Allief Zam Billah
Surat Cinta Untuk Fadia
Surat Cinta Untuk Fadia
Perlu kumpulkan keberanian untuk tuliskan, terlebih se telah kujadikan kau sebagai kawan dan lawan terbaikku.
Lalu, setelah kini kuputuskan untuk curahkan, kuingin ini hanya antara kita, jangan biarkan siapapun mengetahui surat ini demi hubungan baik yang kita akan selalu jaga.
Ukhti, bahwa jilbab yang kau pakai membuatku takut untuk terang terangan mencintaimu sebagaimana aku mencintai yang lain. Sebab perbedaan jilbab ini juga warna gamis yang berbeda yang sering kali menyulut api di negeri ini
Maka kuberanikan diri menulis surat ini tidak untuk meminta kau jadi kekasihku sebab sedari dulu kau bagiku lebih dari sekedar kekasih. Hati kita telah disatukan oleh nafas yang sama dalam sebuah harap akan kemerdekaan hati.
Aku pinang kau untuk tak lagi menjadi pemantik api, dimana ummat di negeri ini telah digiring untuk menjadi kayu bakar dan bahkan ada yang dengan kerelaan hatinya menjadi bensin sehingga begitu mudahnya tersulut dan membakar diri.
Kujadikan kau bendera agar berkibar penuhi dadadada penghuni negeri ini, berharap mereka mengerti bahwa kita semua bersaudara namun oleh mereka sengaja diadu domba.
Mereka yang sengaja mempertajam warna sebagai sesuatu hal yang berbeda, menjauhkan dari nilai “rohmah” sebagaimana telah diajarkan kekasih sejati setiap dada beriman, lalu bila setiap saudara menganggap yang berbeda warna adalah musuh bukankah ini kemenangan pertama dari mereka yang tidak dengan terang-terangan berani mengajak kita berperang?
Lalu satu persatu dari pemimpin kita dilucuti pakaian dan kewibawaannya sebelum setiap kita bernasib sama. Maka aku berharap lebih dari dirimu untuk kupinang dan jadikan tidak sekedar pendamping hatiku, namun aku ingin satukan suara yang selama ini terpecah oleh darah yang tumpah tanpa gairah.
Biarkan warna gamis berbeda, tak soal jilbab yang kau pakai lebih gelap dan lebar melebihi lainnya, akan tetapi cinta yang ada, semangat di dada siapa yang berani bilang berbeda?
Buat apa kita berdebat untuk sesuatu yang tidak penting?
bukankah lebih baik satukan cinta untuk berperang?
Perang melawan mereka yang diamdiam telah merongrong cinta yang di penghujung malam kita tumbuh suburkan?
kupinang kau, mari kita tabuh genderang perang
Rembang, 28 Januari 2011

0 comments:
Posting Komentar