Ada yang berbeda dengan pelataran dalam bekas Stasiun Rembang Jumat malam. Stasiun buatan awal 1900-an yang biasa gelap senyap itu sontak terang oleh puluhan lampu teplok dari botol bekas minuman energi yang ditata setengah lingkaran.
Sebuah lampu taman fokus menyorot ke bangku dan keranjang sampah bambu yang terpajang di depan sebuah ruko kayu yang biasanya dipakai untuk berjualan sepeda bekas pada siang hari.
Pukul 19:30, lampu taman dipadamkan. Dari pengeras suara sederhana Alif Zam Billah koordinator acara mempersilahkan seratusan orang, tua dan muda, untuk merapat duduk di hamparan kertas koran yang dibentuk melingkar mengikuti alur lampu teplok. Setelah penonton merapat, lampu taman dihidupkan lagi.
Tanpa menunggu lama pelukis muda Rembang, Ipien Ngedot maju ke tengah lingkaran teplok. Mulutnya kemudian berkomat-kamit merapalkan bait demi bait puisi Selama ini Di Negerimu karya KH. A. Mustofa Bisri (Gus Mus).
‘’Inilah negeri paling aneh. Dimana keserakahan dimapankan. Kekuasaan dikerucutkan. Kemunafikan dibudayakan. Telinga-telinga disumbat harta dan martabat. Mulut-mulut dibungkam iming-iming dan ancaman,’’ katanya dengan intonasi yang lantang.
Seusai Ipien, penulis muda Rembang Poedjianto Winilogo mengambil alih panggung untuk menghantarkan puisi lain karya Gus Mus, Kau Ini Bagaimana Atawa Aku Harus Bagaimana. Penonton panggung teplok malam itu semakin panas ketika penyair dari Kecamatan Sale, Ki Gambuh R. Basedo menghantarkan puisi Gus Mus yang bertemakan tentang alam, Bumi Terbujur.
Pangung sempat teduh sejenak saat Fifi, marketing sepeda motor sebuah dealer dan Ming-Ming Brandal Kartini mahasiswi Undip Semarang secara berurutan melantunkan puisi Gus Mus Bila Senja, Malam dan Bukalah Pintumu.
Di susul kolaborasi pengusaha Muslich Ciki dan dokter Sigid Armunanto yang membawakan puisi Gus Mus yang bernafas spiritual, Kapan Kau Sempat membuat penonton tercenung hening.
Event Khusus
Namun tak lama, panggung kembali membara oleh hentakan performance art Baskoro ‘’Pop’’ yang membawakan puisi milik pengasuh Ponpes Raudlatut Thalibin Selamat Datang di Negeri Bokong dibalut dengan musik tekhno besutan penyanyi Islandia, Bjork. ‘’ Cobalah ikuti, bangsa bokong ini, dan para pemimpinnya berdzikir dan bergoyang. Dan rasakan! Bokong, bokong, bokong, bokong, bokong,’’ lengking Pop memecah keheningan malam.
Tak kurang 15 penampil dari lintas umur dan profesi bergantian mengisi panggung teplok yang ala kadarnya itu. Tujuannya hanya satu, mengapresiasi puisi-puisi karya Gus Mus.
‘’Gus Mus adalah seniman besar asli Rembang. Namun seingat kami, belum pernah ada event khusus untuk mengapresiasi karya Gus Mus yang sangat banyak itu. Karenanya kemudian kami berpikir untuk membuat panggung khusus untuk karya puisi Gus Mus,’’ kata Alif Zam Billah, koordinator acara.
Zam, sapaan akrabnya, mengaku mendapatkan para penampil dan penonton hanya dari gethok tular dan jejaring sosial. Dia mengatakan tak menyangka dengan antusiasme kawan-kawan lintas profesi dan usia yang datang ke acara sederhana di pelataran bekas Stasiun Rembang itu. ‘’Mereka datang dari berbagai daerah di Rembang. Bahkan ada yang dari Semarang menyempatkan diri untuk hadir di acara ini. Ini menunjukkan karya Gus Mus begitu luas diterima khalayak,’’ terang dia.
Pentas malam itu semestinya usai setelah performance art kolaborasi pembacaan puisi Alif Zam Billah berbarengan dengan atraksi melukis A. Chamim, penggiat Sanggar Gentong Miring Sluke. Namun penonton belum juga meninggalkan panggung. Akhirnya pentas itu baru bisa dipungkasi setelah Baskoro ‘’Pop’’ tampil kembali membawakan puisi karya Alif Zam Billah yang dibuat khusus untuk Wakil Rais Am Syuriah PB NU, Kerinduanku Ya Mustofa. (Mulyanto Ari Wibowo)
Sebuah lampu taman fokus menyorot ke bangku dan keranjang sampah bambu yang terpajang di depan sebuah ruko kayu yang biasanya dipakai untuk berjualan sepeda bekas pada siang hari.
Pukul 19:30, lampu taman dipadamkan. Dari pengeras suara sederhana Alif Zam Billah koordinator acara mempersilahkan seratusan orang, tua dan muda, untuk merapat duduk di hamparan kertas koran yang dibentuk melingkar mengikuti alur lampu teplok. Setelah penonton merapat, lampu taman dihidupkan lagi.
Tanpa menunggu lama pelukis muda Rembang, Ipien Ngedot maju ke tengah lingkaran teplok. Mulutnya kemudian berkomat-kamit merapalkan bait demi bait puisi Selama ini Di Negerimu karya KH. A. Mustofa Bisri (Gus Mus).
‘’Inilah negeri paling aneh. Dimana keserakahan dimapankan. Kekuasaan dikerucutkan. Kemunafikan dibudayakan. Telinga-telinga disumbat harta dan martabat. Mulut-mulut dibungkam iming-iming dan ancaman,’’ katanya dengan intonasi yang lantang.
Seusai Ipien, penulis muda Rembang Poedjianto Winilogo mengambil alih panggung untuk menghantarkan puisi lain karya Gus Mus, Kau Ini Bagaimana Atawa Aku Harus Bagaimana. Penonton panggung teplok malam itu semakin panas ketika penyair dari Kecamatan Sale, Ki Gambuh R. Basedo menghantarkan puisi Gus Mus yang bertemakan tentang alam, Bumi Terbujur.
Pangung sempat teduh sejenak saat Fifi, marketing sepeda motor sebuah dealer dan Ming-Ming Brandal Kartini mahasiswi Undip Semarang secara berurutan melantunkan puisi Gus Mus Bila Senja, Malam dan Bukalah Pintumu.
Di susul kolaborasi pengusaha Muslich Ciki dan dokter Sigid Armunanto yang membawakan puisi Gus Mus yang bernafas spiritual, Kapan Kau Sempat membuat penonton tercenung hening.
Event Khusus
Namun tak lama, panggung kembali membara oleh hentakan performance art Baskoro ‘’Pop’’ yang membawakan puisi milik pengasuh Ponpes Raudlatut Thalibin Selamat Datang di Negeri Bokong dibalut dengan musik tekhno besutan penyanyi Islandia, Bjork. ‘’ Cobalah ikuti, bangsa bokong ini, dan para pemimpinnya berdzikir dan bergoyang. Dan rasakan! Bokong, bokong, bokong, bokong, bokong,’’ lengking Pop memecah keheningan malam.
Tak kurang 15 penampil dari lintas umur dan profesi bergantian mengisi panggung teplok yang ala kadarnya itu. Tujuannya hanya satu, mengapresiasi puisi-puisi karya Gus Mus.
‘’Gus Mus adalah seniman besar asli Rembang. Namun seingat kami, belum pernah ada event khusus untuk mengapresiasi karya Gus Mus yang sangat banyak itu. Karenanya kemudian kami berpikir untuk membuat panggung khusus untuk karya puisi Gus Mus,’’ kata Alif Zam Billah, koordinator acara.
Zam, sapaan akrabnya, mengaku mendapatkan para penampil dan penonton hanya dari gethok tular dan jejaring sosial. Dia mengatakan tak menyangka dengan antusiasme kawan-kawan lintas profesi dan usia yang datang ke acara sederhana di pelataran bekas Stasiun Rembang itu. ‘’Mereka datang dari berbagai daerah di Rembang. Bahkan ada yang dari Semarang menyempatkan diri untuk hadir di acara ini. Ini menunjukkan karya Gus Mus begitu luas diterima khalayak,’’ terang dia.
Pentas malam itu semestinya usai setelah performance art kolaborasi pembacaan puisi Alif Zam Billah berbarengan dengan atraksi melukis A. Chamim, penggiat Sanggar Gentong Miring Sluke. Namun penonton belum juga meninggalkan panggung. Akhirnya pentas itu baru bisa dipungkasi setelah Baskoro ‘’Pop’’ tampil kembali membawakan puisi karya Alif Zam Billah yang dibuat khusus untuk Wakil Rais Am Syuriah PB NU, Kerinduanku Ya Mustofa. (Mulyanto Ari Wibowo)


0 comments:
Posting Komentar