
Pentas Kethek Ogleng #16
Dengan membawa kertas koran, tiga perempuan itu satu per satu meliuk-liuk ke seputaran pentas sekitar tiga menit. Kemudian ketiga perempuan itu berdiri mematung dengan posisi separuh tubuh tertutup kertas koran yang dibentangkan. Seorang perempuan lain masuk ke atas pentas. Mengambil selembar kertas koran dan membacanya ditengah pentas. Seorang lelaki dengan kaki sebelah diseret kemudian menyusul masuk ke pentas. Setelah melihat sekeliling, direbutnya kertas koran yang tengah dibaca oleh perempuan yang berada di tengah pentas. Terjadi perebutan kertas koran. Saat kertas koran tersobek, perempuan yang membaca koran dan lelaki itu sama-sama terjatuh. Seorang perempuan lain masuk ke pentas dengan menari. Tangannya mempermainkan lilin yang terus dipegangnya. Kemudian dihampirinya perempuan dan lelaki yang terkapar setelah berebut koran. Dibakarnya koran yang tengah dibawa oleh perempuan dan lelaki itu. Api membesar membakar koran yang ada di genggaman.
Begitulah pentas Republik Koran yang digeber Komunitas Garam Dapur Kaliori saat Kethek Ogleng#16 di Pendopo eks Kawedanan Sulang Sabtu malam. Komunitas yang beranggotkan Siti Mutmainah, Siti Kadarwati, Mustafiin, Nana Najiah, Singgih Purnomo, Nur Kartika dan Veri itu mengaku performance Republik Koran merupakan upaya untuk memotret betapa pemberitaan menjadi rebutan oleh sejumlah pihak. Sementara masyarakat menjadi kebingungan dengan berita demi berita yang berkembang sangat cepat. ''Butuh kedewasaan dan pemikiran yang jernih terkait setiap informasi yang beredar di masyarakat saat ini. Itu pesan yang ingin kami sampaikan melalui performance ini,'' kata Nana.
Perenungan
Pentas mini yang penuh dengan gerak tersebut tak urung membuat terpana sejumlah komunitas lain yang hadir. ''Kami tidak menyangka. Komunitas Garam Dapur yang baru berdiri sebulan terakhir sudah memiliki ide dan perfomance yang menarik untuk direnungkan,''kata Yon Suprayoga, pengiat Laesan Lasem.
Selain Komunitas Garam Dapur, pentas bulanan antar komunitas Rembang itu juga menampilkan pembacaan puisi oleh Yudhi Yarcho (Jepara), Mukhtarom Ahmad (Sulang), Beny Xp (Pamotan), Bodhi Pop dan Azis (Rembang), Galih Pandu Adi (Semarang) serta penyair cilik asal SD Jatisari Sluke Asa.
Mukhtarom sebelum membacakan puisi mengatakan semangat berkesenian secara independen yang tak kenal lelah digelar oleh antar komunitas di Rembang merupakan angin segar yang pantas diapresiasi. Dia juga mengibaratkan kegiatan bulanan yang digelar antar komunitas hingga memasuki bulan ke 16 berturut-turut seperti burung pipit yang tetap bahagia meski hanya berumah di sebuah dahan yang kecil. ''Kebersamaan yang dibangun antar komunitas ini saya yakin akan terus berkembang dan memberi warna bagi Rembang pada waktu mendatang,'' kata dia (Mulyanto Ari Wibowo)
pernah di muat di Suara Merdeka Suara Muria cetak 26 Juni 2012

0 comments:
Posting Komentar