Headlines News :
Home » » Pelajaran Pertama

Pelajaran Pertama

Written By omahrembang.org on Minggu, 03 April 2011 | 13.54

Di sebuah lapangan dalam gedung yang cukup luas, milik penguasa. Bagaimana aku menyangka kau mampu pulas tertidur hanya beralaskan tangan saja. Karpet sudah tak lagi berwarna bekas tumpahan kopi dan kaki saat sore tadi entah kopi siapa yang terpaksa tumpah melengkapi rombengnya karpet bekas pijakan kaki – kaki siapa saja di sana.

Sedang Pak dhe menikmati empuknya ranjang di kamar milik ajudan orang nomer dua di kota ini. Barangkali sengaja malam itu seolah hendak berlomba dengan malam, siapakah yang akan lelap duluan, kau dan aku berbicara tentang banyak hal dan keadaan.

Sayup sayup suara ayat menjelang subuh dilantunkan dari masjid, serupa gendongan bunda tiba – tiba entah di perbincangan yang mana kudapati diriku sudah tergeletak di sebelahmu sebagaimana beberapa hari yang lalu setelah lelah seharian bertemu dengan banyak kawan.

Darimu dan banyak kawan lain, aku menemukan kerinduan  akan sebuah kahanan tapi semoga kekhawatiranku tidak beralasan. “Jangan – jangan hanya kesenangan sesaat ketika selama ini banyak kegiatan seni yang terpaksa mati dikebiri. Sebab semua seperti sudah berubah menjadi dua kubu yang saling terpaksa atau dipaksa membantai masing – masing mereka yang pro dan kontra penguasa,”.

Ketika kesenian digerakkan oleh tangan kontra penguasa, maka patut dicurigai sebagai bibit perlawanan yang akan menumbangkan dan merusak tatanan pemerintahan, barangkali ini yang selama ini ada dalam benak para penguasa, sehingga mereka senyatanya tak pernah sedikitpun memiliki perhatian akan kantong – kantong kesenian lalu kami leluasa berkata “Pemerintah biadab tak peduli seni” dan sebaliknya bila kesenian muncul dari tangan – tangan yang memiliki kedekatan dengan kekuasaan patut pula dicurigai sebagai kepanjangan tangan kekuasaan dan mereka layak berkata “Seharusnya demikianlah kesenian berjalan beriring bergandengan dengan pemerintahan” selalu ini selama ini yang muncul dalam wacana.

Lalu akankah kau salahkan jika ketika hati ini belum benar – benar siap berhadapan satu meja tiba – tiba mereka datang menawarkan senyuman dan uluran tangan “Mari satu kata,” katanya, kita ciptakan kota berbudaya dan hidupkan kantong – kantong kesenian.

Aku jadi teringat katamu malam itu bahwa kita mesti bijaksana. “Jangan terburu menyimpulkan tentang sebuah kahanan,” katamu. Lalu kucoba memaknai setiap kalimat bijak yang selalu mengalir bersama senyum yang selalu lekat di bibirmu saat mengurai kalimat.

Dan siapapun mereka kita mesti melihat bahwa mereka manusia yang barangkali memang benarlah memiliki i’tikad baik untuk bersama bergandeng tangan, katamu. “Kalau niat mereka benar, kenapa tidak kita terima dengan lapang dada,” sambil kau benarkan letak kaca matamu, malam itu.

Jangan banyak berharap kepada apapun dan siapapun, maka ketika kita punya niat untuk berbuat jalanilah dengan hati. Aku tak lupa kalimatmu yang terakhir sebelum tiba – tiba aku lelap di sebelahmu beralaskan karpet rombeng memandang langit – langit gedung yang biasanya dipergunakan untuk lapangan tenis milik penguasa nomer dua di kota ini.

Rembang, 3 April 2011
(dan perjalanan akan terus berlanjut)

Penulis Allief Zam Billah
Share this article :

0 comments:

Posting Komentar

 
Powered by : Day Milovich | SuaraRembang.net
Copyright © 2012. Omah Rembang - All Rights Reserved
Modified by Day Milovich
Proudly powered by Blogger