Wayang Puisi Ki Sigid Ariyanto SSn
SANG RAMA mulai bimbang dan jenuh. Segala upaya yang dilakukan untuk membebaskan perempuan terkasihnya Sinta dari cengkeraman Rahwana terus mengalami jalan buntu.
Anoman kera yang ditunjuk sebagai duta membebaskan Sinta justru asyik masyuk dalam buaian nikmat sesaat yang ditawarkan Sayengpraba, perempuan utama Alengka.
Didera putus asa, hati satria Pancawati itu mulai terusik pertanyaan akan kesetiaan Sinta. Selama masa perpisahan, masihkah Sinta menjaga kesucian cinta Sang Rama? Ataukah Rahwana dengan segala bujuk rayunya telah memenangkan hati Sinta?
Konflik klasik Ramayana menjadi pilihan dalang muda Rembang Ki Sigid Ariyanto saat mementaskan eksperimen terbarunya wayang puisi multimedia di acara bulanan Komunitas Kethek Ogleng Baca Puisi di pelataran eks Stasiun Rembang.
Dibantu tiga penyair Diasz Kundi, Baskoro ‘’Pop’’ dan Diane Indri Hapsari, dalang yang mukim di Tawangsari Leteh Rembang ini memodifikasi dialog antar tokoh wayang dengan narasi puitik yang kaya makna.
Balutan musik kontemporer yang digarap Rumah Musik Sumberejo serta pakeliran bundar sebesar tampah yang bermandikan gambar slide dari OHP bernuansa retro menghangatkan perhelatan yang dihadiri ratusan penikmat seni Rembang, Jepara, Semarang dan Bojonegoro itu.
Goro-goro (titik balik cerita, RED) ketika sang dalang menghadirkan sosok Semar yang menghardik lelaki-lelaki tokoh cerita dengan nada puitis, ‘’Hei lelaki, sedalam apa kau mengenal perempuan-perempuanmu!’’
Mendengar hardikan Lurah Bodronoyo, Anoman tersentak kaget teringat akan tugasnya. Secepat kilat kera putih titisan Bayu itu tersadar dan meninggalkan kenikmatan sesaat Sayengpraba.
Kelir Dibakar
Rama dan Laksmana juga tersadar dan kembali menguatkan tekad untuk membebaskan Sinta. Kakak beradik ini juga menyadari kebahagiaan dan kesedihan hidup tak ubahnya dua telapak tangan. Kalau telapak saling bertemu, kebahagiaan dan kesedihan akan menjadi doa. Kalau saling genggam jadilah pertolongan. Sementara kalau bergandengan, jadilah cinta.
Namun Rahwana tak menghiraukan Semar dan tetap bersikukuh dengan pendiriannya untuk memaksakan kehendak pada Sinta. Cerita malam itu ditutup dengan pertempuran antara Anoman dengan Rahwana. Di saat perkelahian seru terjadi, Ki Sigid mengejutkan penonton dengan membakar pakeliran bundar.
Tak urung ratusan penonton berdecak dan terkesima karena tak menyana melihat adegan dramatis itu. Di saat api mengecil dan pakeliran masih berasap, sosok muram Sinta yang berdiri sendirian menutup perhelatan malam itu.
Seusai pentas yang diawali dengan pembacaan puisi oleh sejumlah penyair muda Rembang seperti Maya Titian Memey (Sale), Masruh (Sedan) dan Rosyid (Sedan) itu, Ki Sigid mengaku tidak memberikan kesimpulan di pentas bertajuk Rama Sinta itu. ‘’ Silahkan penonton mengapresiasi dan mengambil sendiri intisari dan kesimpulan terbaik dari cerita ini. Apakah mereka akan terketuk mengenali dan menghormati perempuan mereka atau sebaliknya,’’ ujar dia.
Dia menambahkan kehadiran eksperimen wayang puisi multimedia berdurasi 40-an menit itu diharap bisa menumbuhkan kembali kecintaan generasi muda terhadap wayang kulit.
‘’Syukur bila generasi muda Rembang ada yang mau belajar memainkan wayang kulit. Masih banyak ruang eksplorasi seni di ranah wayang kulit yang belum terjamah. Sanggar kami terbuka untuk media belajar bersama,’’ kata pengampu Sanggar Cakraningrat yang berjanji akan menghadirkan eksperimen wayang lainnya di ajang Kethek Ogleng Baca Puisi yang digelar bulanan di eks Stasiun Rembang. (Mulyanto Ari Wibowo)
Dimuat di halaman Rembang Suara Muria Suara Merdeka Senin 18 April 2011
SANG RAMA mulai bimbang dan jenuh. Segala upaya yang dilakukan untuk membebaskan perempuan terkasihnya Sinta dari cengkeraman Rahwana terus mengalami jalan buntu.
Anoman kera yang ditunjuk sebagai duta membebaskan Sinta justru asyik masyuk dalam buaian nikmat sesaat yang ditawarkan Sayengpraba, perempuan utama Alengka.
Didera putus asa, hati satria Pancawati itu mulai terusik pertanyaan akan kesetiaan Sinta. Selama masa perpisahan, masihkah Sinta menjaga kesucian cinta Sang Rama? Ataukah Rahwana dengan segala bujuk rayunya telah memenangkan hati Sinta?
Konflik klasik Ramayana menjadi pilihan dalang muda Rembang Ki Sigid Ariyanto saat mementaskan eksperimen terbarunya wayang puisi multimedia di acara bulanan Komunitas Kethek Ogleng Baca Puisi di pelataran eks Stasiun Rembang.
Dibantu tiga penyair Diasz Kundi, Baskoro ‘’Pop’’ dan Diane Indri Hapsari, dalang yang mukim di Tawangsari Leteh Rembang ini memodifikasi dialog antar tokoh wayang dengan narasi puitik yang kaya makna.
Balutan musik kontemporer yang digarap Rumah Musik Sumberejo serta pakeliran bundar sebesar tampah yang bermandikan gambar slide dari OHP bernuansa retro menghangatkan perhelatan yang dihadiri ratusan penikmat seni Rembang, Jepara, Semarang dan Bojonegoro itu.
Goro-goro (titik balik cerita, RED) ketika sang dalang menghadirkan sosok Semar yang menghardik lelaki-lelaki tokoh cerita dengan nada puitis, ‘’Hei lelaki, sedalam apa kau mengenal perempuan-perempuanmu!’’
Mendengar hardikan Lurah Bodronoyo, Anoman tersentak kaget teringat akan tugasnya. Secepat kilat kera putih titisan Bayu itu tersadar dan meninggalkan kenikmatan sesaat Sayengpraba.
Kelir Dibakar
Rama dan Laksmana juga tersadar dan kembali menguatkan tekad untuk membebaskan Sinta. Kakak beradik ini juga menyadari kebahagiaan dan kesedihan hidup tak ubahnya dua telapak tangan. Kalau telapak saling bertemu, kebahagiaan dan kesedihan akan menjadi doa. Kalau saling genggam jadilah pertolongan. Sementara kalau bergandengan, jadilah cinta.
Namun Rahwana tak menghiraukan Semar dan tetap bersikukuh dengan pendiriannya untuk memaksakan kehendak pada Sinta. Cerita malam itu ditutup dengan pertempuran antara Anoman dengan Rahwana. Di saat perkelahian seru terjadi, Ki Sigid mengejutkan penonton dengan membakar pakeliran bundar.
Tak urung ratusan penonton berdecak dan terkesima karena tak menyana melihat adegan dramatis itu. Di saat api mengecil dan pakeliran masih berasap, sosok muram Sinta yang berdiri sendirian menutup perhelatan malam itu.
Seusai pentas yang diawali dengan pembacaan puisi oleh sejumlah penyair muda Rembang seperti Maya Titian Memey (Sale), Masruh (Sedan) dan Rosyid (Sedan) itu, Ki Sigid mengaku tidak memberikan kesimpulan di pentas bertajuk Rama Sinta itu. ‘’ Silahkan penonton mengapresiasi dan mengambil sendiri intisari dan kesimpulan terbaik dari cerita ini. Apakah mereka akan terketuk mengenali dan menghormati perempuan mereka atau sebaliknya,’’ ujar dia.
Dia menambahkan kehadiran eksperimen wayang puisi multimedia berdurasi 40-an menit itu diharap bisa menumbuhkan kembali kecintaan generasi muda terhadap wayang kulit.
‘’Syukur bila generasi muda Rembang ada yang mau belajar memainkan wayang kulit. Masih banyak ruang eksplorasi seni di ranah wayang kulit yang belum terjamah. Sanggar kami terbuka untuk media belajar bersama,’’ kata pengampu Sanggar Cakraningrat yang berjanji akan menghadirkan eksperimen wayang lainnya di ajang Kethek Ogleng Baca Puisi yang digelar bulanan di eks Stasiun Rembang. (Mulyanto Ari Wibowo)
Dimuat di halaman Rembang Suara Muria Suara Merdeka Senin 18 April 2011


0 comments:
Posting Komentar