Akhirnya kedua orang sakti ini berkelahi untuk pendirian masing-masing. Panji Sering yang kalah sakti akhirnya kalah dan dikejar-kejar oleh anak buah Ki Mada Mantub. Di setiap tempat yang menjadi persembunyian Panji Sering akhirnya didirikan desa-desa seperti Grawan, Pondok dan Kedung Serojah. Panji Sering-pun akhirnya tewas di Kedung Serojah. (Mulyanto Ari Wibowo)
Tinggal Menyisakan Satu Kelompok (Bagian II)
Emprak Kuwangsan adalah sebuah local genius dari Desa Kuwangsan Kecamatan Sumber Kabupaten Rembang. Kesenian jenis ini tidak ditemui di daerah lain dan hingga sekarang hanya dimainkan serta dilestarikan oleh penduduk desa yang mata pencaharian utamanya adalah bertani. Seiring perkembangan waktu, kesenian emprak yang pernah berjaya pada tahun 1960-an itu kini hanya tinggal menyisakan satu kelompok saja yaitu Emprak Wahyu Suko Budaya pimpinan Sarkowi.
Emprak Kuwangsan, menurut Sarkowi pertama kali dimainkan oleh kakek buyutnya yang bernama Pak Munik asal Kemadu Sulang pada sekitar tahun 1900-an. Munik ini awalnya adalah seorang pembuat perahu di daerah Kaliori saat ini. Namun setelah lama, pekerjaan itu tidak mengalami perkembangan dan akhirnya bangkrut. Munik kata Sarkowi kemudian pergi ke Desa Kuwangsan untuk bertani. ''Di sela-sela bertani itu, Pak Munik membuat kegiatan tari dan cerita yang dipergunakan untuk mengisi waktu istirahat di malam hari. Lambat-laun, kegiatan itu dikenal orang dengan nama emprak,'' terangnya.
Dari Pak Munik ini, kemudian emprak di lestarikan secara turun temurun. Para penari, pemain musik hingga pemain emprak semuanya adalah keturunan pemain emprak terdahulu. Sarkowi misalnya mengaku setelah Pak Munik, kakek buyutnya hingga bapaknya adalah pemimpin emprak Kuwangsan. ''Sekarang ini saya yang kebagian tugas meneruskan emprak dari bapak saya. Pemain lainnya juga mendapatkan ketrampilan main emprak dari ayah atau ibu-nya,'' tuturnya.
Pak Kijo Tani
Dari proses turun temurun itu akhirnya, cerita emprak yang pertama kali dimainkan oleh Pak Munik tetap lestari hingga sekarang. Emprak yang asli, tuturnya selalu menampilkan cerita yang berkisar kehidupan para petani dengan tokohnya Pak Kijo Tani. Pak Kijo, yang merupakan penggambaran dari tokoh emprak Pak Munik itu adalah seorang yang bergelut dengan berbagai macam pekerjaan sepanjang hidupnya hingga akhirnya menjatuhkan pilihan menjadi seorang petani di Desa Kuwangsan. ''Dari pencarian Pak Kijo tani ini muncul berbagai permasalahan-permasalahan hidup manusia. Intinya di akhir cerita, Pak Kijo lebih tenang hidup saat menjadi petani di desa dibandingkan saat menggeluti pekerjaan yang lainnya,'' terangnya.
Cerita Pak Kijo Tani itu saat ini hanya dipentaskan pada acara-acara tertentu saja. Hal ini disebabkan, masyarakat luas telah hafal cerita Pak Kijo Tani. ''Kami akhirnya memodifikasi dengan cerita-cerita rakyat di Kecamatan Sumber seperti cerita Panji Sering. Namun cerita Pak Kijo Tani tetap kami lestarikan dan dimainkan pada saat latihan umpamanya,'' tandasnya. (Mulyanto Ari Wibowo )
Hanya Ingin Melestarikan Emprak (Bagian III-Habis)
Di atas panggung Sarkowi bisa menjadi Juragan Sarko, tokoh yang digambarkan memiliki kekayaan dan kehidupan yang serba ada. Begitu pula dengan Menying yang menjadi Juragan Menying. Namun pada kehidupan sehari-hari, Sarkowi yang merupakan pemimpin kelompok emprak itu memiliki profesi sebagai tukang batu. Sementara Menying dalam kehidupan nyata sehari-hari memiliki pekerjaan sebagai pemulung yang memiliki barak di Desa Sumberrejo Kecamatan Kota Rembang.
Seperti pengiat kesenian tradisional lainnya, para pemain tetap memainkan emprak berdasarkan idealisme sederhana, melestarikan warisan leluhur mereka. Mereka tidak pernah memikirkan mendapatkan kekayaan dari proses kesenian yang mereka lakukan. Dari penampilan semalam, para pemain emprak itu mengantongi bayaran tak kurang dari Rp 7.000 hingga Rp 25.000 tergantung penting tidaknya peran yang mereka mainkan dalam lakon. ''Ditanggap, bisa main dan ditonton orang saja kami sudah senang,''kata salah satu penari Endang Yayuk Sunarni.
Kelompok Emprak Wahyu Mudo Budoyo pimpinan Sarkowi saat ini memiliki 32 anggota. Sekali pentas dari jam 22.00 hingga pukul 04.00 pagi, kelompok ini ditanggap dengan bayaran kotor Rp 2.000.000. Uang tanggapan itu tidak semuanya dibagi sebagai honor pemain. Uang itu juga masih harus dipotong dengan ongkos produksi seperti pemasangan panggung, transportasi dan sound system. Dalam sebulan, paling ramai mereka ditanggap empat hingga lima kali. ''Para pemain biasanya hanya senang saja untuk bermain emprak. Mereka juga hanya ingin nguri-uri kesenian yang diwariskan oleh orang tua mereka agar tidak hilang dan mati. Sehingga bayaran berapa-pun tetap akan dilakoni,'' imbuh Menying.
Bekerja Serabutan
Saat pementasan, mereka juga bekerja nyaris seperti serabutan. Menying misalnya. Ketika sudah selesai dengan lawakan, maka tak segan-segan dia untuk turun memainkan kendang terbang. Ketika akan naik panggung lagi, kendang terbang itu kemudian digantikan oleh pemain lainnya yang tidak sedang berperan. Begitu pula para penari putri-nya. Ketika selesai menari, mereka dengan sigap langsung berganti dandanan dengan peran yang akan mereka mainkan. Tak jarang, dalam satu cerita, seorang pemain emprak bisa memainkan dua tokoh cerita sekaligus. ''Sebenarnya memang sangat kurang pemain. Namun bagaimana lagi karena tinggal hanya orang-orang ini saja yang tersisa dan bisa memainkan emprak,'' kata Sarkowi.
Agar kesenian ini tetap lestari, Sarkowi mengaku tengah merintis untuk membina anak-anak muda di Desa Kuwangsan untuk menjadi pemain emprak. ''Sekarang sudah lumayan ada yang mau bergabung. Rata-rata mereka yang mau bergabung adalah anak-anak putus sekolah setaraf SMP. Di kelompok kami, tidak ada yang lulus lebih dari SMP,'' tandasnya. (Mulyanto Ari Wibowo)
dokumentasi Mulyanto Ari Wibowo pernah dimuat di Harian Suara Merdeka Suara Muria 27 Juni 2006

0 comments:
Posting Komentar