oleh Diasz Kundi ~dibaca pada acara KETHEK OGLENG BACA PUISI di Eks Stasiun Kota Rembang, 15 April 2011
Purnama telah terbit tak terbendung. Di bekas stasiun kota, hembus angin pancaroba menggores wajah-wajah murung. Bintang-bintang di langit berdebat sengit Tentang malam yang merangkak manja di sana, di desa-desa. Purnama telah berlayar melintasi mendung Namun telingaku masih berdengung. Ada nyeri menusuk ulu jantung. Umpatan-umpatan kasar yang siang tadi terdengar di trotoar Bersebadan dengan pergunjingan para perempuan pasar. Di trotoar dan di pergunjingan para perempuan pasar Seribu satu persoalan hidup digelar Semua yang tak kau dengar akan terdengar dari mulut-mulut yang telah capek menjalani hidup yang semakin hari semakin tak nalar. Di tengah sengatan bau keringat dan derai tawa yang sesekali menggelegar Pergunjingan para perempuan pasar bagai suguhan segelas limun yang segar sekaligus tawar Darinya tak sekedar kudengar pergunjingan tentang urusan dapur dan kasur Namun juga tentang omongan orang-orang pintar di televisi yang semakin ngawur. Darinya tak sekedar kudengar perbincangan tentang lakon-lakon konyol di sinetron Namun juga cemoohan tentang langkah pembangunan yang monoton. Siang tadi, siang ini tadi. Dari orang-orang di trotoar dan pergunjingan para perempuan pasar aku menangkap kesedihan hati. Aku mendengar kekecewaan. Setiap hari aku mendengar cacian dan makian. Betapa sedih melihat orang-orang di ibu kota bersikeras membangun istana bernilai triliyunan sementara kanak-kanak di seantero pelosok nusantara menuntut ilmu di kandang sapi, dan rumah-rumah orang miskin di pinggiran kali digusur tanpa solusi. Betapa kecewa mendengar slogan “orang bijak taat pajak” sementara orang pajak terus menerus mencuri pajak orang bijak. Betapa terluka mendapati wakil kami yang sebelumnya begitu gemar berkoar menolak pornografi, justru kini malah menonton film porno di tengah musyawarah tentang masa depan nasib kami. Betapa luka lebih menganga ketika mendapati sang ketua fraksi dengan arogan mengatakan, ”ah, menonton bokep di rapat paripurna adalah dosa kecil yang termaafkan”… Di sekeliling kubangan-kubangan coklat di pasar kota, aku melihat tangan-tangan coklat menutup wajah-wajah coklat. Malu, sebab diwakili oleh orang-orang yang tak tahu malu. Marah, sebab memiliki penyambung lidah yang pongah… Dari pergunjingan para perempuan pasar, tak sekedar aku dengar tentang berbagai aib tetangga Namun juga rasa miris ketika mendapati rasa keadilan dan persamaan di mata hukum hanya jadi pemanis mulut belaka… Betapa miris melihat orang-orang berdasi merampok uang Negara hingga bernilai tak terhingga namun mereka masih tampak tersenyum penuh kemenangan di depan kamera, sementara seorang ibu renta yang mencuri segenggam cabe merah karena memang tak mampu lagi bekerja harus mendekam di penjara. Begitu ngeri melihat 20 nyawa anak bangsa terancam, terombang-ambing di tengah samudra dengan todongan senapan mesin di kening, sementara di tanah air dengan wajah memelas Mr. Presiden hanya berkata: “saya juga prihatin…” Dari pergunjingan para perempuan pasar aku menangkap keresahan. Begitu resah, melihat para pemodal besar datang menjajah. Para drakula di era millennium menghisab habis darah para pedagang pasar tradisional sementara pemerintah malah cengengesan dengan kantong jas penuh rupiah. Dari pergunjingan mereka aku belajar, Bahwa modernitas dan pasar bebas harus bergandengtangan dengan realitas. Kemajuan musti membawa kesejahteraan. Bukan kemelaratan dan kesengsaraan. Sebab kemelaratan akan melahirkan permasalahan panjang. Kemiskinan akan melahirkan terorisme, konflik sosial dan kekerasan demi kekerasan. Dari Pergunjingan Para Perempuan Pasar aku belajar Bahwa amanah dititipkan untuk dipertanggungjawabkan dan idealitas diperbincangkan untuk diperjuangkan… Maka wahai bagi anda yang tertarik untuk menjadi wakil rakyat, Atau Bila kebetulan anda adalah seorang pejabat yang benar-benar tak ingin menjadi bejat, Ada baiknya anda belajar pada trotoar. Dan mendengar pergunjingan para perempuan pasar…
Purnama telah terbit tak terbendung. Di bekas stasiun kota, hembus angin pancaroba menggores wajah-wajah murung. Bintang-bintang di langit berdebat sengit Tentang malam yang merangkak manja di sana, di desa-desa. Purnama telah berlayar melintasi mendung Namun telingaku masih berdengung. Ada nyeri menusuk ulu jantung. Umpatan-umpatan kasar yang siang tadi terdengar di trotoar Bersebadan dengan pergunjingan para perempuan pasar. Di trotoar dan di pergunjingan para perempuan pasar Seribu satu persoalan hidup digelar Semua yang tak kau dengar akan terdengar dari mulut-mulut yang telah capek menjalani hidup yang semakin hari semakin tak nalar. Di tengah sengatan bau keringat dan derai tawa yang sesekali menggelegar Pergunjingan para perempuan pasar bagai suguhan segelas limun yang segar sekaligus tawar Darinya tak sekedar kudengar pergunjingan tentang urusan dapur dan kasur Namun juga tentang omongan orang-orang pintar di televisi yang semakin ngawur. Darinya tak sekedar kudengar perbincangan tentang lakon-lakon konyol di sinetron Namun juga cemoohan tentang langkah pembangunan yang monoton. Siang tadi, siang ini tadi. Dari orang-orang di trotoar dan pergunjingan para perempuan pasar aku menangkap kesedihan hati. Aku mendengar kekecewaan. Setiap hari aku mendengar cacian dan makian. Betapa sedih melihat orang-orang di ibu kota bersikeras membangun istana bernilai triliyunan sementara kanak-kanak di seantero pelosok nusantara menuntut ilmu di kandang sapi, dan rumah-rumah orang miskin di pinggiran kali digusur tanpa solusi. Betapa kecewa mendengar slogan “orang bijak taat pajak” sementara orang pajak terus menerus mencuri pajak orang bijak. Betapa terluka mendapati wakil kami yang sebelumnya begitu gemar berkoar menolak pornografi, justru kini malah menonton film porno di tengah musyawarah tentang masa depan nasib kami. Betapa luka lebih menganga ketika mendapati sang ketua fraksi dengan arogan mengatakan, ”ah, menonton bokep di rapat paripurna adalah dosa kecil yang termaafkan”… Di sekeliling kubangan-kubangan coklat di pasar kota, aku melihat tangan-tangan coklat menutup wajah-wajah coklat. Malu, sebab diwakili oleh orang-orang yang tak tahu malu. Marah, sebab memiliki penyambung lidah yang pongah… Dari pergunjingan para perempuan pasar, tak sekedar aku dengar tentang berbagai aib tetangga Namun juga rasa miris ketika mendapati rasa keadilan dan persamaan di mata hukum hanya jadi pemanis mulut belaka… Betapa miris melihat orang-orang berdasi merampok uang Negara hingga bernilai tak terhingga namun mereka masih tampak tersenyum penuh kemenangan di depan kamera, sementara seorang ibu renta yang mencuri segenggam cabe merah karena memang tak mampu lagi bekerja harus mendekam di penjara. Begitu ngeri melihat 20 nyawa anak bangsa terancam, terombang-ambing di tengah samudra dengan todongan senapan mesin di kening, sementara di tanah air dengan wajah memelas Mr. Presiden hanya berkata: “saya juga prihatin…” Dari pergunjingan para perempuan pasar aku menangkap keresahan. Begitu resah, melihat para pemodal besar datang menjajah. Para drakula di era millennium menghisab habis darah para pedagang pasar tradisional sementara pemerintah malah cengengesan dengan kantong jas penuh rupiah. Dari pergunjingan mereka aku belajar, Bahwa modernitas dan pasar bebas harus bergandengtangan dengan realitas. Kemajuan musti membawa kesejahteraan. Bukan kemelaratan dan kesengsaraan. Sebab kemelaratan akan melahirkan permasalahan panjang. Kemiskinan akan melahirkan terorisme, konflik sosial dan kekerasan demi kekerasan. Dari Pergunjingan Para Perempuan Pasar aku belajar Bahwa amanah dititipkan untuk dipertanggungjawabkan dan idealitas diperbincangkan untuk diperjuangkan… Maka wahai bagi anda yang tertarik untuk menjadi wakil rakyat, Atau Bila kebetulan anda adalah seorang pejabat yang benar-benar tak ingin menjadi bejat, Ada baiknya anda belajar pada trotoar. Dan mendengar pergunjingan para perempuan pasar…

2 comments:
sip,,,,sip,,,,
aku sampe terkesima waktu menyaksikannya di Kethek Ogleng kemaren
sip,,,,sip,,,,
aku sampe terkesima waktu menyaksikannya di Kethek Ogleng kemaren
Posting Komentar