Headlines News :
Home » » LELAKI TUA DALAM DOA

LELAKI TUA DALAM DOA

Written By Unknown on Sabtu, 09 April 2011 | 07.50






“Hai orang tua kotor, pembohong, pengkhianat, pembunuh, terima ganjaranmu.”

Suara kasar dan cemoohan keluar dari mulut penghuni kota tua yang tak lagi memiliki norma.

“Plak!” tamparan hebat dilemparkan oleh seorang pemuka agama pada laki-laki tua yang baru saja keluar dari penjara. Laki-laki tua itu diseret keliling kota dan disaksikan oleh orang-orang yang tidak nampak diwajahnya sedikitpun belas kasihan.

Aku terjebak dalam kerumunan orang-orang yang tak berotak. Suasana kota tua itu seperti jaman jahiliyah yang tidak lagi mengenal nilai-nilai kemanusiaan. Penduduknya satu sama lain tidak saling kenal. Bangunan-bangunannya sangat tua. Sepertinya, bangunan-bangunan itu tidak pernah dirawat oleh pemerintah setempat. Banyak bangunan layanan masyarakat yang bongkor seperti Puskesmas, kantor Polisi, kantor urusan agama, dan lembaga pendidikan. Ditengah-tengah pusat kota hanya ada kantor pemerintahan yang tak lagi menunjukkan kewibawaannya. Di depannya ada pos penjaga yang dijaga seorang berbadan kurus, lesu, pandangannya kosong seolah-olah banyak dililit masalah hutang. Pegawai-pegawainya banyak yang tidak masuk kantor. Di pendopo agung hanya ada satu meja kosong. Halamannya kotor tak pernah disapu, kumuh dan menjijikkan.

Aku masih terjebak dalam kerumunan orang-orang yang menyaksikan lelaki tua di seret keliling kota. Aku berusaha menerobos kerumunan itu, supaya aku masih bisa terus mengikuti dan melihat peristiwa penyeretan lelaki tua yang diperlakukan seperti binatang.

Dari kejauhan aku lihat tidak sedikitpun suara keluar dari mulut lelaki tua itu. Kelihatannya dia menahan rasa sakit. Darahnya keluar dari hidungnya. Tubuhnya lempai dan memar-memar. Aku terus berjalan tanpa berhenti sama sekali. Keringat menggumpal keluar dan jatuh dari badanku. Mataku selalu menuju ke arah peristiwa yang seumur hidupku belum pernah aku menyaksikannya. Sudah begitu jauh lelaki tua itu diseret tinggalkan pusat kota yang ramai dengan caci maki dan cemoohan.

Senja mulai menampakkan kegelisahannya. Sinar matahari berubah menjadi kuning kemerah-merahan, yang sebentar lagi akan istirahat dan tidur malam. Seharian sinar lelah dan sedih menyaksikan keadaan kota tua itu. Sampai akhirnya, lelaki tua yang diseret oleh pemuka agama berhenti di tikungan sempit pojok kota tua yang penuh dengan semak belukar. Orang-orng mulai bubar meninggalkan senyum kecut kepada lelaki tua malang malang sebatang kara.

Malampun mulai merayap diantara bangunan-bangunan tua yang banyak ditumbuhi pohon-pohon kecil liar. Warnamya pucat dan lumut-lumut hitam menempel di dinding-dinding bangunan menambah gelap dan menakutkan kala malam menelan.

Aku masih melihat mereka dari kejauhan. Aku mengintip di balik bangunan dekat pemakaman. Bangunan tua yang digunakan untuk menyimpan alat-alat perlengkapan mayat.

“Aku tak mau ketinggalan peristiwa ganjil ini.” kataku dalam hati.

Tiba – tiba suara “Plak!” terdengar lagi. Lelaki tua ditampar berkali-kali oleh pemuka agama kota tua yang tak lengkap ilmunya. Lalu lelaki tua diseret ke tempat pemakaman mayat.

“ Ini tempat yang pantas untukmu” kata pemuka agama itu sambil menuding dengan jari telunjuknya ke arah bukit-bukit lemah tak bersalah.

“Sebentar lagi kau akan menyusul mereka. “lanjutnya.

Lelaki tua yang belum diketahui kesalahannya, hanya diam membisu tak ada sepatah katapun keluar dari mulut pucatnya. Dia menundukkan kepala dan keringat mengalir dari tubuhnya yang memar-memar.

“Ini ganjaranmu manusia pembunuh!”

Kata-kata kasar keluar dari mulut lebar pemuka agama kota tua yang membuat daun dan bunga-bunga kamboja meneteskan air mata. Lalu dia berlalu dan pergi meninggalkan tempat tak berdosa itu. Tempat yang gelap, sunyi tanpa penghuni, kecuali nisan-nisan yang berdoa untuk tuannya.

Nyanyian-nyanyian satwa mulai memecah keheningan malam. Kamboja berirama seoalah bermain orkestra. Angin datang membelai daun-daun yang sedang berdoa. Dengan langkah hati-hati aku keluar dari persembunyianku. Aku hampiri lelaki tua yang lemas, lesu, lelah, bersandar di batu nisan yang telah dimakan usia dan hewan-hewan kecil yang tak tau diri. Lelaki tua itu masih menunduk. Kelihatannya, dia kehabisan tenaga. Seharian diseret dari pusat kota sampai keujung batas kota tempat pemakaman mayat.

“Kasihan dia” kataku dalam hati.

Perlahan-lahan aku mendekat, aku pegang bahunya, dan aku bertanya,

“Kenapa engkau bisa begini?” tanyaku dengan penuh hati-hati.

Lelaki tua perlahan-lahan mengangkat kepalanya. Dipandangi wajahku, Dipelototi, lalu dia kembali menunduk. Aku diam sebentar, lalu aku bertanya lagi,

“ Hai lelaki tua, apa yang menyebabkan engkau bisa seperti ini?” aku ulangi pertanyaanku dengan lebih hati-hati.

Dia mengangkat kepala. Dengan suara parau tersendat-sendat, lelaki tua itu berkata,

”Tolong, sebenarnya aku tidak bersalah.”

“ya.., Apa yang bisa aku bantu ?”

“Aku hanya ingin engkau mendengarkan ceritaku. Mungkin hanya engkau satu-satunya orang yang akan mengetahui apa yang sebenarnya aku lakukan. Dan mengapa aku bisa sampai seperti ini” Lalu aku duduk dengan penuh khusuk dan tawadluk.

Nyanyian satwa alam masih memecah keheningan malam. Angin semilir menyelimuti dan membelai rambutku dan rambut lelaki tua tak berdaya. Dengan suara parau nafas terengah-engah, lelaki tua itu bercerita.

“Pada waktu aku masih muda, aku adalah seorang yang kuat, hebat, berani, dan tak takut mati. Dulu, ketika kota ini masih menampakkan keganasannya, aku setiap hari berjalan mencari orang-orang yang selalu membuat penduduk dicekam ketakutan dan ketidakpastian.” Sesekali sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Aku bunuh orang-orang yang mengaku paling pintar, paling bisa, memiliki jabatan penting, dan yang mempunyai kekayaan melimpah.” Lanjut lelaki tua itu, dengan nada agak sedikit semangat.

Malam semakin larut. Dingin mulai menusuk dan menggigit tulang sumsum. Satwa alam bernyanyi sunbang. Daun-daun kamboja masih terus melantunkan tembang-tembang bela sungkawa. Satu per satu berguguran merajut doa.

“Engaku tahu, mengapa aku membunuh mereka semua?” Tanya lelaki tua itu padaku.

“Tidak, aku tidak tau” jawabku.

Lelaki tua itu diam sejenak, lalu meneteskan air mata.

“Kenapa engkau melakukan semua itu?” aku balik bertanya.

Sambil meletakkan kedua tangannya diatas perut tipisnya, lelaki tua itu melanjutkan ceritanya.

“Mereka semua aku bunuh, karena mereka hanya menggunakan kepandaiannya untuk membodohi rakyat. Mereka mengguanakan dalil-dalilnya hanya untuk meraih keuntungan duniawi. Mereka menggunakan jabatannya hanya untuk mengeruk kekayaan Negara. Dan mereka menggunakan kekayaannya hanya untuk kepentingan pribadi dan tidak mau bersedekah pada yang tak punya.” Jawab lelaki tua meneteskan air mata tak berdosa dari matanya yang sayu dan layu.

“Itulah yang menyebabkan aku di penjara selama enam puluh tahun. Itu juga yang menyebabkan pemuka agama dan orang-orang penduduk kota tua ini mencaci makiku, mencemoohku, menyeretku, dan akhirnya aku tak berdaya seperti sekarang ini. Badanku lemas, napasku tersendat-sendat dan tubuhku memar-memar. Sebenarnya, dulu aku hanya berharap supaya kota tua ini bisa tersenyum, ramah, dan hormat terhadap penghuninya.”

Malam semakin mencekam. Daun-daun kemboja berjatuhan dengan kesedihannya. Lantunan-lantunan doa berjatuhan dan berguguran terucap dari bunga dan daunnya tiada henti. Satwa alam membaca tasbih, takbir, tahmid, dan tahlil yang menggetarkan bukit-bukit buatan dan taman-taman surga.

Detak jantung lelaki tua itu makin berdetak kencang tak karuan. Napas tersendat seoalah mau seolah tubuhnya mau pecah. Kedu matanya sedikit demi sedikit mulai terpejam. Suara parau dari mulut lelaki tua itu tak terdengar lagi. Ucapan bela sungkawa dan Innalillahi wainna ilaihi rojiun terdengar sayup-sayup keluar dari daun dan bunga kamboja yang semalam melantunkan tembang-tembang cinta.

“Sebelum subuh tiba, dan hiruk pikuk kota tua ini mulai merayap-rayap meghampiri manusia-manusia korban pendusta, aku harus segera memakamkan jasad lelaki tua ini. “kataku dalam hati.

Setelah aku memakamkan jasad lelaki tua itu, aku segera meninggalkan tempat pemakaman mayat yang menakutkan, sunyi, sepi, dan penuh kepiluan. Perlahan-lahan aku keluar dari tempat pemakaman. Aku berjalan menuju jalan sempit, kotor, yang baunya seperti bangkai-bangkai tikus mati kelaparan. Penghuni kota tua itu masih menikmati mimpi buruknya. Cahaya-cahayanya yang terbatas, menambah seram dan menakutkan kota tua itu. Aku terus berjalan. Sampai di perempatan jalan, aku berhenti. Aku memilih jalan keluar dari kota tua itu.

Seiring terbitnya matahari pagi, tubuhku hilang di telan belokan jalan dan ditelan oleh kabut-kabut menyedihkan.



Rembang, 12 Desember 2009
Share this article :

0 comments:

Posting Komentar

 
Powered by : Day Milovich | SuaraRembang.net
Copyright © 2012. Omah Rembang - All Rights Reserved
Modified by Day Milovich
Proudly powered by Blogger