Headlines News :
Home » » Kecewa Dalam Doa

Kecewa Dalam Doa

Written By omahrembang.org on Minggu, 03 April 2011 | 13.26

Diruang tamu sederhana, ada satu meja dan empat kursi, serta tembok batu bata tanpa kulit. Duduk tiga orang laki-laki, berseragam, baju masuk, Hp dalam gengaman yang satu berkaca mata hitam, yang dua tak berkacamata, menunggu tuan rumah yang baru menyiapkan kopi untuk mereka.
“Ini kopinya, silahkan diminum, pak.” Tawar seorang perempuan pemilik rumah itu yang baru sepuluh hari ditinggal mati suaminya,karena kecelakaan tertimpa balok cor, ketika bekerja di bangunan kota Surabaya.
“O…ya, terima kasih bu..! Jawab salah satu diantara mereka sambil melempar senyum tipisnya pada perempuan pemilik rumah yang baru menjanda.
“Begini bu…, kedatangan kami kesini, ingin menanyakan soal kemarin, masalah anak ibu yang ingin  mendaftar pegawai dengan mudah dan cepat diterima. Lanjut dan papar lelaki yang mengenakan pakaian keki hitam.
Sementara lelaki yang kumisnya tipis, kulitnya kuning langsat, rambutnya rapi, masih diam membisu tanpa bicara sepatah kata. Kadang-kadang melempar senyum tebal pada perempuan janda yang kurus badannya.
“O….., masalah itu, jadi pak, pasti! Semua persyaratan yang bapak minta sudah saya siapkan semua. Foto copy ijazah ligalisir, surat keteranagan sehat, surat keterangan berkelakuan baik, dan puluhan juta rupiah sudah saya siapkan sejak kemarin. Saya malah nunggu-nunggu kedatangan bapak lho..! Jawab perempuan janda berusia empat puluh lima tahun, rambutnya keriting, badannya kurus, dengan sejelas-jelasnya disertai rasa gembira yang menebar diseluruh raut mukanya.
“Oke..! berhubung semua perasyaratan sudah lengkap, biar aku bawa sekalian supaya prosesnya lebih mudah dan cepat. Mau nunggu apa lagi! Timpal dan pinta lelaki  tak berkacamata, berbaju keki dan berdasi meyakinkan.
“ya pak, aku setuju. Lebih cepat lebih baik. Maaf ya pak atas hidangan yang sederhana ini,” Balas perempuan, janda itu.
Satu buah stopmap berisi foto copy ijazah ligalisir, surat keterangan sehat, dan surat keterangan berkelakuan baik, serta amplop berwarna coklat berisi uang puluhan juta rupiah, diambil dari dalam kamar lalu diserahkan semua pada lelaki berkacamata hitam.
Perempuan janda dan kurus senang hatinya. pikirannya melayang jauh kemasa depan. Seolah-olah anaknya sudah diterima sebagai pegawai dengan status kaum bayar. Hatinya senang, karena dialah anak satu-satunya yang diharapkan menjadi penopang hidup keluarga, menggantikan posisi ayahnya menjadi kepala rumah tangga yang menanggung beban tiga adiknya yang masih kecil-kecil.
“Baik., kalau begitu kami undur diri. Semoga prosesnya lebih cepat dan segera dapat diterima.” Tegas lelaki berkacamata hitam, disertai ucapan doa yang mantap keluar dari bibir tipisnya yang doyan omong.
***
Proses penerimaan pegawai sudah dilaksanakan. Pengumuman di media masa dan media elektronika sudah diumumkan. Orang-orang yang mendaftar secara pribadi maupun ada yang menyalurkan, sibuk mencari berita-berita itu.
Minggu berikutnya, didepan kios koran, ada seorang perempuan janda kurus, berambut kriting, bersama anaknya yang baru lulus  DIII PGSD, Kelihatan  sibuk membolak-balik koran, kadang-kadang bagian tengah koran  itu jatuh ketanah, diambil, ditata, dibolak-balik lagi, lalu duduk karena lelah berdiri.
Wajah serius dan tegang nampak dikedua wajah seorang janda kurus dan anaknya.
“Hai…! hati-hati kalau baca koran. Semua itu barang dagangan, Jangan ngawur!” bentak disertai rasa jengkel penjual koran yang perutnya gendut berkumis tebal.
Perempuan janda kurus dan anaknya tak memperdulikan bentakan penjual koran itu. Mereka berdua masih sibuk mencari berita tentang penerimaan pegawai yang baru didengar dari temannya bahwa pengumuman penerimaan pegawai dikota yang semerawut, dan bising serta kotor, sudah diumumkan.
Berita dari halaman pertama sampai halaman terakhir terus dibidik dengan mata tak pernah berkedip. Berkali-kali dilihat dan dibaca, yang ada hanya berita tentang, kakek mencabuli anak dibawah umur. Pembunuhan. Pegawai negeri yang kawin lagi. Dan berita misteri. Lalu dihalaman sebelum akhir ditemukan berita tentang resep makanan Amerika yang serba mahal bahan dasarnya.  Dihalaman berikutnya dipampang pengumuman penerimaan murid dari perguruan ‘sapto guno’ yang amat terkenal di kota setempat dengan ilmu pernafasan dan pengobatan alternatifnya. Di halaman pojok akhir ada pengumuman kenaikan pajak bumi dan bangunan.
Perempuan janda kurus dan anaknya kelihatan lesu. Tiga jam membolak-balik koran, tak menemukan apa yang mereka cari.
“Sudah..sudah…! cukup, dikembalikan  saja korannya kalau tidak dibeli.!” Bentak lelaki perut gendut, berkumis tebal, sambil mengambil koran dari tangan mereka.
Kemudian mereka berdiri dan pergi dari tempat penjual koran itu. Mereka tak ada perasaan jengkel sama sekali dengan penjual koran yang sedikit agak marah pada mereka. Mereka menyadari bahwa merekalah yang tak tau diri. Koran dibolak-balik selama tiga jam tapi tak satu pun yang dibeli.
Wajah mereka berdua nampak lelah dan kecewa. Apa yang harapkan selama ini untuk menjadi pegawai, ternyata tak semudah yang dibayangkan.
Mereka sudah tak punya apa-apa. Sawah, ladang, dan sapi ludes terjual untuk biaya pendaftaran pegawai anaknya, yang katanya proses cepat dan mudah ketika membayar puluhan juta rupiah.
“O..ya bu,  mungkin berita itu sudah tidak dimuat hari ini. Kita coba cari diloakan Koran saja bu.” Ajak dan pinta anak dari perempuan janda kurus dengan sedikit semangat, penuh harap dan percaya diri.
Mereka berdua akhirnya berangkat berjalan kaki menyusuri trotoar kotor, baunya membuat pusing kepala dan perut sakit, keluar dari got saluran air yang tersumbat. dan membuat sesak napas siapa saja yang lewat.
Pukul 14.30 WIB mereka berdua sampai dipasar loakan. Rasa tak sabar secepatnya membolak-balik  koran bekas, mencari berita tentang penerimaan pegawai kota seminggu yang lalu.
Mereka berdua mencari koran  edisi/Senin, 21 Nopember  2009. pada waktu itu tanggal 28 Nopember 2009. semua sudah dibolak-balik kesana kemari. Yang ditemuakan hanya edisi/Minggu, tanggal 20 Nopember 2009. Lelah, lesu dan kesal, hinggap hati, pikiran, dan badan serta mata mereka berdua.
“Pak.., apa masih ada koran edisi/Senin 21 Nopember 2009?”  Tanya anak perempuan janda kurus kepada penjual koran bekas yang hidungnya pesek bertubuh pendek, memakai kacamata plus tebal,  setebal koper hitam tua yang  berada disampingnya. Koper tua yang sering digunakan menyimpan majalah-majalah bekas berkelas.
“Dicari saja, mana mungkin saya tau koran edisi itu. Semua bekas. Setiap hari datang dan bertumpuk disini.” Jawab penjual koran bekas , agak sedikit jengkel sangking lelahnya.
Mereka berdua mencari dan terus mencari. Dibalik dan dibaca, yang ada hanya edisi/minggu lalu dan edisi bulan lalu. Bosan, kesal dan dendam mulai merayap diseluruh anggota tubuhnya.
 Akhirnya perempuan janda kurus itu memberanikan diri untuk bertanya lagi pada si penjual koran bekas itu.
“Pak…, apakah bapak tau tentang berita penerimaan pegawai  kota ini satu minggu yang lalu?
Apa.., berita penerimaan pegawai kemarin? Sebentar-sebentar, saya sempat baca berita itu. Malah saya simpan kok korannya, sebab anak saya yang ragil juga diterima menjadi pegawai kota ini.” Jawab pejual koran bekas  sambil mengingat-ngingat koran yang pernah dibacanya kemarin. Koran itu ia simpan,  tapi agak lupa menaruhnya. saking banyaknya koran bekas dengan penempatan  yang semerawut dan acak-acakan.
“Maaf bu…, aku lupa naruhnya. Mungkin sudah ikut terjual. Tapi.., saya masih ingat, koran itu saya simpan diatas tumpukan majalah griya asri ini. Lanjut  dan jelas penjual koran bekas dengan  matanya membidik kearah tumpukan-tumpukan koran dan majalah bekas, sambil menaruh kedua tangan diatas pinggangnya, disertai geleng-geleng kepala.
“Coba carikan sekali lagi pak, tolong pak.” pinta perempuan janda kurus berharap amat sangat menemukan koran edisi/Senin 21 Nopember 2009 kepada penjual koran bekas disertai wajah melas.
Penjual koran  bekas diam seribu bahasa, sesekali sambil menarik napas dalam-dalam. Matanya masih membidik kesana kemari diatas tumpukan koran dan majalah. Tiba-tiba mata penjual koran bekas itu melihat lipatan Koran, diatas almari paling tinggi dilapaknya, yang biasa untuk menyimpan majalah dan koran berkelas.
“Nah…,  itu dia yang aku cari. Ketemu kau!” Ia bicara sendiri dalam hati.
lalu penjual Koran bekas itu mengambil kursi plastik berwarna biru kumal, tuk mengambil dan menjangkau Koran itu. Dia naik ke atas kursi, lalu diambilnya dan kedua matanya segera diplototkan kearah pojok halaman pertama.
Setelah diperhatikan dengan sungguh-sungguh, ternyata dipojok halaman pertama  atas tercantum, edisi/Senin, 21Nopember 2009.
“Lha…! ini apa bu, Koran yang saya simpan kemarin ketemu.” Kata penjual Koran bekas dengan nada spontan disertai matanya melotot lebar, mulutnya menganga, memberitahukan kepada perempuan janda kurus dan anaknya.
Koran bekas edisi/Senin, 21 Nopember 2009 itu lalu di berikan kepada mereka. Kemudian mereka membolak-balik lembaran demi lembaran. Tepat dihalaman sembilan, terdapat pengumuman penerimaan pegawai kota setempat. Mata tak berkedip disiapkan untuk membidik ke nomor dan nama-nama yang berjajar rapi, yang akan menentukan orang-orang bosan akan nasibnya.
Nomor urut dan nama-nama yang ada dihalaman sembilan itu terus diburu. Dilihat, diulangi berkali-kali, dari atas sampai kebawah dari bawah sampai keatas, ternyata tidak ada nomor dan nama anak dari perempuan janda kurus itu.
Hati dan perasaan mereka cemas, sedih, kecewa, sekaligus kesal dengan pemerintahan setempat, apalagi dengan tiga lelaki yang kemarin datang kerumah mereka, yang katanya bisa meloloskan menjadi pegawai kalau persyaratan dan uang puluhan juta rupiah disiapkan.
Lesu, lemas dan kecewa hinggap di  pelupuk mata mereka berdua.
“Gimana bu…, sudah ketemu yang dicari?” Tanya penjual Koran bekas yang menambah hati perempuan  janda kurus semakin ingin muntab dan marah, karena rasa kesal, jengkel, dan kecewa. Tapi perempuan tua itu bisa mengendalikan emosinya.
“Tidak…!” jawaban singkat dan padat keluar dari mulutnya yang pucat sedikit tersirat rasa dendam.
“Mungkin tidak diterima bu, anak saya juga akan menagalami nasib yang sama seperti anak ibu, kalau saja saya tidak membayar puluhan juta rupiah.” Timpal dan jelas penjual Koran bekas sekaligus menceritakan anaknya bisa diterima jadi pegawai negeri sipil.
Kata-kata penjual Koran bekas berhidung pesek dan bertubuh pendek, semakin membuat hati perempuan janda kurus dan anaknya semakin jengkel.
 “Sudah…,Sudah…! Apa kira aku juga ndak bayar kepada mereka seperti kamu!” kata-kata kesal dan marah keluar dari mulut dan hati yang kecewa, sambil melempar koran bekas edisi/Senin, 21 Nopember 2009 itu, ke samping penjual koran bekas dan jatuh diatas tumpukan majalah NIKITA.
Perempuan janda kurus dan anaknya bergegas pergi lalu hilang ditelan belokan lapak-lapak yang ada didalam pasar  untuk menjual barang-barang bekas yang kotor dan kumuh.
Penjual koran bekas berhidung pesek dan bertubuh pendek heran dan mengernyitkan dahi, sambil mengangkat kedua tangan dan bahunya.

***
Pada waktu itu bulan Januari. Saatnya para pegawai yang  baru diterima bulan Nopember  2009 kemarin masuk kantor. Sementara perempuan janda kurus dan anaknya, masih dibalut kekesalan, kejengkelan, dan kekecewaan.
Rencananya, mereka mau mengadukan perkaranya kepihak berwajib, tapi harta mereka sudah ludes. Jalan satu-satunya adalah mendatangi rumah lelaki tak berkacamata dan berdasi yang menipunya yang berjanji akan meloloskan anaknya menjadi pegawai.
Sebelum mereka kerumah orang yang menipunya, mereka akan minta tolong kepada tetanganya yang menjadi anggota dewan perwakilan rakyat tiga bulan yang lalu.
“Siapa tau dia bisa membantuku” kata perempuan janda kurus dalam hati, sambil berjalan menuju rumah anggota dewan yang manjadi tetangganya.
Seiring tidurnya temaram, sehabis maghrib, perempuan  janda kurus dan anaknya pergi kerumah tetangganya itu.
“Dia pasti mau membantuku. Dulu pada waktu pencalonan dirinya, semua keluargaku memberikan suaranya pada dia. Aku yakin dia pasti tau kesulitanku dan pasti akan membantuku. Batinya dalam hati dengan penuh harap.
Sesampai di depan rumah tetangganya yang menjadi anggota dewan perwakilan rakyat, mereka berdua  disambut pembantu rumah, dipersilahkan masuk dan disuruh duduk.
Setelah mereka diambilkan minum dan dihidangkan oleh pembantu rumah, perempuan janda kurus  bertannya,
“Kok sepi, semua pada kemana?”
“Bapak sudah tiga hari tidak dirumah. Mereka ada tugas keluar  kota selama satu bulan setengah, katanya.” Jelas pembantu itu dengan jujur disertai rasa iba keluar dari pelupuk matanya.
“O…ya sudah kalu begitu.”
“Ya sama-sama.” Jawab pembantu rumah.
Dengan rasa kecewa, akhirnya mereka berdua pamit pulang.
Sinar matahari pagi menampakkan kegelisahan dan kesedihannya menyinari seluruh kota yang kotor, kumuh, dan amburadul. Lalu lalang keramaian membuat perempuan janda kurus dan anaknya, tambah kesal dan jengkel. Mereka berdua rasanya ingin berteriak sekuat tenaga sekeras-kerasnya diantara keramaian-keramaian kota yang membuat penat itu.
Setelah mereka turun dari angkutan kota, ahirnya mereka berdua jalan  menuju rumah bertembok besar, dengan arstektur multikultur, campuaran antara, arsitektur mediterania, jawa modern, dan sedikit sentuhan minimalis, yang tak lain adalah rumah milik lelaki tak berkacamata berdasi, yang tiga bulan lalu datang kerumah perempuan janda kurus yang berjanji akan meloloskan anaknya menjadi pegawai kota  setempat.
Tembok rumah berpagar besi stenlis itu kelihatan sombong, congkak, dan garang melihat mereka berdua berada di depan pagar pintu masuk.
Perempuan janda dan anaknya jinjat-jinjit matanya tertuju kesebuah pintu besar  utama dengan ukiran Jepara yang masih tertutup rapat.
Berkali-kali mereka berdua menekan tombol bel yang ada didepan tembok pagar. Berkali-kali bel ditekan. Tapi, tak seorang pun keluar dari rumah sombong itu. Sudah hampir tiga jam perempuan janda kurus dan anaknya berdiri didepan pagar. Sampai akhirnya, mereka pulang dengan harapan kosong dan menambah kemarahan dan dendam dalam hati mereka.
Keesokan harinya mereka datang lagi. Hasilnya masih sama seperti kemarin.  Enam hari berturut-turut tak membuahkan hasil. Sampai pada hari ketujuh, mereka datang lagi. Mereka menekan bel berkali-kali seperti hari-hari yang lalu. Ketika sampai pencetan  bel yang ketiga puluh,  tiba-tiba, ada seorang perempuan yang kakinya pincang terseok-seok menghampiri mereka berdua, yang tak lain adalah tetangga dari lelaki yang berkacamata hitam dan berdasi itu.
“Maaf, ibu cari siapa ya?” Tanyanya penuh sopan.
“Saya dan anak saya mencari pemilik rumah ini. Berhari-hari saya datang kesini tapi tak ada orang sama sekali.
“Yang aku tau, mereka sekeluarga, dan rombongan yang kelihatannya dari pejabat-pejabat penting kota ini,  pergi rekreasi ke Australia.
jelas perempuan berkaki pincang dengan nada serius.
“Kira-kira kapan  ya pulagnya?”
“Saya sendiri tidak tahu bu. Kabar ini saya peroleh dari pembantunya yang kemarin mampir ke rumah saya sebelum dia pulang kampung.” Jawab perempuan berkaki pincang disertai rasa iba dari ucapannya.
Mata mereka berdua mulai berkaca-kaca. Dalam hati mereka dendam, marah, jengkel, kesal dan kecewa. Mereka menangis tiada henti dalam hati, lalu sekuat tenaga mereka berdua berteriak,
“Bajingan…………..!”
Bersamaan dengan linangan air mata, mereka akhirnya pulang  dengan iringan-
Rembang, 01 Januari 2009

A. Chamim
Share this article :

0 comments:

Posting Komentar

 
Powered by : Day Milovich | SuaraRembang.net
Copyright © 2012. Omah Rembang - All Rights Reserved
Modified by Day Milovich
Proudly powered by Blogger