Headlines News :
Home » , , , » Seni Laesan Dilahirkan Kembali

Seni Laesan Dilahirkan Kembali

Written By Batik Doodle on Minggu, 29 Januari 2012 | 18.15

Delapan orang berbaju hitam berikat kepala itu mulai duduk melingkar. Dua orang diantaranya kemudian memukul badan jung (tempat air dari tanah liat, red) hingga menimbulkan bunyi khas blung blung blung. Dua orang lainnya menyusul memukul potongan bambu bulat ke sebatang kayu jati kecil persegi. Ketika kolaborasi bunyi blung dan bambu semakin meninggi, seorang dari kumpulan itu kemudian maju ke depan dan bersila.
Tak menunggu lama, dua kawannya langsung menutupi orang yang duduk bersila itu dengan kain hitam (dalam versi aslinya dikerudung dengan kurungan ayam ditutup kain jarit, red). Satu orang lainnya langsung menaburkan bunga yang diwadahi tampah ke tubuh yang tertutup kain. Dupa mulai mengepul.
Laesan begitulah nama kesenian yang dimainkan di acara Dies Natalis ke 28 SMP Negeri I Sluke yang ditonton ratusan orang Sabtu (28/1) malam. Laesan - turunan dari kata Arab laesun yang berarti suwung- itu sendiri merupakan seni mistis berusia ratusan tahun asli dari Lasem.
Sempat terkubur puluhan tahun dan jarang dimainkan di kalangan umum karena terkena stigma 1965, Sabtu malam lalu Laesan dihidupkan lagi secara berbeda oleh satu-satunya kelompok laesan yang tersisa dari Desa Soditan Lasem pimpinan Ngalim (62) dan Munadi (65) berkolaborasi dengan Komunitas Kethek Ogleng dan Gentong Miring Sluke. ''Laesan yang asli pemainnya mengalami suwung (trance, red). Namun karena kondisi dan situasi saat main di SMP Negeri I Sluke tidak memungkinkan, laesan kami mainkan tanpa trance dan berkolaborasi dengan pembacaan puisi. Kolaborasi dengan puisi sangat cocok karena intisari permainan laesan adalah syair,'' kata Munadi.
Empat Babak
Ngalim menjelaskan, Laesan yang asli memiliki empat babak besar permainan. Sesi pembuka saat mengerudungi pemain dengan kurungan dinamakan Ela-Elo. Selama babak Ela-Elo yang merupakan simbol manusia selama di kandungan itu, seluruh pemain Laesan tanpa kecuali menyanyikan syair la illah ha Ilallah iki sari laes secara berulang-ulang.
Ketika waktunya dirasa sudah tepat, babak kedua Uculna Bandanira, simbol kelahiran manusia, dimulai dengan membuka kurungan yang berisi pemain laesan. Seluruh pemain ganti menyanyikan syair uculno bondoiro iki sari laes, dunung Allah dunung, sopo iso nguculno kejaba Pengeran iro, iki sari laes juga secara berulang. ''Pemain laesan yang sudah suwung di babak ini akan menari keliling arena di dampingi dua pengawas,'' kata Ngalim.
Dia menambahkan babak ketiga dari Laesan adalah babak permainan yang menyimbolkan berbagai kehidupan manusia. Misalnya permainan yang diiringi syair Kembang Gedhang dan Jaran Dawuk, penari laesan yang sudah suwung bisa menyihir penonton yang dipilih untuk ikut menari di tengah kalangan. ''Ada juga permainan dengan syair Luruo Sintren dan Lereng Lereng. Luruo Sintren dipercaya bisa menyembuhkan penyakit orang yang dipegang laesan. Sedangkan Lereng Lereng dipercaya bisa menghilangkan segala tuah gaib senjata,'' terang dia.
Babak terakhir dari Laesan disebut dengan nama Lara Tangis, simbolisasi kematian manusia. Selama babak ini, seluruh pemain khidmat dan hening menyanyikan berulang-ulang syair, ana tangis layung - layung, larane wong wedi mati. sapa bisa ngelingno, kejaba Pengeran nira sampai pemain laesan kembali tersadar. (Mulyanto Ari Wibowo)

Dimuat di Suara Merdeka Suara Muria 30 Januari 2012
Share this article :

0 comments:

Posting Komentar

 
Powered by : Day Milovich | SuaraRembang.net
Copyright © 2012. Omah Rembang - All Rights Reserved
Modified by Day Milovich
Proudly powered by Blogger