 |
| BUKALAH HATIMU : Farikahtun Najikah, Sephia Anggita Ambarsari, Sufia Yulianingsih dan Lufiatul Laily berkolaborasi membawakan puisi Bukalah Hatimu, Bukalah Sedikit di pentas bulanan Kethek Ogleng Baca Puisi yang Selasa malam lalu digelar di Galeri Gentong Miring Sluke. |
Ketika kemerdekaan dihembuskan tanggal 17 Agustus 1945, terkandung maksud luhur agar setiap manusia Indonesia bisa menentukan sikapnya sendiri untuk mencapai kesejahteraan bersama. Tahun demi tahun berlalu. Kesejahteraan bersama belum juga nampak didepan mata. Justru, yang mengemuka adalah kesenjangan semakin lebar.
Perselisihan dan korupsi terjadi terus menurus di kalangan atas. Sementara rakyat bawah hanya bisa menerima kenyataan beban hidup yang semakin berat. Tema itulah yang menjadi benang merah puisi ''Bukalah Hatimu, Bukalah Sedikit'' yang dibawakan tiga siswi kelas VII MTS Negeri Pamotan Farikahtun Najikah, Sephia Anggita Ambarsari dan Sufia Yulianingsih.
Ditimpali lagu Indonesia Pusaka yang dibawakan oleh Lufiatul Laily, siswi kelas IV SD Negeri Karas, puisi yang dibawakan oleh anak-anak dari Sanggar Kancing Desa Pacing Kecamatan Sedan itu tak urung membuat puluhan remaja dari berbagai komunitas di Rembang yang datang di event bulanan Kethek Ogleng Baca Puisi yang digelar di Galeri Gentong Miring Sluke Selasa (16/8) malam tercekat.
Beberapa memilih ikut bersenandung lagu Indonesia Pusaka yang pernah dipopulerkan oleh Harvey Malaiholo, ''Hidup tiada mungkin, tanpa perjuangan, tanpa pengorbanan, mulia adanya. Berpegangan tangan, satu dalam cita, demi masa depan,
Indonesia Jaya.''
Pilihan puisi dengan menampilkan sisi lain kemerdekaan juga dilakukan beberapa penampil selanjutnya. Seperti Amien Prop dan Titian Memey, dua penyair muda asal Kaliori dan Sedan itu memilih duet membawakan puisi berjudul ''Di Stasiun''. Puisi gubahan keduanya itu menceritakan penantian akan sebuah kereta, metafora cita-cita kemerdekaan yang tidak juga datang.
Moh Limo
Sementara grup musik etnik Smara Gusti yang digawangi Beny Xp dan Ki Sigid Ariyanto memilih membawakan lagu gubahan mereka ''Moh Limo''. Lagu itu sendiri terinspirasi dari petuah Sunan Ampel agar manusia menghindari lima perilaku tercela (Mo Limo): tidak berjudi, tidak mabuk-mabukan, tidak mencuri, tidak madat dan tidak berzina. ''Kalau pemimpin dan seluruh bangsa ini tidak melakukan Mo Limo, kami yakin kesejahteraan bukanlah impian,'' tutur sang vokalis Abahnya Kanaya membuka penampilan Smara Gusti.
Meski puisi yang ditampilkan bernuansa kelam, namun menurut Nadhief Shidiqi – Ketua IPNU/IPPNU Rembang, pagelaran pembacaan puisi yang rutin digelar setiap bulan oleh Komunitas Kethek Ogleng Rembang bisa menjadi oase bagi iklim berkesenian di Rembang yang terkesan gersang. ''Dengan tumbuhnya komunitas-komunitas kesenian di Rembang, kami yakin selalu ada harapan untuk membuat perubahan meskipun kecil,'' kata dia. (Mulyanto Ari Wibowo)
pernah dimuat di
Suara Merdeka - Suara Muria 19 Agustus 2011
1 comments:
Semoga USAHA anda semakin JAYA dan SUKSES
APAKAH anda SULIT mndapatkan UANG, tapi MUDAH INTERNEtan
mari kita CEETAK UANG dengan INTERNET
Silahkan KUNJUNGI http://www.pembicarainternetmarketing.com/workshop-internet-jadikan-internet-sebagai-mesin-pencetak-uang.html
terima kasih
selamat BEKERJA dan selamat MENCOBA
Posting Komentar