Headlines News :
Home » » Bagaimana Aku Bertanya

Bagaimana Aku Bertanya

Written By omahrembang.org on Minggu, 03 April 2011 | 13.52

Bagaimana aku bertanya tentang apa yang sesungguhnya terbersit di pintamu saat engkau berlama – lama dalam doa. Menantimu yang khusyuk dalam pinta, kupandangi bangunan pesantren menjulang di samping masjid tempat aku mengantarmu berdoa barangkali ada doadoa yang lirih terdengar dari sana atau sekedar mendengar pengajian mengisi jam – jam rutin para santri. Mungkin terlalu jauh hingga telingaku tak mampu mencuri dengar pengajian yang digelar.

“Sebuah pesantren tak jauh dari Stasiun kota yang mengilhamiku tentang banyak hal,” katamu. Memberimu rindu bahkan sebelum kau beranjak dari kota ini. Inilah kekagumanku atasmu ketika keresahan begitu mendalam menyayat jiwa dan hati saya akan kota ini, kau hadir dengan segenap kerinduan dan kekaguman yang hampir selalu kau ucap di setiap perbincangan.

Lalu aku bertanya pada diriku benarkah yang selama ini telah aku lakukan. Jika pembenaran dan pemakluman harus saya lakukan atas sesuatu yang telah diperbuat pemimpin kota ini, lalu bagaimana nasib masa depan kota ini? “Terlalu jauh kau berfikir soal masa depan kota, memangnya kau siapa?” kata sebagian orang. “Kau juga belum tentu lebih baik dari dia bila di posisi yang sama,” kata sebagian lain.

Entahlah barangkali aku sedikit lebih tahu dibanding engkau yang sejenak melintas di kota ini sehingga cara melihat dan merasakan kahanan kota ini, kita berbeda. Bagaimana bisa membiarkan kesewenang – wenangan penguasa kepada pedagang kecil yang mengais rejeki di kanan kiri pelabuhan yang belum diresmikan. Mereka digusur sebab tempatnya hendak didirikan restoran oleh orang nomor satu di kota ini. Padahal mereka tidak cuma – cuma menempati lahan, tetapi membeli dari setiap tempat mereka berjualan. Tetapi dengan begitu mudahnya diusir tak beda anjing liar.

Belum lagi soal korupsi yang menjadikan orang nomor satu di kota ini menyandang gelar tersangka namun dengan begitu gagahnya masih memimpin kota. Bahkan tahun lalu, kota ini gempar dengan ‘angkatan 70-an’ dalam penjaringan calon pegawai negeri sipil sebab mesti bayar minimal 70 juta, bahkan mencapai seratus juta setelah lewat pintu – pintu perantara.

Ada satu keluarga 6 orang diterima sebagai pegawai, Sedang menunaikan ibadah haji, sedang melangsungkan pesta pernikahan pada saat tes ujian berlangsung, nyatanya di pengumuman hasil seleksi nama mereka masuk dalam daftar lulus.

Dan yang lebih menyedihkan lagi satu orang yang penderita penyakit jiwa juga ternyata diloloskan dan menjadi pegawai negeri sipil. Sungguh kota yang benar – benar telah gila. Walau kabar angin menyebutkan bahwa SK mereka yang termasuk angkatan 70-an tidak ada satu bankpun yang menerima sebagai agunan. Katanya juga, mereka hingga setahun ini menerima SK, belum menerima gaji yang seharusnya sudah dinikmati.

Namun bila ternyata engkau merasakan keindahan kota ini dan bahkan kau telah rindu untuk lagi kembali saat kau masih di sini bersamaku dengan segenap kegelisahan, sungguh sesuatu yang luar biasa dan entah aku mesti bangga atau bertanya.

Rembang, 03 April 2011

Penulis Allief Zam Billah
Share this article :

0 comments:

Posting Komentar

 
Powered by : Day Milovich | SuaraRembang.net
Copyright © 2012. Omah Rembang - All Rights Reserved
Modified by Day Milovich
Proudly powered by Blogger