Bercak Darah Sejarah Di Stasiun Kota
Allief Zam billah
Kau bilang peradaban, demi kemajuan
mencipta tata kota yang indah dan wah
lalu gengsi menjadi harga mati
lampulampu kota mungkin terlalu tua
atau lelah menjadi saksi sejarah
gelapnya stasiun kota
biar sejenak gelap, katamu
sebab akan kubuat benderang sebentar lagi,
seperti Kartini
barangkali kau lupa tapi kami tidak
di lintasan rel kereta stasiun kota
ada bercak darah sejarah
lalu lalang orangorang telanjang
mencari sesuap nasi masih nyata hingga kini
dari Stasiun berjajar hingga pasar yang sebentar lagi terbakar
bagaimana bisa menyaksikan mereka kehilangan
tempat mereka jumputi ceceran nasi
dan cecap comberan sisa buangan
tak henti kau kuras keringat rakyat
yang lalai kau buai
dengan keindahan, janji kemakmuran
ritual musiman
selanjutnya parade pemiskinan, invasi pemelaratan
ke setiap penjuru iman
kini lihatlah!
Stasiun, pasar mulai dibakar
api ambisi
semua ini demi keindahan kota, katamu
matamu! umpat penjual tahu
cukup sudah
kau jejalkan bualan
Rembang, 29 Maret 2011

0 comments:
Posting Komentar