SEKITAR lima tahun terakhir, dunia sastra Indonesia kian melaju.
Banyak karya lahir, banyak buku diterbitkan, banyak komunitas muncul, dan banyak acara digelar. Pengaruh itu bisa dirasa pula di sejumlah kabupaten yang berada di pantai utara Jawa Tengah bagian timur, atau lebih sering disebut kawasan Muria, yang meliputi Jepara, Kudus, Pati, dan Rembang.
Sejak 2007, muncul semacam gelombang baru dari generasi muda penulis di sana yang bersiap meneruskan jejak pendahulu. Seperti kita tahu, di kawasan dengan penanda gunung setinggi 1.602 meter itu telah melahirkan beberapa nama di blantika sastra Indonesia. Di Jepara, sebut saja Sunardi KS serta Ali Emje. Di Kudus ada Maria Magdalena Bhoernomo, Yudhi MS, dan Mukti Sutarman Espe. Di Pati kita pernah mendengar nama Akhlis Suryapati, Amir Yahyapati, Najib Kertapati, dan Anis Soleh Baasyin. Dari Rembang, siapa tak kenal penyair sekaligus kiai kharismatik Gus Mus?
Generasi Muda
Para penulis itu, secara langsung atau tidak, telah memacu generasi berikutnya untuk melanjutkan jejak kepenyairanmereka. Generasi itu biasanya membentuk kelompok, baik sastra atau teater.
Kelompok-kelompok itulah yang membentuk mereka dan seolah mengikat pula untuk tetap berada di dunia kata-kata.
Peranan dunia maya, terutama melalui jejaring sosial, menjadi ciri tersendiri bagi generasi tersebut. Mereka memanfaatkan facebook, blog, serta web untuk menampilkan karya. Di laman-laman itu, mereka juga berkomunikasi dengan yang lain ihwal apa saja. Pembicaraan bisa tentang evaluasi karya, rencana kerja bersama, atau sekadar saling bertegur sapa.
Penerbitan buku juga menjadi agenda yang mulai rutin dilakukan.
Penyair di Jepara misalnya, telah menerbitkan antologi Kesaksian Rumput (2007) dan Bintang Kata (2010).
Keduanya mengangkat nama Asyari Muhammad dan NH Tauchid, yang tak hanya bergulat dengan komputer, namun juga berusaha menemukan artikulasi sajak-sajaknya di atas panggung. Barubaru ini muncul juga nama Kartika Catur Pelita yang novelnya telah dicetak penerbit nasional. Beberapa komunitas di Jepara juga sering menggelar acara.
Di Kudus, beberapa waktu lalu terbit dua buku sastra, yakni kumpulan puisi Ullyl Ch bertajuk Selamat Datang Hujan (2009) dan kumpulan cerpen Bom di Ruang Keluarga (2010) milik Jimat Kalimasadha. Keduanya boleh dibilang penerus generasi sastra di Kota Keretek, meski Jimat sebenarnya telah lama menempuh jalur itu sejak kuliah di IKIP Semarang (sekarang Unnes).
Selain itu, ada pula komunitas anyar meski berisi orang-orang lama yang bernama Forum Apresiasi Sastra dan Budaya Kudus (Fasbuk). Di dalamnya tercatat nama Yudhi MS, Mukti Sutarman Espe, dan Jumari HS. Komunitas tersebut memiliki acara rutin setiap bulan.
Di Pati, ada Dwi Riyanto dan Pujianto, dua penulis yang tak lagi muda, tapi seolah baru menemukan keasyikan menulis beberapa tahun belakangan. Puisi mereka masuk dalam antologi Secangkir Kopi dan Puisi (2009) yang diterbitkan Taman Budaya Jawa Tengah.
Rembang menjadi daerah yang seolah paling produktif belakangan ini. Dari daerah paling timur di Jawa Tengah itu, muncul beberapa nama seperti Galih Pandu, serta Yayan R Triyansyah.
Selain itu, di sana juga ada komunitas baru yang bergiat lewat acara bertajuk Kethek Ogleng. Di pagelaran tersebut, tampil beberapa penulis dan penampil berbakat.
Harus diketahui, referensi yang minim merupakan kendala utama para penulis muda itu untuk berkembang. Meski internet telah terjamah, keterbatasan akses membuat mereka tak leluasa menjelajah dunia maya itu. Sementara karya sastra yang dijual di toko buku atau dipinjamkan dari perpustakaan umum masih sulit dijumpai. Oleh karena itu, Maka pencapaian mereka sejauh ini, bolehlah dikata cukup menjanjikan.(82) (Adhitia Armitrianto)
sumber Suara Merdeka Minggu
Banyak karya lahir, banyak buku diterbitkan, banyak komunitas muncul, dan banyak acara digelar. Pengaruh itu bisa dirasa pula di sejumlah kabupaten yang berada di pantai utara Jawa Tengah bagian timur, atau lebih sering disebut kawasan Muria, yang meliputi Jepara, Kudus, Pati, dan Rembang.
Sejak 2007, muncul semacam gelombang baru dari generasi muda penulis di sana yang bersiap meneruskan jejak pendahulu. Seperti kita tahu, di kawasan dengan penanda gunung setinggi 1.602 meter itu telah melahirkan beberapa nama di blantika sastra Indonesia. Di Jepara, sebut saja Sunardi KS serta Ali Emje. Di Kudus ada Maria Magdalena Bhoernomo, Yudhi MS, dan Mukti Sutarman Espe. Di Pati kita pernah mendengar nama Akhlis Suryapati, Amir Yahyapati, Najib Kertapati, dan Anis Soleh Baasyin. Dari Rembang, siapa tak kenal penyair sekaligus kiai kharismatik Gus Mus?
Generasi Muda
Para penulis itu, secara langsung atau tidak, telah memacu generasi berikutnya untuk melanjutkan jejak kepenyairanmereka. Generasi itu biasanya membentuk kelompok, baik sastra atau teater.
Kelompok-kelompok itulah yang membentuk mereka dan seolah mengikat pula untuk tetap berada di dunia kata-kata.
Peranan dunia maya, terutama melalui jejaring sosial, menjadi ciri tersendiri bagi generasi tersebut. Mereka memanfaatkan facebook, blog, serta web untuk menampilkan karya. Di laman-laman itu, mereka juga berkomunikasi dengan yang lain ihwal apa saja. Pembicaraan bisa tentang evaluasi karya, rencana kerja bersama, atau sekadar saling bertegur sapa.
Penerbitan buku juga menjadi agenda yang mulai rutin dilakukan.
Penyair di Jepara misalnya, telah menerbitkan antologi Kesaksian Rumput (2007) dan Bintang Kata (2010).
Keduanya mengangkat nama Asyari Muhammad dan NH Tauchid, yang tak hanya bergulat dengan komputer, namun juga berusaha menemukan artikulasi sajak-sajaknya di atas panggung. Barubaru ini muncul juga nama Kartika Catur Pelita yang novelnya telah dicetak penerbit nasional. Beberapa komunitas di Jepara juga sering menggelar acara.
Di Kudus, beberapa waktu lalu terbit dua buku sastra, yakni kumpulan puisi Ullyl Ch bertajuk Selamat Datang Hujan (2009) dan kumpulan cerpen Bom di Ruang Keluarga (2010) milik Jimat Kalimasadha. Keduanya boleh dibilang penerus generasi sastra di Kota Keretek, meski Jimat sebenarnya telah lama menempuh jalur itu sejak kuliah di IKIP Semarang (sekarang Unnes).
Selain itu, ada pula komunitas anyar meski berisi orang-orang lama yang bernama Forum Apresiasi Sastra dan Budaya Kudus (Fasbuk). Di dalamnya tercatat nama Yudhi MS, Mukti Sutarman Espe, dan Jumari HS. Komunitas tersebut memiliki acara rutin setiap bulan.
Di Pati, ada Dwi Riyanto dan Pujianto, dua penulis yang tak lagi muda, tapi seolah baru menemukan keasyikan menulis beberapa tahun belakangan. Puisi mereka masuk dalam antologi Secangkir Kopi dan Puisi (2009) yang diterbitkan Taman Budaya Jawa Tengah.
Rembang menjadi daerah yang seolah paling produktif belakangan ini. Dari daerah paling timur di Jawa Tengah itu, muncul beberapa nama seperti Galih Pandu, serta Yayan R Triyansyah.
Selain itu, di sana juga ada komunitas baru yang bergiat lewat acara bertajuk Kethek Ogleng. Di pagelaran tersebut, tampil beberapa penulis dan penampil berbakat.
Harus diketahui, referensi yang minim merupakan kendala utama para penulis muda itu untuk berkembang. Meski internet telah terjamah, keterbatasan akses membuat mereka tak leluasa menjelajah dunia maya itu. Sementara karya sastra yang dijual di toko buku atau dipinjamkan dari perpustakaan umum masih sulit dijumpai. Oleh karena itu, Maka pencapaian mereka sejauh ini, bolehlah dikata cukup menjanjikan.(82) (Adhitia Armitrianto)
sumber Suara Merdeka Minggu


0 comments:
Posting Komentar