Headlines News :
Home » , , , » Mengapresiasi Pancasila Lewat Puisi

Mengapresiasi Pancasila Lewat Puisi

Written By Batik Doodle on Rabu, 03 Agustus 2011 | 07.41

Pancasila, masihkah falsafah hidup bangsa itu diamalkan dalam kehidupan sehari-hari? Jika iya, mengapa masih begitu banyak ketimpangan-ketimpangan sosial yang terjadi di kehidupan masyarakat Indonesia. Mengapa korupsi dan kekerasan masih menjadi bagian cerita bangsa ini.
Pertanyaan dan kegelisahan itulah yang mengemuka di pentas bulanan independen komunitas penyair muda Rembang Kethek Ogleng yang digelar Jumat (24/6) alam di pelataran bekas Stasiun Rembang. Dengan tema Pancasila : Satu!, sejumlah pengiat seni muda yang datang dari beberapa kecamatan mengantarkan satu per satu karyanya dihadapan puluhan penonton yang duduk lesehan beralaskan kertas koran.
Titian Memey, gadis remaja asal Sedan maju ke pentas dengan sajak ''Pancasila!''. '' Satu : Ketuhanan Yang Maha Esa. Tapi kenapa orang masih membunuh atas nama tuhan dan agama. Lalu dimanakah Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab dan Persatuan Indonesia? Tak bisakah kita duduk dan berbicara lagi dengan Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan / Perwakilan. Bila begini terus, kapan kita bisa meraih Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia,'' lirih Titian Memey, gadis asal Sedan saat membacakan puisinya berjudul Pancasila.
Secara satir Ahmad Setiawan dari Tasikagung melukiskan melunturnya Pancasila dalam kehidupan sehari-hari melalui puisinya ''Terkilir'' ''Apakah lehermu sedang terkilir. Setiap aku berusaha menatapmu dari depan, melirikmu dengan malu-malu dan bahkan pernah juga aku mengintipmu dengan memasang kamera pengintai sekalipun. semuanya sama hasilnya. Paling kau tetap saja berpaling. mungkin kau cuma mau menatap ku ketika aku telah putus asa dan tak lagi memperhatikanmu, Garudaku,'' kata dia.
Kepribadian Pancasila
Amien Prop yang tampil kemudian melayangkan kegalauannya atas kehidupan tanpa kepribadian Pancasila lewat sajak Seabad Mengenang Indonesia. ''Kita menyambut tamu selayaknya raja sendiri. Tak malu kita justru hanyut bersama budaya tamu,'' ujar dia.
Pelajar Madrasah Aliyah Mu’allimin Rembang yang juga mondok di TPI Raudlatut Thalibin Leteh Muhammad Abdurrahman memilih sajak Kucing – Sutardji Calzoum Bachri yang digambarkannya mewakili kehilangan Indonesia akan Ketuhanan Yang Maha Esa. “Meong, seperti kucing yang mengais tong sampah, kali-kali menemukan tuhan di dalamnya.. satu untukmu dan satu untukku”,'' papar dia yang cukup apik membawakan puisi itu.
Pentas puisi sederhana yang telah digelar empat bulan berturut-turut itu terasa semakin pedih ketika Diaz Kundi melantunkan Sajak Orang Bersalah kemuka hadirin. Secara lantang ia menyatakan ketidakpercayaannya kepada birokrasi yang tak lagi memegang falsafah bangsa. ''Jangan salahkan kami jika tak lagi patuh pada birokrasi. Karena birokrasi hanya membuat kami berputar dalam lingkaran setan,'' tandas dia.
Syair-syair yang disajikan pengiat seni muda Rembang yang awalnya bertemu lewat jejaring sosial Facebook itu memang terkesan muram. Namun mengutip N Hatta Macalau, penulis novel Mirdad Syarif yang hadir di pentas, potret muram bangsa yang tercermin dalam syair pengiat seni Rembang itu menjadi tantangan bagi semua pihak untuk intospeksi dan berbenah diri menuju Indonesia yang lebih baik. (Mulyanto Ari Wibowo)

pernah dimuat di Suara Merdeka - Suara Muria 27 Juni 2011
Share this article :

0 comments:

Posting Komentar

 
Powered by : Day Milovich | SuaraRembang.net
Copyright © 2012. Omah Rembang - All Rights Reserved
Modified by Day Milovich
Proudly powered by Blogger