
Pentas Bulanan Komunitas Kethek Ogleng
Pentas yang digelar pengiat seni Komunitas Kethek Ogleng Rembang Jumat (23/12) malam kemarin tetap sederhana saja. Sebuah sound system dengan satu mikropon, lincak bambu, dua lampu sorot, lampu, sembilan senthir dari botol bekas minuman dan sebuah sepeda menjadi aksesoris utama. Sedangkan bangunan tua bekas Stasiun Rembang tetap menjadi latar belakang. 80-an orang pengiat seni, rata-rata berusia muda, yang hadir juga hanya duduk lesehan beralaskan selembar koran.
Tidak ada kesan mewah jika melihat tampilan luar pentas bertajuk ''Hormati Ibummu Sayangi Teman'' itu. Namun yang menarik justru semangat dari tak kurang 20-an pengiat kesenian yang tampil. Tanpa mempedulikan keterbatasan sarana dan panggung, penampil di acara ke 10 selama 10 bulan berturut-turut itu tetap berusaha menampilkan karya mereka dengan penjiwaan maksimal.
Didik ''Pedhet'' Kundiarto misalnya. Seniman serba bisa dari Desa Leteh yang baru saja melangsir single campursari ''Kopi Lelet'' itu seperti orang meraung-raung saat membawakan puisinya sendiri yang berjudul ''Nasib Negeriku''. ''Aku tak peduli orang lain suka atau tidak. Yang penting aku suka. Suka gasak mengasak yang aku suka, demi reputasiku,'' teriaknya.
Lain lagi dengan duet penampil selanjutnya Allief Zam Billah dan Amien Prop. Saat Zam-begitu sapaan akrabnya- membacakan puisi karya pelukis Rembang Ipien Ngedot ''Pagi yang Cerah di Kota Para Penjarah'', Amien Prop ber-performing art ria di seputar pentas. Amien yang berpakaian perlente layaknya pejabat itu tak segan untuk mengotori tubuhnya dengan batu dan pasir. Bahkan di akhir performing art-nya, pemuda Kaliori itu tak segan memamah batu dan pasir. '' Karang dan pasirnya-pun mereka makan, untuk menganjal perut yang tak pernah kenyang. Pagi yang cerah di kota para penjarah, yang sebentar lagi cerahnya digantikan mendidihnya darah,'' lirih Zam ditingkahi performing art Amien Prop.
Kritik Sosial
Dua siswi kelas XI jurusan multimedia SMK Negeri Sale Herlinda dan Lia Adelia yang beriringan tampil ke pentas memilih untuk membawakan puisinya dengan iringan gitar akustik. Tak hanya puisi tentang cinta, keduanya juga membawakan puisi Rumah Kami karya mereka sendiri yang sarat kritik sosial. ''Tentang kehancuran bangsa kami, langkah hukum yang sia-sia tak perlu kau puja. Kuasamu tak melebihi konstitusi. Kami sudah cukup kenyang untuk menangis. Kami sudah cukup menderita dengan korupsi yang ada,'' lirih mereka.
Tak hanya pengiat seni dari Rembang, pentas malam semakin gayeng dengan partisipasi Komunitas Seni Cinta Bumi dari Kayen Pati, penyair Timur Budi Raja dari Madura, Nur Rokim dari Lamongan, Mbah Puji Pistol dan Imam Bucah dari Pati. Selain baca puisi, Timur dan Nur Rokhim, menyempatkan pula memberikan orasi budaya singkat tentang kesenian Indonesia. ''Kesenian Indonesia sebenarnya justru dihidupi dan dirawat oleh komunitas daerah seperti Kethek Ogleng ini. Namun sayangnya, banyak komunitas kesenian di daerah justru kurang mendapatkan perhatian baik dalam peta kesenian Indonesia maupun pemerintahnya,'' ujar Rokhim.
Pentas yang dimulai pukul 20:00 dan berakhir pukul 23:00 itu dipungkasi dengan performing art Ipien Ngedot dan Wawan Kunthet. Diiringi lagu ''Kebaya Merah'' Iwan Fals, keduanya hanya duduk diam seperti orang yang tengah menunggu datangnya sesuatu yang hanya mereka berdua yang tahu. (Mulyanto Ari Wibowo)
pernah dimuat di
Suara Merdeka Suara Muria 26 Desember 2011
video kegiatan :
klik disini
0 comments:
Posting Komentar