Headlines News :
Home » , » Kartini, Wayang Puisi, dan Perempuan yang Kehilangan Pasar

Kartini, Wayang Puisi, dan Perempuan yang Kehilangan Pasar

Written By Batik Doodle on Jumat, 15 April 2011 | 21.48



Catatan dari Event "Kethek Ogleng Baca Puisi" #2)

---

Event Title: Kethek Ogleng Baca Puisi

Location: Bekas Stasiun Kereta Api Kota Rembang, Jawa Tengah, Indonesia

Date, Time: 2011, April 2011, 19.30-23:00

---

Pernahkah terbayangkan jika para perempuan satu kabupaten mulai kehilangan pasar?

---

Event "Kethek Ogleng Baca Puisi" yang kedua, malam ini (15/03/2011) digelar kembali di bekas stasiun kereta api kota Rembang. Lokasi yang sampai sekarang masih penuh pedagang. Alasan pemilihan lokasi ini, karena stasiun kereta api pernah memposisikan kota Rembang sebagai salah satu denyut nadi ekonomi pantura, sejak zaman kolonial. Seperti maklum diketahui, stasiun kereta api banyak andil dalam membentuk kebudayaan tersendiri di kota ini: berdagang, terhubung dengan kota lain, dan memperkenalkan tradisinya kepada kota lain.

Rel itu telah tiada, tidak ada kereta api berhenti, entah mengangkut hasil pertanian ataupun manusia dari kota ke kota. Rembang telah berubah karena simulator bernama stasiun kereta api nyaris tidak dikenang. Omah Rembang, sebuah komunitas mandiri yang concern terhadap kebudayaan, mencoba menghidupkannya kembali dengan event rutin setiap bulan purnama.

Malam itu, tidak ada purnama. Langit hujan. Orang masih saja datang, membawa kekasihnya, anaknya, dan banyak juga yang ingin andil mengusung karya mereka sendiri, ataupun membaca puisi.

Ada yang kopdar (kopi darat), ada juga yang asyik merembug isu yang sedang hangat di sela acara.

Tag line yang sempat diedarkan di "event" dan "group" facebook, sebagai salah satu media komunikasi antara Omah Rembang dan para partisipan, mengangkat "Wong Wedhok Kelangan Pasar" (Perempuan Kehilangan Pasar). Moment ini diangkat bersamaan dengan rencana pemerintah daerah Kabupaten Rembang yang akan menyerahkan pengelolaan pasar kepada swasta.

Sinyalemen ini telah sampai kepada masyarakat, namun, bagaimana reaksi mereka terhadap sejumlah konsekuensi yang harus ditanggung atas kebijakan ini?

Tentu saja Anda tidak bisa mendapatkan ulasan khusus tentang isu tersebut di acara malam itu, karena, penonton akan membincangnya di luar acara. Yang jelas, malam itu acara sungguh padat.

Mereka yang hadir, mendaftarkan diri sejak awal, agar masuk white-list para penyaji puisi. Tentu saja, orang Rembang sendiri yang mendapat giliran baca, dari kecamatan-kecamatan yang jauh dari kota, beberapa santri dari pondok pesantren, serta disusul dengan kawan-kawan dari kota lain. Sastra selalu berkembang dari pergaulan, kabar yang sesungguhnya justru muncul dari perbincangan, bukan isu koran.

Lebih dari 20 puisi dibacakan, lainnya (lagi-lagi) tidak kebagian waktu. Puisi yang dibacakan seputar perempuan, Kartini, dan isu tentang pasar yang mulai tersingkirkan.

Acara pembacaan puisi juga disela dengan performance art Ipin Ngedot. Para penonton dikejutkan dengan teriakan performer dari kejauhan, "Mak ... Pasarmu ilang!" sampai berkali-kali, mendekati panggung dan menarik perhatian para penonton. Ya, tagline malam itu adalah "Wong Wedhok Kelangan Pasar" (Perempuan Kehilangan Pasar).

Acara puncak malam itu adalah pementasan "wayang puisi" yang dimainkan dalang Ki Sigid Ariyatno dengan iringan Rumah Musik Sumberdjo. Wayang puisi mengangkat lakon "Rama Sinta", diusung dalam durasi 63 menit, memainkan bentuk pementasan wayang yang eksperimental.


Screen berbentuk lingkaran berdiameter 150 com, disorot dengan gambar slide. Kerinduan orang-orang untuk menonton "wewayangan", malam itu kembali menarik memori kolektif para penonton yang sudah ratusan tahun tidak diperkenalkan dengan cara menonton siluet wayang. Namun, permainan gambar slide tetap memberikan warna yang mendukung penceritaan malam itu.

Tidak mengherankan selalu ada yang baru dari sajian Ki Sigid Ariyatno, yang pernah lama di teater dan telah sering mementaskan wayang untuk event-event besar, menyabet sejumlah penghargaan, dan tentu saja decak kagum penonton.

Rama dan Laksmana mulai menyadari bahwa dalam kehidupan, kebahagiaan dan kesedihan itu seperti dua tangan. Kalau telapak saling bertemu, kebahagiaan dan kesedihan akan menjadi doa. Kalau saling genggam jadilah pertolongan, kalau bergandengan, jadilah cinta. Seperti Rama dan Sinta. Singkat cerita, Rama mengutus Anoman menyumbat sumber bencana, negeri Alengkadiraja. Anoman dicegat Sayengpraba, digoda dengan tawaran cinta dan kebebasan hidup, namun Semar mengingatkan Anoman. Sampai akhirnya terjadi pertarungan. Tidak ada menang dan kalah, tidak ada kematian dramatis Rahwana sang pendamba Sinta, yang pasti, Alengkadiraja terbakar. Taman Asoka tenggelam dalam api. Seperti Sinta yang membakar-diri di akhir pertunjukan.

Screen berbentuk lingkaran itu juga dibakar sungguhan. Sinta menunjukkan diri. Siluet yang lebih sering berkedip karena penonton memotret terus menerus sejak awal pertunjukan harus dibakar Ada api malam itu. Sinta menunjukkan diri.

Seperti pertemuan keluarga, pementasan Ki Sigid Ariyanto malam itu tidak pernah henti dari permainan musik kontemporer, tema lagu yang cepat beralih dari sedih ke gembira, dari senyap ke tepuk tangan.



Sayangnya, malam itu waktu terasa sangat singkat. Masih ada perbincangan dan apresiasi sebentar, namun, para penonton (seperti biasanya) segera mengemasi koran bekas dan gelas kopi yang disajikan 2 warung kopi yang turut mendukung acara malam itu. Mereka masih berbincang, perlahan-lahan pulang.

Sampai jumpa di purnama mendatang. Semoga masih kebagian kesempatan memeriahkan acara ini.

Omah Rembang kembali mengusung event "Kethek Ogleng Baca Puisi" dengan tag line "Wong Wedhok Kelangan Pasar" (Perempuan Kehilangan Pasar). Moment ini diangkat bersamaan dengan rencana pemerintah daerah Kabupaten Rembang yang akan menyerahkan pengelolaan pasar kepada swasta. Sinyalemen ini telah sampai kepada masyarakat, namun, bagaimana reaksi mereka terhadap sejumlah konsekuensi yang harus ditanggung atas kebijakan ini?

Sampai jumpa di purnama mendatang. Bagaimana dengan kota Anda?

---

Day Milovich,,

http://facebook.com/daymilovich

http://daymilovich.blogspot.com/

----

Event sebelumnya:

2011 Maret, 18 : "Kethek Ogleng Baca Puisi" #1 : Pembacaan puisi-puisi Gus Mus

2011 Maret, 25-29 : Pameran Lukisan Abdul Chamim, Pementasan Monolog, Teater, dan Puisi

---

Info Event:

Website OmahRembang:

http://omahrembang.org/

---

Gunakan link ini jika ingin share/posting di facebook/web/blog Anda:

http://www.facebook.com/note.php?note_id=186901858008720
Share this article :

0 comments:

Posting Komentar

 
Powered by : Day Milovich | SuaraRembang.net
Copyright © 2012. Omah Rembang - All Rights Reserved
Modified by Day Milovich
Proudly powered by Blogger