Pentas Sanggar Gong ArtAda yang berbeda di Balai Desa Ngulahan Kecamatan Sedan Sabtu (30/7) malam kemarin. Kantor yang biasanya sepi, malam itu diserbu puluhan warga dan anak-anak. Nyala lampu warna-warni memenuhi seluruh ruangan.
Gelak tawa dan tepuk tangan sesekali membahana tangan dan mulut mereka yang duduk di hamparan lantai berselimutkan terpal plastik. Ya pantaslah malam itu warga Ngulahan bersuka. Pasalnya, warga desa di punggung gunung kapur itu mendapatkan sajian hiburan kesenian dari Sanggar Gong Art. Selain drama satu babak oleh remaja Ngulahan, suasana menjadi tambah gayeng ketika sejumlah penyair muda Rembang Galih Pandu Adi, Titian Memey, Alief Zam Billah dan Abdul Chamim turun gelangang menyajikan sejumlah puisi kepada warga diiringi grup musik kroncong akustik Laesan yang dibawakan oleh Danang, Dirman, Wiyoto dan Panji dari Lasem.
Pentas yang juga didukung Plan Indonesia Rembang itu sendiri dibuka dengan drama berjudul Pernikahan Dini. Bukan tanpa alasan Sanggar Gong Art menyajikan tema ini. ''Di desa-desa sekitar pegunungan kapur ini, masih banyak remaja yang putus sekolah karena dinikahkan,'' kata Rosyid Ndoyek, pimpinan Sanggar Gong Art.
Pernikahan Dini
Tersebutlah Gadis ( diperankan Handayani, red), remaja SMA yang baru saja beranjak dewasa. Tiba-tiba pada suatu hari, datanglah Jaka (Ali Solikan) yang menyatakan cinta dan ingin mempersunting Gadis. Gadis menolak mentah-mentah pinangan Jaka karena masih ingin melanjutkan sekolah. Tak urung, hal itu membuat Bapak (M Zuhri) dan Ibu (Maftuhah) Gadis kebinggungan. Pasalnya, ada tradisi di desa yang menyebutkan apabila menolak suntingan, maka remaja putri akan sulit jodoh di kemudian hari. Konflik keluarga ini akhirnya dijembatani oleh sesepuh desa (Saiful Umam). ''Jaman sudah berubah. Anak harus diberi kesempatan seluas-luasnya untuk meraih cita-citanya,'' tutur sesepuh desa.
Meski dibawakan secara sederhana, namun puluhan warga tak beranjak hingga pentas selesai. Terlebih pelakon ''Pernikahan Dini'' membawakannya dengan bahasa Jawa sehari-hari yang penuh dengan komedi. Simak saja ketika Jaka meyakinkan untuk mempersunting Gadis. ''Pak karo Ibu, aku iki memang mung usaha tempe. Tapi usahaku iku wis gedhe. Sampe aku duwe pabrik tempe ne Amerika,'' kata Jaka yang disambut tawa penonton.
Rosyid mengaku sudah hampir dua tahun belakangan Sanggar Gong Art rutin menggelar agenda kesenian di desa-desa. ''Ketika ada yang mengkampanyekan Sastra Balik Ndeso, kami sudah bergerak untuk melakukannya di desa sekitar. Dengan kesenian kami berharap bisa membukakan pemikiran baru bagi warga desa yang masih banyak dibelit tradisi yang kurang berpihak pada anak,'' tandas dia. (Mulyanto Ari Wibowo)
pernah dimuat di Suara Merdeka - Suara Muria 1 Agustus 2011

0 comments:
Posting Komentar