Headlines News :
Home » » Desa Karangsari, Desa Kethoprak

Desa Karangsari, Desa Kethoprak

Written By Batik Doodle on Senin, 02 Mei 2011 | 22.12


Jalan menuju Desa Karang Sari Kecamatan Sulang siang itu cukup berdebu. Jalanan aspal yang menghubungkan desa Karang Sari dengan desa tetangga memang telah beraspal. Tapi di musim kemarau ini, jalan desa yang beberapa bagian sudah nampak berlubang tersebut tertutup debu sebagian. Sesaat setelah melewati jalan aspal berdebu tebal tersebut, sebuah papan nama terpampang sederhana di sudut jalan masuk desa. '' Sangar Ketoprak Karya Cipto Utomo Desa Karangsari pimpinan Bapak Suripto'' Begitu tulisan yang terpampang di papan nama tersebut. Hanya itulah satu-satunya penanda bahwa orang telah memasuki wilayah Desa Karangsari Kecamatan Sulang. Tidak ada gapura besar atau penanda lainnya selain papan nama sederhana itu.
Harus diakui, Desa Karangsari tak bisa dilepaskan begitu saja dari kesenian ketoprak. Sebelum bermunculan grup-grup kethoprak di Rembang, Karang Sari telah memiliki grup Kethoprak semenjak tahun 1975. Grup kethoprak Karang Sari tersebut berpentas hampir diseluruh wilayah eks Karesidenan Pati.
Selain itu, dari desa berpenduduk 636 KK ini, nama ketoprak Rembang sempat mengharu biru di tingkat Propinsi Jawa Tengah. Juara II Lomba Ketoprak Tingkat Jawa Tengah tahun 1988 menjadi sebuah penanda tebal bagi kiprah Desa Karangsari di peta ketoprak Rembang.
Penanda lain identitas ketoprak bagi desa Karangsari juga dapat di lihat saat menjadi juara I lomba ketoprak tingkat Kabupaten Rembang selama tiga kali berturut-turut semenjak tahun 1984 - 1987. '' Jika lomba ketoprak tingkat Rembang di teruskan hingga saat ini, kami yakin akan terus memenangi lomba itu,'' kata Suripto, Kepala Desa Karangsari yang juga menjadi pemimpin Sanggar Ketoprak Karya Cipto Utomo.
Di desa yang dipimpinnya itu, Suripto mengatakan tinggal semua penduduk desa setidaknya pernah ikut pentas kethoprak. Jika tidak ikut grup kethoprak Karya Cipto Utomo, warga bisa bergabung dengan grup kethoprak lainnya yang ada di desa itu yaitu Karya Mudho Utomo. Biasanya, warga dari usia anak-anak usia sekolah sudah mulai diikutkan dalam setiap pentas kethoprak. Warga baru berhenti ikut pentas jika sudah mulai berkeluarga. '' Begitu seterusnya, mereka yang sudah menikah dan punya anak agak besar, menitipkannya untuk dididik main kethoprak. Dari kesadaran seperti ini, regenerasi kethoprak di Karang Sari terus dilakukan dan tidak pernah mati,'' terangnya.
Meski menyandang gelar sebagai desa kethoprak, yang cukup mengherankan adalah desa itu tidak memiliki satupun kelompok karawitan yang berfungsi sebagai pengiring untuk pentas grup kethoprak. Biasanya, kata Suripto, jika akan menggelar pentas, warga harus menyewa kelompok karawitan dari daerah lain. '' Usaha untuk merintis pembuatan kelompok karawitan sudah beberapa kali kami lakukan. Beberapa proposal pencarian dana sudah kami kirimkan ke dinas terkait. Tapi sampai saat ini kami belum mendapatkan bantuan apapun untuk dapat merealisasikan pembentukan kelompok karawitan tersebut,'' ujarnya.
(Mulyanto Ari Wibowo)


dokumentasi Mulyanto Ari Wibowo pernah dimuat di Harian Suara Merdeka Suara Muria 31 Agustus 2005
Share this article :

0 comments:

Posting Komentar

 
Powered by : Day Milovich | SuaraRembang.net
Copyright © 2012. Omah Rembang - All Rights Reserved
Modified by Day Milovich
Proudly powered by Blogger