Headlines News :
Home » , , » Pentas Silaturahmi Jejaring Seni Muria

Pentas Silaturahmi Jejaring Seni Muria

Written By Batik Doodle on Senin, 24 Oktober 2011 | 23.24

MENDUNG tipis mengayuti langit di atas pelataran dalam bekas Stasiun Rembang Jumat (21/10) malam. Beberapa kali kilat menerangi langit. Namun tanda-tanda hujan tak menyurutkan 80-an pengiat seni dari Rembang, Pati, Tuban bahkan Semarang untuk mengikuti pembacaan puisi dan performance art yang rutin digelar komunitas independen Kethek Ogleng.
Pementasan Jumat malam kemarin merupakan gelaran ke delapan selama delapan bulan berturut-turut. ''Di edisi kedelapan ini, kami mengundang rekan dari daerah sekitar. Maksudnya untuk silaturahmi dan membangun jejaring kesenian khususnya di kawasan Muria,'' tutur Allief Zam Billah, pengiat komunitas Kethek Ogleng Rembang.
Mbah Puji Pistol, penjual kopi dari Pati yang 15 Oktober lalu baru merilis buku kumpulan puisinya ''Anjing Tetanggaku Anjing'' membuka pentas dengan puisi karyanya sendiri Sebuah Catatan Buat Nietzsche. Puisi itu sendiri menurut pria kelahiran 16 Desember 1966 itu adalah bentuk kegelisahannya atas kondisi religi saat ini. ''Tuhan telah mati! Apa kau bilang. Aku belum mati,'' lantun Mbah Puji dengan nada galau.
Seusai Mbah Puji turun pentas, pengiat seni dari Tuban Suud Ngambleh mengisi pentas dengan performance art 10 menit yang diberi judul ''Menanti Saat Pernikahan''. Memanfaatkan media sarung, Suud molah malih menjadi karakter lelaki tua yang menginginkan anak gadisnya menikah dengan orang kaya, gadis perawan yang resah, jejaka remaja yang mencinta hingga pejabat tua yang hendak meminang. ''Sekarang ini materi menjadi prasyarat yang penting atas sebuah pernikahan,'' kata dia menyimpulkan di akhir pementasan.
Pantomim
Tak ingin kalah, perupa Ipien Ngedhot mengisi pentas dengan pantomin berjudul ''Menyeret Anjing dan Ikan''. Pantomin Ipien mengingatkan sebagian penonton pada perjuangan lelaki tua menyeret ikan besar dalam cerita pengarang Amerika Serikat Ernest Hemingway The Old Man and The Sea. Anjing dan Ikan menurut Ipien adalah metafora dari permasalahan yang dihadapi dalam hidup.
Selepas Ipien, pentas malam itu tak ubahnya parade puisi. Penyair pelajar Rembang seperti Andan, Amin Prop, Muhammad Durrohman dan Adib Muhammad satu persatu mengisi pentas. Selain itu pentas juga diisi pembacaan puisi oleh Bayu penyair Pati, Galih Pandu penyair muda Rembang yang bergiat di berbagai komunitas di Semarang serta Adin Mbuh yang pengiat Komunitas Hysteria Semarang. Puisi dari berbagai genre yang dibacakan dengan interpretasi menarik tak urung membuat pentas yang berakhir pukul 23:00 tak terasa membosankan. (Mulyanto Ari Wibowo)

dimuat di Suara Merdeka halaman Suara Merdeka 24 Oktober 2011
Share this article :

0 comments:

Posting Komentar

 
Powered by : Day Milovich | SuaraRembang.net
Copyright © 2012. Omah Rembang - All Rights Reserved
Modified by Day Milovich
Proudly powered by Blogger