Pentas Komunitas Kethek Ogleng

Ada yang tak biasa di pelataran Rumah Candu di Desa Soditan Kecamatan Lasem Jumat (24/5) petang. Pelataran rumah terlihat terang benderang. Dua ratusan orang dari berbagai komunitas, tua, muda, Tionghoa, santri, mahasiswa dari Undip Semarang, Unirow Tuban dan Bojonegoro, pelajar SD Nawawiyah Rembang, SMK Kehutanan Sale hingga masyarakat umum selepas Magrib satu per satu ataupun berombongan mendatangi rumah yang kini dimiliki oleh Subagio, salah satu pengusaha Lasem tersebut.
Seperti tak ada sekat, semua yang datang ke rumah seluas 5.000 meter persegi itu saling berkenalan, duduk sembari ngobrol di atas tikar yang digelar di pelataran tengah rumah yang dulu ditempati Kapiten Liem itu. Minuman dan makanan ringan tersaji di atas tikar yang dibuat melingkari halaman tengah rumah kayu jati model Cina tersebut.
Tepat pukul 19:30, dari teras rumah tingkat dua mengalun orkes keroncong Gema Irama dari Desa Gedongmulya Lasem membawakan dua lagu Keroncong Bunga Angrek dan Langgam Nyidam Sari.
Keroncong pimpinan Ali Arifin itu sekaligus membuka perhelatan bulanan Kethek Ogleng Baca Puisi ke 12 yang mengusung tema Uculna Bandanira, Iki Sari Laes kerjasama antara Komunitas Kethek Ogleng Rembang, Forum Komunikasi Masyarakat Sejarah (Fokmas) Lasem dan beberapa pengurus Klenteng Tjoe An Kiong.
Allief Zam Billah, salah satu koordinator acara dari Komunitas Kethek Ogleng menerangkan tema tersebut diambil dari salah satu syair kesenian asli Lasem Laesan yang artinya mengajak semua manusia mengingat jatidirinya dengan melepaskan diri dari ikatan suku, ras, agama dan pangkat. ''Tema ini kami anggap cocok karena di Lasem ini sejak jaman dulu telah terjadi pembauran antar semua etnis dan agama. Melalui pentas ini kami ingin membangkitkan kembali peranan Lasem sebagai kota pembauran sekaligus kota budaya,'' terang dia.
Penampil Beragam
Memang di pentas Kethek Ogleng ke 12 itu sendiri penampil yang membawakan puisi sangat beragam dari berbagai kalangan. Selain penyair muda dari Lasem Nabila Bila serta Ahmad Muchdor Al-Farisy yang kini bergiat di Komunitas Sastra Tuban, Galih Pandu Adi dan Yayan Triyansah, pentas di malam itu juga diisi penampilan Padepokan Seni Budaya Asmaul Husna (Sam Bua) dari Pondok Pesantren Kauman Lasem dan Komunitas Sekar Jagad pimpinan Mbah Rokhim. Padepoan Sambua yang di pimpin Abdullah malam itu spesial membawakan puisi Malam Kerinduan diiringi alunan musik zapin (rebana, red). Tak urung penampilan Tommy Azzika, M Latif, A Tauhid, Rozak, Arif Akhmullah dan Syarifudin itu mengundang tepukan riuh dari ratusan penonton yang hadir. Sedangkan Komunitas Sekar Jagad malam itu menampilkan pertunjukan pencak varian Lasem. Pentas malam itu juga diisi oleh performance art Imam Bucah (Pati) dan Edwin (Bandung). Pentas yang berlangsung hingga pukul 22:30 itu ditutup oleh satu-satunya kelompok kesenian Laesan asli Lasem. Penasehat Fokmas Lasem Ernantoro dan Ketua Panitia Kirab Akbar Makco Thian Siang Sing Bo Rudi Hartono berharap bisa menggelar event kesenian yang rutin di Lasem. ''Tanggal 21-22 April mendatang, akan digelar event budaya besar-besaran memperingati HUT Makco Thian Siang Sing Bo di Lasem. Semoga saja dari dua event ini akan menyusul event budaya lainnya di Lasem,'' kata Ernantoro. (Mulyanto Ari Wibowo)
dituliskan kembali dari Suara Merdeka Suara Muria halaman Rembang 27 Februari 2012
dituliskan kembali dari Suara Merdeka Suara Muria halaman Rembang 27 Februari 2012

0 comments:
Posting Komentar