Headlines News :
Home » » DATA AWAL RISET LAESAN LASEM

DATA AWAL RISET LAESAN LASEM

Written By Batik Doodle on Senin, 12 September 2011 | 07.29

Oleh : Bodhi Darmawan



Lasem, adalah sebuah kota kecil yang letaknya di antara kota Rembang di Jawa Tengah dan Tuban di Jawa Timur. Kota ini sekitar tahun 1300an dikenal sebagai Tiongkok kecil. Kota Lasem sebagai Tiongkok kecil mudah terlihat ketika menyusuri sejumlah perkampungan di kota ini. Banyak warga di sini yang masih mempertahankan bangunan rumah mereka dengan arsitektur bergaya Cina.
Masyarakat di Lasem memiliki beraneka ragam budaya daerah, mulai dari budaya daerah yang bernuansa keagamaan hingga budaya daerah yang bernuansa adat-istiadat.
Dalam perkembangannya unsur-unsur tersebut banyak teradopsi ke dalam wujud kesenian daerah sebagai petuah sekaligus hiburan rakyat.
Di daerah Lasem, dikenal sebuah bentuk kesenian yang disebut Laesan, sebuah kata yang kemungkinan besar berasal dari bahasa Arab, Laesun yang berarti hampa.
Di lingkungan pesisir pantai utara pulau Jawa, seperti di Pamanukan, Indramayu, Cirebon, Kuningan, dan Pekalongan bentuk kesenian seperti ini yang bernama Sintren telah dikenal sejak lama dengan perbedaan yang tidak terlalu mencolok antara satu dengan lainnya.
Seni tradisi Laesan Lasem ini, merupakan seni pertunjukan rakyat yang terdiri dari unsur tari, nyanyi, dan musik dengan atmosfer magis yang kental.
Laesan Lasem dipertunjukkan di tanah lapang biasa. Dalam bentuk lingkaran dan berdurasi kurang lebih 2 jam.

LAESAN LASEM

ARTISTIK
PEMAIN
Laesan : 1 orang Dalang : 1 orang PENJAGA LAESAN : 3 orang PENABUH : 8 orang PENYANYI : 1 orang
PROPERTI
Tampah sajen : Kembang setaman dan pisang emas Kurungan (2 buah) : Kurungan ayam besar diselubungi kain putih Kostum : Pakaian hitam-hitam dan ikat kepala hitam untuk Laesan

ALAT MUSIK
1. Jun (terbuat dari tembikar)
2. Potongan Bambu


RITUAL SEBELUM PEMENTASAN
24 jam sebelum pementasan, Laesan mensucikan dirinya dengan melakukan ritual puasa. Sebelum memulai ritual itu Dalang memberikan wejangan dan mantra-mantra pada Laesan.
Sesaat sebelum pertunjukan, Dalang ”membersihkan lokasi pertunjukan dari energi-energi negatif yang muncul.

PERTUNJUKAN
Pertunjukan dimulai dengan dimainkannya tembang ’Ela-Elo’ oleh para penabuh dan penyanyi. Tidak berapa lama kemudian Penari yang dinamakan Laesan diikat tubuhnya menggunakan tali oleh Penjaga Laesan. Kemudian Laesan dituntun Dalang mengelilingi kurungan untuk kemudian dimasukkan pada kurungan yang didalamnya telah berisi seperangkat kostum berwarna hitam dan dupa kemenyan yang telah dibakar. Tembang ’Uculno Bandanira’ dimainkan. Di dalam kurungan yang penuh dengan asap dupa, Laesan mulai trance. Sebelum kurungan dibuka biasanya Laesan minta tembang kepada Penjaga Laesan yang mendekat ke kurungan dan permintaan ini harus segera dilayani. Laesan kemudian berontak dengan cara menggoyang-goyangkan kurungan minta keluar.
Kurungan dibuka oleh Penjaga/Dalang. Laesan masih duduk bersila dengan tali lilitan yang telah terlepas dan telah berganti baju mengenakan pakaian kebesarannya yang berwarna hitam-hitam. Dalang mendekat ke arah Laesan dan mencoba untuk mengagetkan Laesan dengan berteriak di telinga Laesan. Laesan kaget dan tersentak kemudian berdiri dan memulai tariannya dalam keadaan trance dan dengan mata yang terpejam. Laesan akan terus menari selama tidak ada yang salah dalam permainan musiknya. Laesan akan terjatuh jika dia menemukan ada yang salah pada musik yang mengiringinya. Jika Laesan terjatuh, Laesan akan didudukkan dan kemudian dikurungi lagi sampai dia berontak lagi minta dikeluarkan dari kurungan.

Session Penari Baru
Ketika Laesan yang sedang menari meminta tembang ’Kembang-Kembang Gedhang’. Biasanya akan ada sedikit keriuhan di antara penonton karena penonton tahu kalau Laesan ingin ditemani menari. Laesan akan menghampiri penonton, menyentuh salah seorang penonton, meniup telinganya sehingga orang itu menjadi trance dan menari bersama Laesan.

Session Dolanan
Ketika Laesan meminta tembang ’Jaran Dawuk’ dan tembang itu mulai dimainkan, Laesan akan menghampiri penonton, menyentuh salah seorang penonton, meniup telinganya sehingga orang itu menjadi trance, Penjaga Laesan akan memberikan sapu yang kemudian digunakan oleh Penari Baru sebagai kuda tunggangan seperti permainan Kuda Lumping

Session Pengobatan
Ketika Laesan dari dalam kurungan meminta tembang ’Luruo Sintren’, Dalang akan memasukkan Tampah Sajen ke dalam kurungan. Laesan berontak dan dikeluarkan dari kurungan. Laesan sambil terus menari, membawa Tampah Sajen keliling dan memberikan bunga atau pisang emas pada penonton yang disukainya

Session Memasukkan atau Menghilangkan ”Aura” Pada Senjata Milik Penonton
Dalang akan memberikan ruang dan waktu pada penonton yang ingin mengisi atau menghilangkan ”aura” senjata tajam milik mereka oleh Laesan diiringi tembang ’Lereng-lereng’.

Session Penutup
Ketika Dalang meminta lagu ’Lara Tangis’ itu menandakan bahwa pertunjukan akan selesai. Dalang membuka kurungan kemudian menyadarkan Laesan dari kondisi trance.


SOSIAL BUDAYA
Pak Yon Suprayogo adalah orang asli Lasem yang pada akhir tahun ’80an merasa gelisah akan eksistensi kesenian ini. Dia ingat ketika kecil di sekitar tempat tinggalnya dahulu ada sebuah kesenian yang bernama Laesan sering dimainkan. Kemudian dia berkeinginan menghidupkan kembali Laesan itu dengan cara mengumpulkan seniman-seniman tua Laesan di rumahnya yang mendapatkan respon yang positif dari seniman-seniman lainnya.
Mereka kemudian mengadakan latihan-latihan kecil karena ada beberapa bagian atau syair lagu dari Laesan yang sudah mulai dilupakan.
Share this article :

0 comments:

Posting Komentar

 
Powered by : Day Milovich | SuaraRembang.net
Copyright © 2012. Omah Rembang - All Rights Reserved
Modified by Day Milovich
Proudly powered by Blogger